Final Golden Algarve Race 2026 di Portugal baru saja menuntaskan satu musim penuh drama. Ribuan merpati pos yang dibesarkan di satu kandang yang sama dilepas bersamaan dari Amarante pada 3 Oktober 2026 pagi, menempuh jarak 471 kilometer kembali ke kandang di Monte Gordo, Algarve. Dari 1.817 merpati yang ikut, hanya 778 ekor yang berhasil sampai, dan gelar juara jatuh ke tangan merpati asal Jerman milik Siebert-Ullrichs-Fuchs-B dengan kecepatan 1.121,4392 meter per menit.
Titik lepas dipindah karena cuaca
Panitia sebenarnya menyiapkan Bragança sebagai titik lepas final. Namun cuaca buruk di kawasan itu memaksa tim mengalihkan truk pengangkut merpati ke tengah negara, ke Amarante, agar pelepasan tetap bisa dilakukan tepat waktu. Keputusan ini membuat jarak final menjadi 471 km, bukan rute awal yang lebih jauh. Pelepasan dilakukan pukul 08.15 waktu setempat, dan merpati tercepat mendarat sekitar pukul 15.14, menembus rata-rata di atas 1.100 m/min untuk jarak itu.
Podium dipisah puluhan detik
Persaingan di puncak sangat ketat. Merpati juara mendarat pukul 15.14.33, disusul wakil Rumania hanya 36 detik kemudian. Selisih kecepatan antara peringkat satu dan dua bahkan tidak sampai dua meter per menit. Pola ini lazim terjadi pada lomba merpati pos, di mana burung terbang dalam kelompok dan peringkat ditentukan oleh waktu sampai yang dihitung sampai sepersepuluh detik.
- Juara 1: Siebert-Ullrichs-Fuchs-B (Jerman) - 1.121,4392 m/min
- Juara 2: Sandu Cazacu & Charly (Rumania) - 1.119,8075 m/min
- Juara 3: Dutch Reiderland Racers-C (Belanda) - 1.111,1255 m/min
Angka kecepatan itu bisa dibaca seperti yang dipakai dalam cara menghitung kecepatan merpati pos: jarak tempuh dibagi waktu terbang, lalu dinyatakan per menit. Pada lomba resmi, angka kecepatan itulah yang menentukan peringkat, bukan sekadar urutan mendarat.
Mengapa cuma 43 persen yang sampai?
Golden Algarve Race termasuk kategori One Loft Race atau lomba satu kandang. Semua merpati dari berbagai penjuru dunia dikumpulkan sejak dini di satu kandang panitia, dilatih bersama, lalu dilepas dari titik yang sama. Konsep ini menilai kualitas merpati secara murni: kemampuannya membaca medan, bertahan dari cuaca, dan menemukan jalan pulang tanpa tergantung asal-usul kandang. Naluri pulang merpati memang diuji langsung di sini.
Tingkat kesulitan musim ini terlihat sejak babak semifinal. Perlombaan yang dijadwalkan dilepas pada 25 September dari Monfortinho (318 km) berlangsung di suhu sangat tinggi. Saat melewati dataran Alentejo yang panas, merpati mendarat di sekitar danau dan waduk untuk minum, lalu bercampur dengan kawanan merpati liar yang berkeliaran di kawasan itu. Banyak yang tidak kembali tepat waktu, dan panitia bahkan harus memberi waktu pemulihan ekstra sebelum final digelar. Cuaca sulit itulah yang berujung pada data akhir: hanya 778 dari 1.817 merpati yang tercatat sampai di kandang.
Bagi penggemar merpati pos, hasil akhir ini mengingatkan bahwa lomba jarak jauh bukan cuma soal kecepatan murni, melainkan juga ketahanan dan keputusan merpati di lapangan. Ikuti terus kabar kompetisi merpati pos dunia lewat label merpati pos di MerpatiID.
Komentar