Merpati tinggian merupakan salah satu tradisi olahraga burung yang sudah mengakar kuat di masyarakat Indonesia, terutama di kawasan Jawa Timur. Permainan ini melatih merpati untuk terbang tinggi di atas kandang dan kembali saat diberi tanda oleh pemiliknya.
Sejarah Awal Permainan Merpati di Nusantara
Banyak pecinta merpati meyakini bahwa tradisi merpati tinggian pertama kali berkembang di wilayah Madura, Jawa Timur, sekitar lebih dari satu abad lalu. Wilayah ini dikenal sebagai pusat perkembangan budaya merpati tinggian yang kemudian menyebar ke berbagai daerah di Indonesia.
Namun, apakah permainan ini murni kreasi masyarakat Madura atau merupakan adaptasi dari tradisi serupa dari bangsa lain? Pertanyaan ini menarik untuk ditelusuri mengingat merpati bukan hewan endemik Indonesia. Merpati domestik (Columba livia domestica) diperkirakan pertama kali dibawa masuk ke Nusantara oleh pedagang atau pelancong dari luar negeri.
Pengaruh Tradisi Diving Pigeon dari Timur Tengah
Dalam dunia peternakan merpati global, terdapat kategori yang disebut performance pigeon atau merpati yang dinikmati dari segi kemampuan terbangnya. Salah satu jenis yang menarik perhatian adalah kelompok diving breed, yaitu merpati yang terkenal karena kemampuan menurunkan diri (diving) dari ketinggian dengan kecepatan luar biasa.
Beberapa strain terkenal dalam kategori ini antara lain Dewlaps, Doneks, Wutas, dan Kelebeks. Nama-nama ini berasal dari kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, termasuk Turki dan Iran, yang menunjukkan bahwa tradisi permainan merpati diving sudah berlangsung ratusan tahun di kawasan tersebut.
Permainan diving pigeon di Timur Tengah memiliki kemiripan dengan merpati tinggian Indonesia. Perbedaan utamanya adalah pada metode pelatihan. Pada tradisi diving, merpati tidak digiring, melainkan dilatih terbang bebas sejak usia sekitar tujuh minggu bersama burung dewasa.
Metode Pelatihan Tradisional
Pelatihan dimulai dengan membiasakan burung makan di lokasi tertentu dekat kandang. Setiap waktu makan, pemilik memberikan tanda berupa bunyi peluit atau kocokan jagung dalam kaleng. Bersamaan dengan itu, pemilik mengelepek menggunakan kain berwarna putih atau kaos terang sebagai sinyal visual.
Pola ini diulang secara konsisten hingga burung benar-benar hafal dengan tanda-tanda tersebut. Klepekan pada tradisi ini berfungsi sebagai penanda waktu makan, bukan sebagai sinyal giring seperti pada merpati tinggian konvensional.
Setelah terbiasa, burung dilatih lawatan dalam kelompok kecil, biasanya dua atau tiga ekor. Burung akan berputar-putar di atas kandang dengan radius sekitar 200 meter. Saat mencapai ketinggian tertentu, pemilik mengelepek dengan kain berwarna terang. Sebagai respons, burung akan menukik vertikal dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara deru saat meluncur menembus udara.
Highflier dan Kontribusinya
Selain diving breed, terdapat juga jenis highflier yang dikenal memiliki kemampuan terbang sangat tinggi dan mampu bertahan berjam-jam di udara. Beberapa strain tertentu bahkan dilaporkan bisa terbang hingga 12 jam non-stop tanpa henti. Meskipun demikian, mayoritas pengamat menilai bahwa pengaruh utama terhadap perkembangan merpati tinggian Indonesia lebih banyak berasal dari tradisi diving pigeon.
Kombinasi antara pengaruh Timur Tengah dan kreativitas masyarakat lokal menciptakan tradisi merpati tinggian yang unik dan berbeda dari versi aslinya. Hingga kini, permainan ini tetap menjadi bagian penting dari budaya peternakan merpati di berbagai daerah Indonesia.
Komentar