Setiap peternak merpati pasti pernah mengalami kekecewaan saat telur-telur di sangkar tidak menetas meski sudah dierami berhari-hari. Kondisi ini bukan sekadar pe-er biasa — bisa jadi tanda ada masalah serius pada indukan, lingkungan kandang, atau bahkan kombinasi keduanya. Sebelum menyerah dan membuang telur, ada baiknya kita cek dulu apa penyebab pastinya supaya kejadian serupa tidak terulang di musim berikutnya.

Secara normal, telur merpati membutuhkan waktu inkubasi sekitar 17 hingga 19 hari sebelum menetas. Jika sudah melewati hari ke-20 dan tidak ada tanda-tanda pecahnya cangkang, kemungkinan besar telur tersebut sudah tidak viable. Mengetahui akar masalahnya lebih awal akan menghemat waktu, tenaga, dan biaya pakan indukan yang terus mengerami tanpa hasil.

1. Telur Tidak Terbuahi (Infertil)

Penyebab paling umum dari telur yang gagal menetas adalah ketiadaan pembuahan sama sekali. Telur infertil terlihat normal dari luar, namun jika dipecah isinya hanya kuning telur putih tanpa embrio. Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini antara lain indukan yang belum cukup umur — merpati betina idealnya mulai dikawinkan pada usia 8 hingga 10 bulan, bukan sebelumnya. Selain itu, bulu yang terlalu lebat di area kloaka bisa menghalangi proses kopulasi, sehingga sperma jantan tidak sempat membuahi ovum.

Solusinya, pastikan indukan sudah mencapai usia produktif sebelum dipasangkan. Gunting sedikit bulu di sekitar kloaka baik jantan maupun betina untuk memperlancar proses kawin. Jika sudah beberapa siklus bertelur tetap infertil, kemungkinan salah satu indukan mengalami masalah reproduksi dan perlu diganti.

2. Suhu Lingkungan Tidak Stabil

Telur yang sedang dierami sangat sensitif terhadap fluktuasi suhu. Suhu terlalu panas — apalagi kalau kandang terpapar sinar matahari langsung di siang hari — bisa mematikan embrio di dalam telur. Sebaliknya, suhu terlalu dingin juga menghambat perkembangan janin. Perubahan mendadak antara siang dan malam sering kali menjadi musuh tersembunyi yang tidak disadari peternak.

Pastikan kandang penangkaran berada di lokasi teduh dengan sirkulasi udara yang baik namun tidak mengalir langsung ke arah sarang. Gunakan tirai atau atap tambahan untuk menghalangi panas berlebih. Di daerah dengan iklim ekstrem, pertimbangkan untuk menambahkan pemanas atau kipas sesuai kebutuhan.

3. Indukan Kekurangan Nutrisi

Merpati yang sedang mengerami membutuhkan asupan nutrisi lebih tinggi dari biasanya. Kekurangan kalsium, vitamin D, atau grit bisa menyebabkan cangkang telur terlalu tipis atau kualitas embrio menurun. Indukan yang kurang sehat juga cenderung meninggalkan sarang terlalu sering, membuat suhu inkubasi tidak konsisten.

Berikan suplemen kalsium seperti tulang sotong atau grit khusus selama masa pengeraman. Pakan bergizi seimbang — campuran jagung, kacang, dan biji-bijian berkualitas — akan menjaga stamina indukan. Untuk tips lebih lanjut soal pemilihan pakan, bisa dibaca di panduan memilih indukan merpati yang berkualitas.

4. Inkubasi Terganggu

Gangguan dari hewan lain seperti tikus, kucing, atau bahkan serangga bisa membuat indukan panik dan meninggalkan telur terlalu lama. Begitu juga jika peternak terlalu sering memeriksa atau memindahkan telur dengan tangan kosong — bau asing pada cangkang bisa membuat indukan menolak mengeraminya kembali.

Usahakan untuk tidak terlalu sering mengganggu indukan selama masa pengeraman. Jika memang harus memindahkan telur, gunakan sarung tangan bersih atau taburi sedikit pasir di tangan terlebih dahulu. Pastikan juga kandang aman dari predator dengan penutup yang rapat di malam hari.

5. Indukan Terlalu Tua atau Sakit

Merpati yang sudah berusia lanjut biasanya mengalami penurunan kualitas reproduksi. Produksi sperma jantan berkurang, daya tetas telur menurun, dan indukan betina cenderung lebih mudah stres. Begitu juga merpati yang sedang sakit — infeksi saluran reproduksi atau penyakit menular seperti PMV bisa mengganggu proses pengeraman secara signifikan.

Lakukan rotasi indukan secara berkala dan pisahkan yang sakit dari kandang utama. Pemeriksaan kesehatan rutin akan membantu mendeteksi masalah sejak dini. Jika indukan sudah lebih dari 5 tahun dan produktivitasnya terus menurun, pertimbangkan untuk menggantinya dengan generasi muda yang lebih produktif.

Mengetahui penyebab telur gagal menetas memang tidak menjamin 100% berhasil di musim berikutnya, setidaknya kita sudah mengurangi faktor risiko yang bisa dikendalikan. Kunci utamanya adalah kesabaran, pemantauan rutin, dan kemauan untuk terus belajar dari setiap kegagalan. Selamat mencoba, semoga hasilnya lebih baik di musim depan!