Merpati merupakan salah satu burung yang paling familiar di jalanan kota-kota besar dunia. Kehadiran mereka sering kali disambut dengan tatapan sinis karena satu alasan utama: kotoran. Di kota metropolitan seperti London, populasi merpati liar yang sangat besar menjadikan masalah kebersihan jalan sebagai tantangan tersendiri bagi pemerintah kota.

Namun, dua seniman asal London menawarkan solusi kreatif yang tidak biasa. Revital Cohen dan Tuur Van Balen, pasangan seniman yang berbasis di London, menciptakan proyek seni bernama "Pigeon d'Or" pada tahun 2011. Proyek ini bukan sekadar karya seni konvensional, melainkan sebuah eksplorasi bagaimana ilmu pengetahuan dan desain bisa mengubah pandangan masyarakat terhadap hewan yang sering dianggap sebagai hama kota.

Bagaimana Konsep Pigeon d'Or Bekerja

Inti dari proyek ini adalah rekayasa bakteri yang dirancang khusus untuk mengubah metabolisme merpati. Cohen dan Van Balen mengembangkan konsep bakteri yang dapat dimasukkan ke dalam pakan merpati. Bakteri ini kemudian bekerja di dalam sistem pencernaan burung, mengubah komposisi kotoran mereka menjadi bahan yang dapat digunakan untuk pembuatan sabun.

Konsep ini terinspirasi dari teknik fermentasi yang sudah dikenal luas dalam dunia mikrobiologi. Dalam proses fermentasi, bakteri tertentu dapat mengurai senyawa organik menjadi produk baru yang memiliki nilai guna. Dalam kasus Pigeon d'Or, bakteri yang dirancang khusus ini bekerja untuk mengubah nitrogen dan senyawa organik lain dalam kotoran merpati menjadi asam lemak yang merupakan bahan dasar pembuatan sabun.

Mengapa London Menjadi Lokasi Proyek

London memiliki populasi merpati liar yang diperkirakan mencapai ratusan ribu ekor. Kotoran merpati yang menumpuk di jalanan, gedung-gedung bersejarah, dan monumen menjadi masalah kebersihan yang serius. Pemerintah kota harus mengeluarkan dana besar untuk pembersihan secara berkala. Selain itu, kotoran merpati juga diketahui dapat merusak batu dan logam pada bangunan bersejarah karena kandungan asamnya yang cukup tinggi.

Proyek Pigeon d'Or menawarkan pendekatan yang berbeda dari solusi konvensional seperti pengurangan populasi atau pemasangan jaring. Alih-alih memusnahkan merpati, proyek ini berusaha mengubah peran mereka dari "pengganggu" menjadi "penghasil bahan bermanfaat." Ide ini sejalan dengan tren desain berkelanjutan yang semakin populer di kalangan desainer dan seniman kontemporer.

Dampak dan Pengakuan Internasional

Pigeon d'Or mendapat pengakuan internasional dan memenangkan Penghargaan Kehormatan (Award of Distinction) di Prix Ars Electronica, salah satu festival seni digital paling bergengsi di dunia. Komite Seni Kontemporer KU Leuven, universitas ternama di Belgia, bahkan mengakuisisi tiga foto hasil karya ini untuk koleksi mereka.

Pengakuan ini menunjukkan bahwa proyek seni yang menggabungkan sains, desain, dan isu sosial dapat menjadi media yang efektif untuk mengubah persepsi masyarakat. Melalui Pigeon d'Or, Cohen dan Van Balen berhasil membuktikan bahwa masalah kota yang sepele sekalipun dapat menjadi inspirasi untuk solusi inovatif.

Meskipun proyek ini lebih merupakan karya seni konseptual daripada solusi komersial yang sudah diterapkan secara massal, Pigeon d'Or tetap menjadi contoh menarik tentang bagaimana pemikiran kreatif dapat menjembatani kesenjangan antara masalah lingkungan dan solusi berbasis sains. Bagi para penggemar merpati, proyek ini juga menjadi pengingat bahwa burung-burung ini memiliki potensi yang lebih dari sekadar hiasan jalanan kota.

Sumber: KU Leuven Committee for Contemporary Art (2011), Prix Ars Electronica