Memilih merpati balap tidak boleh hanya mengandalkan feeling. Sebelum burung dilatih atau digiringkan, sebenarnya sudah banyak petunjuk fisik yang bisa dibaca langsung dari kandang: bentuk paruh, kepala, mata, dada, sayap, sampai kaki. Dari penilaian sederhana inilah calon juara biasanya mulai disaring para lofter, karena burung dengan badan proporsional jauh lebih efisien terbang dibanding burung yang hanya besar tanpa bentuk.
Berikut dua belas titik penilaian yang paling sering dipakai penangkar dan pelatih saat menyeleksi merpati balap berkualitas.
12 Ciri Merpati Balap yang Berkualitas
- Paruh. Paruh yang baik seimbang dengan ukuran kepala, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu panjang. Bentuknya menyerupai paruh burung pipit atau sedikit meruncing seperti elang, sehingga kepala tetap ringan saat burung menembus angin.
- Kepala. Bentuk ideal menyerupai pinang dibelah dua, dengan bagian depan yang mengerucut halus menuju paruh. Kepala yang terlalu bulat dan menonjol ala ikan louhan justru menambah gesekan udara dan memperlambat terbang.
- Mata. Mata yang sehat tampak bening dengan tatapan tajam. Warna yang umum disukai adalah kuning, putih berlis merah, sampai kuning kemerahan. Mata berkabut atau lesu biasanya menandakan burung sedang tidak fit.
- Leher. Panjang leher harus pas: tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Leher yang proporsional membuat burung mudah menyeimbangkan tubuh saat terbang kencang sekaligus tidak menambah hambatan udara.
- Dada. Dada merpati balap idealnya bidang dan berotot seperti olahragawan, dengan tulang dada yang kuat. Otot dada yang padat adalah sumber tenaga utama ayunan sayap.
- Sayap. Sayap tidak tipis dan mampu menutup rapat di kedua sisi badan. Saat dibuka, sayap sebaiknya menutup penuh tanpa celah, sehingga kepakan tidak bocor dan tenaga tidak terbuang.
- Bulu jawat. Bulu jawat (lar 10) sebaiknya kering dengan lidi yang tidak tipis. Bulu berlidi tebal dan kering lebih kuat menahan tekanan udara saat burung mengepak cepat.
- Warna bulu. Pilihan warna sangat beragam: coklat gammbir, hitam, tritis, kelabu, atau kombinasi (selap). Di lapangan, warna kelabu sering jadi favorit karena identik dengan burung-burung trah juara, meski pada akhirnya semua kembali ke selera pemilik.
- Susunan otot. Saat diraba, daging burung berkualitas terasa lentur dan empuk, bukan keras atau kaku. Otot yang empuk menandakan burung sehat dan siap dilatih.
- Supit. Supit atau wakong yang tajam dan keras dengan jarak kurang lebih sejari kelingking memberi cengkeraman kuat saat burung berada di kandang maupun saat mengepak.
- Ekor. Ekor idealnya tidak terlalu tipis dan tidak terlalu panjang. Ekor yang panjang justru menjadi rem saat burung mengejar kecepatan tinggi.
- Kaki. Kaki yang baik terlihat kekar dan kering, dengan jari yang kuat. Kaki lembap atau terlalu gemuk sering menjadi tanda burung kurang sehat.
Penilaian di atas sebaiknya dilakukan di siang hari dengan cahaya yang cukup, saat burung dalam kondisi tenang. Perhatikan juga napasnya: burung yang sehat bernapas pelan dan tidak terengah-engah. Untuk melengkapi pengetahuan soal perawatan, baca juga panduan istirahat merpati saat mabung dan pencegahan stres panas yang bisa menurunkan performa burung meski fisiknya sudah bagus.
Catatan Sebelum Membeli
Ciri fisik hanyalah salah satu penentu. Seekor merpati dengan fisik sempurna tetap butuh latihan yang teratur, pakan yang tepat, dan perawatan kesehatan yang konsisten. Sebaliknya, burung dengan fisik pas-pasan masih bisa diandalkan bila giringannya bagus dan homing-nya tajam. Karena itu, gunakan dua belas poin di atas sebagai pegangan saat memilih, bukan sebagai patokan mutlak.
Jika Anda baru mulai menekuni lomba, ada baiknya membaca tips melatih merpati balap dan cara memasang ring pada kaki merpati sebelum terjun ke lapangan.
Itulah dua belas ciri merpati balap yang berkualitas. Pilihlah burung dengan teliti sejak awal, karena menyeleksi fisik yang benar jauh lebih murah daripada membeli burung bagus namun salah bentuk.

Foto: burungmerpati.com
Sumber: burungmerpati.com
Komentar