Kisah Rasyad, pemuda asal Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menunjukkan sisi lain dari hobi merpati balap. Pria berusia 20 tahun itu awalnya hanya ikut menonton adu kontes merpati di tepian sawah bersama ayahnya. Melihat keseruan warga kampung tiap lomba, ia lalu tergerak untuk memelihara merpati sendiri dan mencoba turun langsung di berbagai ajang perlombaan.

"Aku mulai tergiur buat ikutan lomba karena sekalinya juara hadiahnya bisa berjuta-juta," kata Rasyad saat diwawancarai Mojok.co, Jumat 30 Oktober 2026.

Dari SMP Sudah Kumpulkan Cuan dari Lomba

Bakat Rasyad mulai terlihat sejak sekolah menengah pertama. Nama pemuda ini makin diperhitungkan saat SMA ketika ia menjadi salah satu peserta lomba adu balap merpati yang sulit dianggap remeh. Meski nominal hadiah tiap lomba tidak menentu, minimal satu juta rupiah bisa ia bawa pulang setiap kali berhasil masuk juara.

Selama lebih dari satu dekade bergelut di dunia balap merpati, hasil jerih payahnya terkumpul pelan-pelan. Sebagian uang dari lomba bahkan ia pakai untuk membiayai kuliah. Selain cuan, lomba juga mempertemukan ia dengan banyak penghobi dari daerah lain, memperluas jejaring sampai akhirnya membuka peluang usaha baru.

Jagoan Bernama Cornetto

Selama ini Rasyad punya andalan bernama Cornetto, merpati jantan yang prestasinya sudah terukir sampai keluar kota. Ke mana pun Cornetto dibawa, burung itu konsisten menorehkan juara. Berkat kemenangan-kemenangan itu, tiga motor impian akhirnya bisa dibeli: Honda Megapro, Yamaha Scorpio, dan Yamaha F1Z R.

Cornetto sendiri akhirnya pindah tangan setelah tampil gemilang dan menempati posisi keempat dalam sebuah kompetisi di Palembang. Seorang penghobi yang jatuh hati langsung membelinya. Selama merawat dan melatih Cornetto sejak kecil, burung itu sudah memberi Rasyad puluhan juta rupiah.

Reputasi Membuka Pintu Bisnis

Kini, seiring berkurangnya intensitas turun lomba karena fokus kuliah, Rasyad melebarkan sayap ke bisnis jual-beli merpati. Reputasinya sebagai juara membuat banyak penghobi tidak ragu membeli burung darinya. "Kalau reputasi sudah dikenal di kompetisi, orang nggak bakal ragu beli burung merpati di kita, karena percaya sentuhan kita bikin merpati jadi berkualitas," ujarnya.

Pengalaman pahit pun pernah ia rasakan. Sekali ia membeli merpati dengan harga mahal untuk dibiakkan, tapi setelah dirawat dengan penuh usaha, burung itu ternyata tidak menghasilkan keturunan yang bagus. Risiko untung-rugi seperti ini memang melekat pada setiap usaha ternak dan jual-beli burung.

Kisah Rasyad menjadi satu dari banyak bukti bahwa hobi merpati di Indonesia bisa menjadi sumber penghasilan nyata, terutama bagi generasi muda yang tekun merawat, melatih, dan menjaga reputasi. Lintasan balap merpati di berbagai daerah terus ramai, seiring menjamurnya lomba berhadiah besar yang mempertemukan peternak, joki, dan penggemar. Baca juga tentang event balap merpati nasional di Sidoarjo dengan hadiah utama Honda Brio serta deretan artikel lain di label merpati balap dan merpati balap sprint.

Sumber: Mojok.co — "Hobi Balap Merpati Jadi Sumber Cuan: Menang Lomba Beli Motor" (https://mojok.co/liputan/harian/hobi-adu-balap-merpati-jadi-jalan-rezeki-warga-kabupaten/)