Kemenangan lomba hanya berarti kalau diraih dengan jujur. Kisah ini membuktikannya: dua peserta lomba merpati balap di China, Gong dan Zhang, harus menelan malu setelah trik mereka ketahuan. Burung balap yang mereka jagokan ternyata tidak benar-benar menempuh jalur balapan, melainkan "diantar" naik kereta peluru.

Lomba yang diikuti keduanya adalah perlombaan tahunan di Shanghai. Burung mereka dilepas dari titik start di kota Shangqiu, Provinsi Henan, menuju garis finish di Shanghai dengan jarak sekitar 750 kilometer. Ajang serupa memang bukan hal baru di Naga Bambu — kisahnya pernah dirangkum dalam artikel Sejarah Balap Burung Merpati di China dengan Hadiah Miliaran.

Modus: burung dilatih bukan ke garis finish

Rencana kecurangan sudah disiapkan jauh hari, kira-kira satu tahun sebelum lomba digelar. Selama periode itu, Gong dan Zhang melatih burungnya secara rutin terbang menuju dua lokasi pakan: satu tidak jauh dari titik start, satu lagi di dekat titik finish. Burung dilatih mengenali kedua tempat itu, bukan mengarah ke garis finish.

Akibatnya, begitu dilepas dari start, burung mereka tidak melanjutkan penerbangan ke Shanghai. Burung justru mendarat di lokasi pakan yang sudah dihafalnya, tempat kedua pelaku sudah menunggu.

Diarahkan naik kereta peluru

Di titik pakan itulah burung ditangkap kembali, dimasukkan ke dalam kotak susu, lalu dibawa naik kereta peluru Fuxing menuju Shanghai. Kereta tersebut pernah tercatat sebagai yang tercepat di dunia pada 2017 dengan kecepatan hingga 400 km per jam.

Sesampainya di Shanghai, burung kembali diterbangkan untuk menyelesaikan sisa jarak menuju finish — dan keluar sebagai pemenang. Dengan bantuan kereta, perjalanan 750 kilometer itu selesai jauh lebih singkat dibanding burung peserta lain yang terbang sungguhan.

Kecepatan burung vs kereta peluru

Merpati balap memang tergolong burung cepat. Seekor merpati balap bisa menempuh perjalanan jauh dengan kecepatan sekitar 150 km per jam, dengan batas maksimal mencapai 160 km per jam. Angka itu tentu tidak sebanding dengan kereta peluru yang melaju hingga 400 km per jam.

Perbandingan waktu itulah yang akhirnya mencurigakan. Kalau burung milik peserta lain butuh sekitar 5 jam untuk tiba, burung milik Gong dan Zhang selesai dalam waktu kurang dari 2 jam. Selisihnya terlalu janggal untuk sebuah penerbangan normal.

Kemenangan batal, pelaku diadili

Catatan waktu yang terlalu cepat membuat panitia dan peserta lain curiga. Setelah kecurangan ini terungkap ke publik, panitia membatalkan kemenangan keduanya. Sebelumnya, burung buatan Gong dan Zhang sempat menempati empat posisi pertama dan mengantongi hadiah total lebih dari 1 juta yuan, atau sekitar Rp 2,1 miliar.

Untuk menghilangkan bukti, keduanya justru memburu burung balap mereka sendiri, sementara uang hadiah dikembalikan ke panitia lomba. Kasus ini lalu dibawa ke pengadilan seperti diberitakan Xinhuanet pada 28 Agustus 2018.

Pengadilan Shanghai menjatuhkan vonis 3 tahun penjara kepada keduanya, plus denda 30.000 yuan (sekitar Rp 65 juta) untuk Gong dan 20.000 yuan (sekitar Rp 43 juta) untuk Zhang. Karena uang hadiah sudah dikembalikan, hukuman penjara ditangguhkan sepanjang keduanya tidak mengulangi kejahatan serupa.

Pelajaran bagi penggemar merpati balap

Kisah ini mengingatkan bahwa prestasi burung harus dibuktikan lewat latihan dan perawatan yang benar, bukan lewat jalan pintas. Untuk menilai burung balap yang benar-benar berkualitas, bisa mulai dari membaca 12 Ciri Merpati Balap yang Bagus dan Selalu Juara. Dunia balap memang penuh gengsi — tak heran harganya bisa fantastis, seperti yang terlihat pada kisah penghobi merpati asal Cina yang borong burung miliaran rupiah di Eropa.

Pertanyaannya, pernahkah kecurangan serupa terjadi di lomba merpati balap Indonesia? Ceritakan pendapatmu di kolom komentar.

Sumber: burungnya.com (dikutip ulang dari Xinhuanet, 28/8/2018)