Hidung berair, napas ngorok, dan burung terlihat lemas — tiga gejala ini sering dianggap sepele, padahal bisa jadi tanda merpati terkena snot atau Infectious Coryza. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan bagian atas dan membuat hidung tersumbat, mirip pilek pada manusia. Kalau dibiarkan, merpati bisa kehilangan nafsu makan, kondisi tubuhnya drop, dan performa terbangnya jatuh jauh.
Gejala Snot pada Merpati
Snot umumnya tidak datang tiba-tiba. Ada rangkaian gejala yang muncul lebih dulu dan bisa dikenali kalau kita rajin mengamati burung setiap hari. Ciri-ciri yang paling sering dilaporkan antara lain:
- Hidung berair, kadang mengeluarkan lendir kental
- Napas berbunyi ngorok, terutama saat burung istirahat
- Mata berair atau kelopaknya bengkak
- Merpati lemas dan lebih banyak diam di sudut kandang
- Nafsu makan menurun, kadang disertai bulu yang mengembang
- Burung sering menggaruk hidung dengan kaki atau menggosokkan paruh ke sayap
Penyebab dan Faktor Pemicunya
Snot disebabkan bakteri yang menyerang saluran pernapasan. Bakteri ini lebih mudah masuk ketika daya tahan burung sedang turun, misalnya setelah perjalanan jauh, kehujanan, kandang lembap, atau ventilasi kandang yang buruk sehingga udara pengap dan berdebu. Kandang yang jarang dibersihkan dan air minum yang dipakai bersama-sama juga mempercepat penularan dari satu burung ke burung lain.
Cara Mengobati Snot pada Merpati
Ada dua jalur pengobatan yang biasa dipakai: ramuan alami dan obat kimia. Keduanya bisa dipilih sesuai kondisi burung dan ketersediaan bahan di rumah.
Resep Alami 1
- Tepung beras 150 gram
- Kencur 100 gram, ditumbuk halus
- Jahe 25 gram atau sekitar satu jari, diparut
Semua bahan digilas di lumpang sampai halus dan tercampur rata, lalu dibentuk menjadi pil kecil sebesar biji jagung dan dijemur hingga kering. Pil disuapkan dua kali sehari, pagi dan sore. Biasanya dalam 1–3 hari kondisi burung sudah membaik.
Resep Alami 2
Lima ibu jari rimpang jahe dicuci bersih, dimemarkan bersama kulitnya, lalu direbus dengan 1 liter air selama 15–20 menit. Setelah dingin dan disaring, tambahkan 5 sendok makan gula batu atau gula aren, kemudian campurkan ke 10 liter air minum. Larutan ini diberikan sebagai air minum harian, bisa juga disemprotkan lewat spet jika burung enggan minum.
Obat Kimia
Untuk kasus yang lebih berat, banyak peternak memakai obat khusus seperti AntiSnot atau Tetrachlor. Khusus Tetrachlor, berikan setengah dosis saja karena dosis penuh bisa membuat merpati muntah-muntah. Kalau dalam beberapa hari tidak ada perbaikan, sebaiknya konsultasikan ke dokter hewan atau penangkar berpengalaman.
Pencegahan Snot
Langkah pencegahan jauh lebih murah daripada mengobati. Beberapa kebiasaan yang perlu dijalankan konsisten:
- Pisahkan segera merpati yang menunjukkan gejala pilek dari kandang utama
- Bersihkan kandang dan lingkungan secara rutin, termasuk tempat pakan dan minum
- Pastikan kandang mendapat sinar matahari pagi yang cukup
- Jangan menggabungkan air minum burung sehat dengan burung sakit
- Jaga sirkulasi udara kandang agar tidak lembap dan pengap
Kalau Kondisi Sudah Parah
Pada kasus yang sudah parah dan tidak merespons pengobatan, merpati biasanya dipotong dan dagingnya masih aman dikonsumsi. Bangkai burung yang mati maupun sisa pemotongan harus dibakar atau dikubur, jangan dibuang sembarangan, supaya tidak menjadi sumber penularan baru.
Sebagai perbandingan, masalah kesehatan lain seperti patek, cacar, dan kutil juga sering muncul saat kondisi kandang tidak terjaga. Setelah burung sembuh, berikan masa pemulihan yang cukup — perhatikan pola mabung dan istirahat supaya kondisi bulu dan stamina kembali prima. Burung yang pulih dengan pemulihan yang benar akan kembali menunjukkan ciri merpati balap yang berkualitas saat kembali dilatih.
Komentar