Avian influenza atau yang lebih dikenal dengan istilah flu burung masih menjadi perhatian serius bagi para pemelihara merpati di seluruh dunia. Kabar terbaru dari Inggris menunjukkan bahwa pemerintah telah mengangkat zona pencegahan avian influenza yang sempat diterapkan sejak tahun lalu, namun biosecurity tetap menjadi kunci utama perlindungan burung.
Pencabutan Zona Pencegahan Avian Influenza
Pada Juni 2026, Badan Kesehatan Hewan dan Tumbuhan Inggris (APHA) mengumumkan bahwa zona pencegahan avian influenza telah resmi dicabut di Inggris, Skotlandia, dan Wales. Pencabutan ini diikuti dengan diangkatnya kewajiban pemeliharaan burung di dalam kandang (housing measures) di Inggris dan Wales, yang berarti burung unggas dan burung peliharaan lainnya kini boleh dipelihara di luar ruangan.
Namun, perlu dicatat bahwa langkah ini tidak berarti ancaman flu burung telah sepenuhnya berlalu. Pemerintah tetap menekankan pentingnya biosecurity ketat untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan burung-burung peliharaan. Zona pencegahan avian influenza dengan langkah-langkah biosecurity wajib masih berlalu hingga risiko burung liar turun lebih jauh.
Apa Artinya untuk Pemelihara Merpati?
Bagi para pemelihara merpati balap dan merpati hias di Indonesia, meskipun regulasi ini diterapkan di Inggris, prinsip biosecurity yang sama sangat relevan diterapkan. Berikut beberapa langkah penting yang bisa diambil:
- Pantau kesehatan burung secara rutin — perhatikan tanda-tanda seperti penurunan nafsu makan, lesu, atau perubahan warna kotoran yang bisa mengindikasikan infeksi.
- Jaga kebersihan kandang — desinfeksi berkala terutama setelah sesi latihan atau balapan, dan pastikan ventilasi kandang memadai.
- Batasi kontak dengan burung liar — hindari pemberian pakan di area terbuka yang bisa diakses burung liar, terutama di sekitar kolam atau sumber air.
- Daftarkan unggas peliharaan — di beberapa daerah, pendaftaran unggas peliharaan sudah menjadi kewajiban untuk memudahkan pemantauan epidemi.
Deteksi Dini dan Pelaporan
Salah satu aspek terpenting dari pengendalian flu burung adalah kemampuan untuk mendeteksi kasus sejak dini. Pemelihara merpati harus waspada terhadap gejala-gejala berikut:
- Penurunan produksi telur yang drastis
- Bengkak pada kepala atau area sekitar mata
- Sesak napas atau batuk
- Diare berwarna hijau
- Kematian mendadak pada beberapa burung dalam waktu singkat
Jika menemukan gejala-gejala tersebut, segera hubungi dokter hewan terdekat dan laporkan ke dinas peternakan setempat. Jangan mencoba mengobati sendiri karena flu burung dapat menular dengan sangat cepat.
Kolaborasi Global untuk Pengendalian Flu Burung
Pencabutan zona pencegahan di Inggris menunjukkan bahwa dengan langkah-langkah biosecurity yang tepat, ancaman flu burung bisa dikelola. Kolaborasi antara pemelihara, otoritas veteriner, dan organisasi seperti RPRA (Royal Pigeon Racing Association) menjadi contoh bagaimana komunitas bisa bekerja sama melindungi burung peliharaan mereka.
Di Indonesia, organisasi serupa seperti MerpatiID terus mengedukasi para pemelihara tentang pentingnya kesehatan burung dan praktik pemeliharaan yang baik. Dengan kesadaran kolektif dan ketaatan terhadap protokol biosecurity, komunitas merpati Indonesia dapat terus berkembang sambil menjaga kesehatan anggota flock mereka.
Sumber: RPRA Bird Flu Updates & RPRA Racing in High Temperatures
Foto: Royal Pigeon Racing Association (rpra.org)
Komentar