Satu musim, 22 kali juara 1. Itulah catatan yang ditorehkan Gert De Swaef, penghobi merpati asal Hofstade, Belgia, sepanjang musim balap 2026 di kawasan Land van Aalst. Rekor ini semakin istimewa karena sang anak, Niels, mencatat angka serupa: 22 juara 1 di kelas burung janda (widowers) untuk wilayah Wanzele. Prestasi mereka kini menjadi buah bibir di komunitas merpati pos Eropa setelah PIPA merilis laporan loft-nya pada 29 Oktober 2026.

Spesialis Jarak Pendek Noyon 172 Kilometer

Gert De Swaef bukan nama baru di balap merpati sprint. Pria berusia 53 tahun ini sehari-hari bekerja sebagai tukang las dan fitter di galangan kapal Jan De Nul selama 35 tahun, tetapi fokus utamanya di dunia burung adalah balap jarak pendek, khususnya rute Noyon sejauh 172 kilometer. Di rute inilah ia nyaris tak terkalahkan: 22 juara 1 diraih pada 2026 dengan tim betinanya.

Sementara itu, Niels De Swaef menorehkan catatan serupa dengan tim jandanya di Wanzele. Anak muda itu juga mengemas 22 juara 1, sedangkan burung-burung mudanya yang mulai dilombakan sejak 12 Juli 2026 berhasil merebut 4 juara 1 dari seri Quievrain (lima kali), Noyon (tiga kali), dan Momignies (lima kali). Satu keluarga, dua tim, dan angka juara yang sama-sama mencengangkan.

Burung-burung Bintang di Balik Rekor

Data hasil balap mereka diakses lewat Pas Club, menunjukkan deretan merpati kelas atas. Bontje Kittel (BE24-4041060), betina biru-putih yang tampil konsisten tiap pekan di Noyon, mencatat rekor seperti 1 dari 296 ekor, 2 dari 174, hingga 6 dari 4.057 ekor. Ia keturunan Cracksken 129 yang pernah tiga kali juara 1 Noyon, sambil garis keturunan menuju Kittel legendaris milik Dirk van den Bulck. Kandidat lain adalah Donker Stieveken (BE24-41044), burung sprint yang pernah menempati posisi 26 World Best Pigeon Sprint Belgium 2024 dengan catatan 4 kali juara 1 dan 2 kali juara 2.

Menariknya, ambisi keluarga De Swaef harus berhenti di musim 2027. Gert memutuskan pensiun dari balap setelah sang ibu — penyokong terbesarnya — meninggal dunia pada musim panas ini. Rumah beserta seluruh kandangnya akan dijual, dan estafet dilanjutkan oleh Niels. "Tahun depan kami akan melihat bagaimana kelanjutannya," tulis PIPA.

Kisah De Swaef menegaskan bahwa balap merpati pos (homing racing pigeon) di Eropa dimenangkan oleh keseriusan breeding dan pemilihan rute, bukan sekadar keberuntungan. Data hasil seperti ini juga menjadi acuan standar prestasi yang bisa dibaca penghobi merpati pos di Indonesia saat mengevaluasi kualitas burungnya sendiri.