Berak kapur bukan penyakit yang bisa disepelekan. Bagi para penghobi merpati, kotoran berwarna putih seperti kapur yang menempel di sekitar anus kerap dianggap gangguan sepele yang akan sembuh sendiri. Kenyataannya, bila tidak segera ditangani, penyakit ini bisa membuat merpati sekarat dalam beberapa hari. Yang membuatnya makin menakutkan, berak kapur bersifat menular dan bisa menjalar ke burung-burung sehat di kandang yang sama.
Penyakit berak kapur dikenal juga dengan nama salmonellosis atau pullorum. Penyebabnya adalah bakteri Salmonella pullorum yang menyerang saluran pencernaan burung. Sebagian besar jenis unggas rentan, termasuk merpati, dan penularannya terjadi sangat cepat di lingkungan kandang yang lembap atau kurang terawat.
Gejala Berak Kapur pada Merpati
Tanda paling khas memang terlihat dari kotoran burung. Kotoran menjadi cair dan berwarna putih pekat menyerupai kapur, seringkali menempel pada bulu di sekitar anus. Selain itu, nafsu makan merpati menurun drastis, muka terlihat pucat, bulu tampak berantakan, dan sayap menggantung. Pada stadium lanjut, burung kesulitan membuang kotoran dan mulai tampak lemas.
Pola musim turut berperan. Banyak penghobi melaporkan bahwa berak kapur sering muncul saat pergantian musim, misalnya dari hujan ke panas atau sebaliknya. Cuaca yang tidak menentu melemahkan daya tahan tubuh burung dan membuka jalan bagi bakteri untuk berkembang. Karena itu, perawat perlu ekstra waspada pada periode transisi seperti ini.
Pencegahan: Jaga Kandang, Pakan, dan Air
Pencegahan berak kapur sebenarnya sederhana dan bertumpu pada kebersihan. Kandang dibersihkan setiap hari dari kotoran burung, lalu dicuci dengan desinfektan atau antiseptik. Tempat pakan dan minum dibersihkan minimal dua hari sekali, sisa makanan dibuang agar tidak berjamur. Untuk air minum, ganti setiap hari dengan air bersih yang sudah direbus atau matang.
Langkah paling penting adalah karantina. Begitu ada satu burung yang terinfeksi, segera pisahkan dari merpati lain agar penularan tidak berlanjut. Kandang karantina sebaiknya diletakkan di tempat yang hangat dan tidak kena terpaan angin langsung. Bila memungkinkan, pasang lampu penghangat pada sangkar karantina, namun tutup lampunya dengan kardus atau bahan lain agar burung tidak silau dan tetap nyaman beristirahat.
Pengobatan yang Tepat
Merpati yang sudah terinfeksi perlu mendapat antibiotik secara intensif sesuai petunjuk. Penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan karena dosis yang salah justru berakibat fatal bagi burung. Ada beberapa jenis antibiotik di pasaran yang diklaim ampuh mengatasi berak kapur, namun sebagian di antaranya bersifat spektrum luas alias untuk segala macam penyakit. Jika penyebabnya sudah pasti berak kapur, lebih baik berikan antibiotik khusus untuk saluran pencernaan.
Selama pengobatan, lengkapi juga asupan vitamin dan mineral untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh burung. Pastikan burung mendapat istirahat cukup di kandang yang hangat dan tenang. Untuk penyakit lain yang sering menyerang merpati secara bersamaan, Anda bisa membaca cara mengobati merpati telo sampai tuntas, penanganan pilek atau CRD pada merpati, serta gejala dan pencegahan penyakit tetelo. Ketiganya kerap muncul bersamaan dengan gangguan pencernaan.
Kuncinya tetap pada pencegahan. Kandang bersih, pakan dan air sehat, serta karantina yang cepat adalah pertahanan terbaik melawan berak kapur. Jangan tunggu burung mulai sekarat — segera tangani begitu gejala pertama muncul.
Sumber: omkicau.com
Komentar