Setiap lofter pasti pernah bertanya-tanya: apakah pakan yang saya berikan sudah cukup untuk merpati saya terbang jauh dan cepat? Pertanyaan ini ternyata bukan sekadar intuisi — para peneliti di beberapa universitas dunia sudah meneliti secara ilmiah bagaimana tubuh merpati memanfaatkan energi saat terbang.

Merpati Seperti Mobil: Butuh Bahan Bakar yang Tepat

Bayangkan Anda akan melakukan perjalanan darat sejauh 250 kilometer. Anda tentu akan memastikan tangki bensin terisi penuh, bukan? Merpati balap juga demikian. Saat hendak terbang dalam lomba jarak jauh, tubuh mereka membutuhkan pasokan energi yang memadai. Bedanya, merpati tidak bisa berhenti di pom bensin — semua energi harus sudah tersedia di dalam tubuh sebelum dilepas dari garis start.

Para pakar biasanya membedakan pakan berdasarkan jarak lomba. Untuk lomba jarak pendek (Vitesse), pakan diberikan lebih ringan. Untuk jarak menengah (Midfond), porsi ditambah. Sedangkan untuk lomba jarak jauh (Fond), banyak lofter yang menambahkan kacang sebagai sumber energi tambahan. Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah porsi dan jenis pakan yang diberikan sudah tepat?

Penelitian di Terowongan Angin Universitas Gent

Jawaban atas pertanyaan itu mulai terungkap dari penelitian yang dilakukan di Universitas Gent, Belgia. Para peneliti melakukan uji coba unik: merpati dilepas terbang di dalam terowongan angin yang dilengkapi perangkat khusus. Sebuah masker ditempelkan pada paruh merpati untuk mengumpulkan udara yang diembuskan, sehingga para ilmuwan dapat menganalisis dengan tepat zat apa saja yang digunakan sebagai bahan bakar selama penerbangan.

Hasil penelitian ini sangat menarik dan memberikan wawasan berharga bagi dunia merpati balap. Ternyata, dalam 10 menit pertama penerbangan, merpati menggunakan hampir seluruh cadangan karbohidrat yang tersimpan di otot putih. Karbohidrat ini berupa glikogen yang tersedia langsung dan digunakan untuk mencapai ketinggian serta kecepatan awal.

Dari Karbohidrat ke Lemak: Transisi Energi yang Terjadi di Udara

Setelah cadangan karbohidrat habis sekitar 10 menit pertama, tubuh merpati beralih menggunakan lemak yang mengalir dalam darah selama kurang lebih 50 menit berikutnya. Lemak darah ini sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju serat otot merah untuk disimpan sebagai cadangan lemak. Serat otot merah mengandung sekitar 97,5% asam lemak tak jenuh — inilah bahan bakar utama untuk perjalanan pulang ke sangkar.

Lemak darah ini diproduksi dari butir-butir pakan yang kaya karbohidrat dan lemak, yakni pakan yang diberikan dalam tiga waktu makan terakhir sebelum lomba. Jika setelah satu jam cadangan lemak darah juga habis, maka tubuh merpati perlahan beralih membakar cadangan lemak yang tersimpan di dalam serat otot merah.

Berapa Banyak Lemak yang Terbakar?

Penelitian menunjukkan bahwa seekor merpati menghabiskan sekitar 3 hingga 3,5 gram lemak per jam saat terbang. Jumlah pastinya tergantung pada tingkat kesulitan penerbangan dan efisiensi metabolisme masing-masing burung. Ibarat atlet, ada merpati dengan tubuh kekar berotot tebal, dan ada pula merpati bertubuh ramping seperti pelari maraton — keduanya memiliki efisiensi pembakaran energi yang berbeda.

Penelitian ini menjadi pengingat penting bagi para lofter: memberi pakan bukan sekadar soal kuantitas, tetapi juga pemahaman tentang bagaimana tubuh merpati memproses energi. Dengan mengetahui mekanisme ini, lofter bisa lebih bijak dalam menentukan jenis dan waktu pemberian pakan agar merpati tampil optimal saat bertanding.

Sumber: Pigeon Insider - Can We Measure Energy in Pigeons? Part 1 oleh Wim Mulder