Merpati yang makannya rakus tapi badannya makin lama makin kurus jelas bukan tanda baik. Burung terlihat lesu, bulu kusam, dan performa giring menurun — gejala seperti ini paling sering bermula dari satu masalah yang sering diremehkan: cacingan atau helminthiasis. Penyakit ini tidak serta-merta membuat burung jatuh sakit, tapi sari-sari pakan yang seharusnya jadi tenaga justru diserap oleh cacing di dalam saluran cerna.

Sebenarnya cacingan bukan hal aneh. Iklim tropis seperti di kita membuat telur dan larva cacing mudah berkembang, bahkan bisa terbawa angin dan menempel di pakan atau alas kandang. Hampir setiap merpati membawa cacing dalam jumlah kecil tanpa mengganggu, tetapi begitu populasinya melewati ambang wajar, dampaknya langsung terasa: pertumbuhan terhambat, tenaga kurang saat terbang, giring tidak maksimal, dan indukan telurnya terlambat. Jenis cacingnya juga bermacam-macam — cacing gelang, cacing pita, dan lainnya — jadi pengobatan tidak boleh asal-asalan.

Langkah Pengobatan Cacingan

Pengobatan cacingan punya tekniknya sendiri supaya hasilnya maksimal dan cacing tidak tumbuh lagi. Yang pertama, pastikan burung dalam kondisi perut kosong: berikan obat cacing sebelum pakan, idealnya sekitar jam 9–10 pagi. Obat untuk manusia dengan kandungan pirantel pamoat terbukti ampuh membasmi cacing pada merpati; satu tablet bisa dibagi menjadi 8 porsi, dan untuk burung bertubuh besar boleh diberi dua porsi sekaligus. Setelah obat masuk, tahan pakan sampai sore — pada siang hari cacing biasanya sudah keluar lewat kotoran atau muntahan burung.

Satu yang perlu diingat: pengobatan pertama belum menuntaskan semuanya. Obat tadi hanya membunuh cacing dewasa, sementara telur dan larvanya masih bertahan di dalam tubuh dan menetas sekitar satu minggu kemudian. Karena itu ulangi langkah yang sama tujuh hari setelah pengobatan pertama, lagi-lagi dengan memberi obat sebelum makan. Setelah dua tahap itu barulah pengobatan bisa dibilang cukup. Secara rutin, pemeriksaan dan pemberian obat cacing sebaiknya dilakukan kira-kira tiap tiga bulan sekali.

Cegah Sebelum Kambuh Lagi

Merpati yang diumbar lebih rawan cacingan karena langsung kontak dengan tanah tempat telur cacing bersarang. Kuncinya ada di kebersihan: rutin ganti alas dan pakan, jangan biarkan makanan tercampur tanah, dan amati kondisi burung secara berkala. Kalau badan merpati mulai terlihat kurus meski nafsu makan bagus, segera cek — bisa jadi itu tanda awal cacingan atau masalah kesehatan lain seperti burung nyilet. Untuk gambaran penyakit yang lebih luas, baca juga cara mengobati 10 jenis penyakit merpati dan mengenal penyakit pada merpati beserta cara mengatasinya. Sedangkan untuk menjaga daya tahan tubuh burung, manfaat probiotik bisa jadi pelengkap program perawatan harian.

Ingat, cacing memang sulit dihindari sepenuhnya — yang penting adalah menjaga jumlahnya tetap terkendali supaya nutrisi dari pakan benar-benar sampai ke burung, bukan ke penghuni tak diundang di dalam perutnya.

Sumber: hewanpeliharaan.org