Lomba merpati makin ramai di hampir semua daerah, dan efeknya langsung terasa di pasar. Burung merpati balap diburu banyak orang, permintaan serta harganya terus terdongkrak, lalu beternak merpati balap pun mulai dilirik sebagai peluang usaha yang menjanjikan keuntungan berlipat. Syaratnya jelas: kerja keras dan sejumlah persiapan yang tidak bisa dipangkas.

Jangan sekali-kali meremehkan burung ini. Bentuknya tak seindah merak, suaranya tak semerdu perkutut, statusnya bukan burung langka, dan jasa pengantar suratnya nyaris sudah tidak dibutuhkan manusia. Namun merpati yang mampu menempuh sekitar 1.000 kilometer per hari itu justru sedang diburu orang banyak, terutama jenis merpati pos racing. Tak mengherankan bila harganya melonjak ke angka jutaan, bahkan puluhan juta rupiah per ekor.

Burung yang Dicari Bukan Sembarang Burung

Merpati yang diincar pemain balap bukan burung sembarangan. Burung harus jinak dan cepat terbangnya supaya layak diikutkan ke arena adu doro. Dua syarat itulah yang memisahkan merpati biasa dari merpati bernilai jual tinggi, sekaligus membuka peluang bagi calon penangkar untuk menyiapkan bibit sejak dini. Panduan lengkapnya ada di ciri-ciri burung merpati balap yang bagus untuk calon juara.

Kentongan dan Andokan: Dua Panggung dengan Karakter Berbeda

Balap merpati adalah lomba mengadu kecepatan terbang, dan adu doro sedang ngetrend di berbagai daerah di Indonesia. Di Surabaya, kampung seperti Karang Menjangan, Mojo, dan Kaliwaron hampir setiap rumah memelihara merpati. Setiap sore mereka menggelar perlombaan balap merpati jenis kentongan: burung dilepas dari desa sebelah, dan yang lebih dulu mencapai kandangnya sendiri disambut bunyi kentongan sebagai tanda menang.

Warga dari tua sampai muda, kaya sampai miskin, laki-laki sampai perempuan, semuanya berkumpul menyaksikan. Uang yang berputar dalam taruhan pun lumayan besar satu kali perlombaan bisa mencapai Rp 5 juta. Di kampung lomba ini dikenal sebagai balap merpati kentongan, sementara di pusat kota ramai dikenal dengan nama balap merpati andokan, sebutan yang berasal dari Madura.

Adu cepat terbang biasanya digelar di tanah lapang. Untuk wilayah Surabaya, biasanya dilangsungkan di Kenjeran dan Darmo, minimal sekali dalam dua minggu. Panitianya sendiri berasal dari para penggemar dan penghobi balap merpati. Berbeda dengan kentongan yang marak taruhan, para pencinta merpati balap andokan secara resmi mengharamkan adanya perjudian. Umumnya mereka berasal dari kalangan menengah ke atas, sebab harga burung untuk andokan berlipat kali dibanding burung untuk balap kentongan.

Kisaran Harga yang Bisa Dihitung

  • Merpati balap kentongan: sekitar Rp 25.000 per ekor, dan untuk yang paling top bisa mencapai Rp 100.000.
  • Telur dara andokan kelas juara: bisa dihargai hingga Rp 1 juta per butir.
  • Anakan dara andokan keturunan juara: Rp 2,5 juta sampai Rp 5 juta.
  • Dara andokan peraih gelar juara: dapat menembus puluhan juta rupiah.

Peluang Usaha di Luar Jual Beli Burung

Selain menjual merpati untuk perlombaan atau untuk kebutuhan daging, peluang usaha lain ikut terbuka. Pakan burung merpati, jamu, pernak-pernik kebutuhan kandang, sampai aksesoris penggemar seperti kaos, topi, dan kalung bisa menjadi ladang usaha tersendiri. Pemula tidak harus langsung besar: mulai dari segmen kecil sambil belajar menyiapkan indukan lewat cara menjodohkan merpati agar cepat giring dan produktif.

Kunci sukses bisnis ini tetap pada kerja keras dan konsistensi merawat burung. Sebagai bekal awal, pelajari panduan beternak merpati balap dan tinggian serta cara memasang ring merpati untuk mencatat silsilah setiap bibit di kandang Anda.

Sumber: https://www.burungmerpati.com/