Lapak Flamboyan Pondok Karya: Jejak Merpati Tomprang di Tengah Jakarta
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang padat dan mahal, berdiri sebuah lapak merpati tomprang yang mampu bertahan lebih dari satu tahun. Lapak Flamboyan Pondok Karya, begitu namanya, terletak di kawasan Mampang — sebuah lokasi strategis yang tidak terlalu sulit dicari. Dari jalur Mampang, belok kiri ke arah Bangka, menyusuri jalan yang tidak terlalu jauh, dan sampailah di tujuan.
Asal Usul Nama dan Sejarah Berdirinya
Nama "Flamboyan" diambil dari sebuah pohon flamboyan yang dibiarkan tumbuh besar tepat di belakang kandang. Sebelum menjadi lapak, lahan di Pondok Karya ini dipenuhi alang-alang dan pohon-pohon liar. Banyak orang menyebut tempat ini angker, karena selama puluhan tahun tidak terawat sama sekali.
Berkat ide dan inisiatif dari Koh Ncust bersama pak RT (R. Dadang Djatnika) dan beberapa rekan, lahan yang tadinya menyeramkan itu diratakan dan diuruk. Tanah yang awalnya setinggi pinggang pun berubah menjadi area lapak yang layak. Awalnya berdiri empat kandang: Kandang Putih, Kandang Biru, Kandang Merah Kuning, dan Kandang Hijau. Beberapa bulan kemudian, ditambah lagi Kandang Orange yang merupakan pindahan dari lapak RRI yang baru saja dibubarkan.
Salah satu pendiri yang tidak kalah perannya adalah Bang Kewoy, seorang almarhum yang telah mendesain logo dan sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan saat lomba. Meski sudah tiada, jejak kebaikannya masih terasa di lapak ini.
Aturan Ketat demi Kenyamanan Bersama
Di setiap pintu kandang, terpampang peraturan tegas dari pemilik lahan. Dua larangan utama yang ditegakkan adalah segala bentuk perjudian dan penggunaan narkoba. Pihak pemilik lahan terbukti serius menegakkan aturan ini — suatu malam, mereka memberikan teguran keras kepada penghuni Kandang Biru karena kedapatan tidak menempelkan peraturan tersebut di depan pintu.
Lingkungan sekitar lapak adalah komplek Polri, dan selama lebih dari satu tahun berdiri, belum pernah ada komplain dari warga sekitar. Bahkan, warga tampak senang karena lahan angker kini dimanfaatkan dengan baik. Kepala Lapak sendiri adalah ketua RT di lingkungannya, sehingga komunikasi dengan warga berjalan lancar.
Tantangan dan Kelebihan
Tidak ada lapak yang sempurna. Koh Ncust mengakui bahwa lahan lapak ini tidak terlalu luas. Rintangan kabel listrik di depan dan samping juga menjadi masalah — burung Koh Ncust yang istimewa dengan karakter nge-L sempat menjadi korban, tewas tersangkut kabel. Belum lagi SUTET yang berada tepat di belakang kandang, membuat burung yang lewat sedikit dari jalur berisiko tinggi.
Namun, kelebihannya juga tidak sedikit. Lapak berdiri di atas tanah pribadi milik pegawai negeri dengan izin resmi. Jumlah kandang yang tidak terlalu banyak menjadikan para pemiliknya lebih santai dalam melatih merpati. Koh Ncust sendiri menyebut lapaknya sebagai tempat "have fun" — menikmati hobi tanpa tekanan berlebih.
Kusta: Burung Megan yang Menarik Perhatian
Dari Kandang Merah Kuning yang dipimpin Koh Ncust, ada seekor merpati megan bernama Kusta yang menjadi pusat perhatian. Kusta tercatat di beberapa sertifikat kemenangan dari lomba-lomba yang diadakan oleh lapak ini. Karakter Kusta adalah burung yang mampu terbang ngelip dengan keberanian mutus duluan saat mendarat — meski pendaratannya terbilang biasa saja.
Koh Ncust termasuk pemain lapak yang moderat. Ia tidak percaya terhadap mitos negatif tentang burung yang difoto, sehingga Kusta bisa dikenal luas melalui fotografi. Berbeda dengan beberapa lapak lain yang masih memegang teguh keyakinan semacam itu.
Masa Depan Lapak
Di akhir kunjungan, Koh Ncust memberikan kesempatan kepada Forum Merpati.org untuk menggunakan Kandang Merah Kuning sebagai sekretariat resmi. Sebuah tanda positif bahwa komunitas merpati di Jakarta masih hidup dan terus melestarikan budaya seni merpati khas Indonesia. Lapak Flamboyan Pondok Karya mungkin tidak seluas lapak-lapak lain, namun semangat dan kehangatan komunitasnya menjadikannya salah satu tempat yang layak dikunjungi oleh para pecinta merpati.
Sumber: merpati.org
Komentar