Musim 2026 menjadi titik balik bagi Francis Vangeenberghe, peternak merpati pos berusia 54 tahun asal Ardooie, Flanders Barat, Belgia. Sepanjang tahun ia mengumpulkan 21 juara pertama, lengkap dengan kemenangan di level provinsi dan sejumlah posisi papan atas nasional. Prestasi itu bukan hasil kebetulan: di baliknya ada rangkaian pembelian merpati pos bergalur elite yang ia lakukan lewat lelang PIPA.

Siapa Francis Vangeenberghe

Vangeenberghe bukan nama baru di kalangan penggemar homing racing pigeon — disiplin merpati pos balap yang menilai kecepatan rata-rata burung kembali ke lofter dari titik pelepasaan berjarak ratusan kilometer. Dengan 21 juara pertama dalam satu musim, 2026 disebut sebagai tahun terobosan besarnya. Lomba yang ia ikuti membentang dari kelas sprint, short middle-distance, long middle-distance, hingga long-distance untuk kelas yearling.

Yang membuat catatannya menarik: ia tidak memulai dari koloni besar warisan keluarga, melainkan dari strategi membeli indukan dan bibit berpedigree kuat, lalu mengujinya di lintasan lomba.

Blue Best Kittel, bintang utama dari lelang

Nama yang paling sering disebut di lofter Vangeenberghe adalah Blue Best Kittel, merpati yang ia dapatkan dari penjualan PIPA Breeding. Burung ini tercatat sebagai Juara 1 sekaligus Juara 4 Nasional Ace Pigeon KBDB kelas Sprint — capaian yang di Belgia hanya bisa diraih burung dengan konsistensi luar biasa sepanjang musim.

Selain Blue Best Kittel, ada tiga ekor pejantan anak dari Gold Dust, saudara super dari Kittel milik Van Den Bulck, yang ikut menyumbang prestasi. Vangeenberghe memang dikenal sering membeli burung berpedigree lewat PIPA, dan kini loftnya menyimpan darah dua nama besar Belgia: Van Den Bulck serta Dehon-Demonseau.

BK III x Gold Dust dan Fine Gold

Salah satu pejantan andalannya adalah BE22-4041320, jantan merah berkepala putih hasil pasangan Best Kittel II x Gold Dust. Burung ini tercatat sebagai ayah dari enam finisher sepuluh besar. Para pengamat menyebutnya sebagai merpati kelas permata karena kualitas keturunannya yang merata.

Pejantan fondasi lain, Fine Gold (NL20-1254600), membuktikan nilai breeding-nya lewat beberapa keturunan. Seekor yearling 2025 misalnya mencatat Juara 1 Argenton dari 373 burung dan posisi 10 dari 623 burung di Châteauroux. Cucu Fine Gold yang dijuluki De Limoges bahkan menembus level nasional: Juara 1 Limoges dari 313 burung, Juara 1 provinsi dari 1.813 burung, dan posisi 40 dari 9.091 burung tingkat nasional, lalu Juara 1 Périgueux.

Deretan gelar kejuaraan 2026

  • Juara 4 provinsi Ace Pigeon KBDB kelas Long-Distance yearling
  • Juara 3 champion Sprint Ardooie
  • Juara 3 champion Sprint overall Ardooie
  • Juara 3 champion Short Middle-Distance Oostnieuwkerke
  • Juara 1 champion Late Season races
  • Juara 1 champion Long Middle-Distance Kortemark

Pelajaran untuk penghobi di Indonesia

Kisah Vangeenberghe memperlihatkan satu hal yang sering diabaikan: kualitas indukan menentukan kualitas anak, dan hasilnya baru kelihatan setelah diuji di lintasan. Ia tidak menilai burung dari penampilan saja, tetapi dari rekam jejak lomba dan kemampuan menurunkan prestasi ke generasi berikutnya.

Perlu dicatat, homing racing di Eropa berbeda disiplin dengan merpati balap sprint model Indonesia yang memakai betina geberan maupun dengan merpati tinggian. Yang dinilai di homing race adalah kecepatan rata-rata burung kembali ke lofter dari jarak jauh, mirip prinsip lomba merpati pos di Tanah Air. Cara menghitung kecepatan dan ETA-nya bisa dipelajari di artikel Menghitung ETA pada Merpati Pos.

Bagi yang ingin menekuni jalur ini, memperhatikan silsilah dan kualitas keturunan lebih penting daripada mengejar burung dengan harga termahal. Contoh lain soal nilai galur bisa dibaca di artikel Norbert & Stefan Ally dan galur Angouleme Vooruit, sementara perkembangan burung juara yang masuk kandang breeding dibahas di Vale 6 resmi masuk kandang breeding PIPA.

Sumber: PIPA — Francis Vangeenberghe (Ardooie, BE): provincial victories and national top placings, 21 Oktober 2026.