Satwa endemik Pulau Timor kini berada di ambang kepunahan. Merpati hijau timor (Treron psittaceus), burung pemakan buah berwarna hijau cerah seperti mangga yang termasuk salah satu varian warna merpati unik yang jarang terlihat, diperkirakan hanya menyisakan kurang dari 500 individu di Timor Leste dan dianggap telah punah secara fungsional di kawasan Indonesia.

Studi Terbaru dari Jurnal Oryx

Penelitian yang diterbitkan para ilmuwan Universitas Charles Darwin (Australia) dan BirdLife International di jurnal Oryx pada Mei 2026 memberikan bukti paling jelas tentang penurunan pesat spesies ini. Para penulis merekomendasikan agar merpati hijau timor direklasifikasi sebagai Sangat Terancam Punah (Critically Endangered) di dalam Daftar Merah IUCN, disertai seruan tindakan mendesak di Timor Leste dan Indonesia.

Kesimpulan tersebut didasarkan pada lebih dari 1.400 hari survei lapangan sepanjang tahun 2002–2025 di seluruh wilayah jelajahnya, meliputi Timor Leste, Pulau Jaco, Timor Barat, Pulau Rote, dan Pulau Semau. Dari total 96 catatan penampakan, sebagian besar (82 persen) berada di kawasan lindung, terutama Taman Nasional Nino Konis Santana di Timor Leste.

Perburuan dan Rusaknya Habitat

Dua tekanan utama yang menggerus populasi merpati hijau timor adalah perburuan dan hilangnya habitat. Colin Trainor, penulis utama studi dari Universitas Charles Darwin, menyebut kondisi saat ini sangat memprihatinkan. Burung yang dulu mudah ditemui di hutan yang bagus kini hanya hidup di daerah yang paling terpencil.

Jafet Potenzo Lopes, penulis dari Conservation International yang lahir di Distrik Lautem, menuturkan bahwa sepuluh tahun lalu ia masih bisa mendaki untuk melihat burung ini, tetapi sekarang keberadaannya amat sulit dijumpai.

Sebagai bagian dari famili Columbidae (merpati dan dara) — salah satu kelompok burung yang paling terancam punah di dunia — nasib merpati hijau timor mengingatkan pada merpati endemik besar asal Papua, mambruk Victoria, yang juga berstatus terancam.

Masih Ada Harapan

Kendati situasinya mengkhawatirkan, para ilmuwan melihat secercah harapan. Ancaman terbesar bagi populasi yang tersisa diperkirakan berasal dari sejumlah kecil pemburu, sehingga upaya konservasi terfokus masih mungkin dilakukan, baik di Timor Leste maupun Indonesia.

"Yang kita butuhkan sekarang adalah pemerintah, organisasi konservasi, dan masyarakat setempat untuk bersatu mencegahnya hilang selamanya," ujar Trainor. Untuk mengenal lebih jauh kekayaan merpati endemik Nusantara, silakan kunjungi halaman label kami.