Memilih merpati tinggian tidak cukup hanya mengandalkan feeling saat pertama kali melihat burung di lapak. Bentuk fisik burung menyimpan banyak petunjuk soal cara turun, kecepatan, sampai mentalnya saat dilepas di lapangan. Panduan ini melengkapi rangkaian ciri yang sudah banyak dibahas, misalnya 17 Ciri-Ciri Merpati Tinggian. Berikut panduan menyeluruh untuk menilai calon burung tinggian, disusun dari pengalaman penggemar berpengalaman yang lama bergelut di dunia tinggian.
Menilai Kepala, Paruh, dan Mata
Kepala besar dengan batok depan lebih tinggi dari batok belakang alias bertipe nonong jadi patokan pertama. Perhatikan juga sudut kemiringan antara pangkal hidung menuju atas batok kepala: idealnya 45-60 derajat. Sudut mendekati 90 derajat biasanya hanya andal turun dari arah atas kepala atau jam 12.00 saja, sementara sudut 45-60 derajat lebih fleksibel turun dari arah mana pun dan burungnya cenderung lebih cerdas — penting karena tinggian sangat mengandalkan feeling.
Paruh sebaiknya bertipe merit atau runcing di ujung, tidak terlalu besar dan tidak terlalu panjang. Ukuran panjang dari ujung hidung ke ujung paruh sebaiknya sedikit lebih pendek jaraknya dibanding jarak pangkal hidung ke batok kepala teratas.
Mata adalah senjata utama merpati dalam menangkap gerakan. Pilih mata dengan pupil hitam pekat yang responsif terhadap cahaya, serta cincin lingkaran berwarna hijau yang menggantung sekitar seperempat keliling di depan bawah bijih mata. Warna mata dua nada — misalnya kuning tua dan kuning muda, atau merah tua dan hijau tua — lebih disukai asalkan warna tengahnya lebih tenggelam. Cara mengeceknya: lihat mata burung di tempat teduh; kalau terkena sinar matahari langsung, kedua warna itu akan menyatu dan sulit dibedakan.
Hidung dan Leher: Dua Detail yang Sering Diabaikan
Sebagian penggemar menilai hidung tidak penting, padahal bentuknya ikut berperan dalam kemampuan burung mencari jalan pulang. Tipe hidung favorit banyak pemain tinggian adalah hidung besar dan panjang menggembung dengan warna kapur pekat serta pangkal bawah menjorok ke belakang — bukan tipe prambon keturunan merpati pos. Tipe trepes yang melekat ke paruh juga disukai bila dihiasi garis-garis kemerahan samar. Untuk hidung kecil menggembung khas strain Jawa, pilih yang pangkal hidungnya lurus bila memang dipakai bermain dekat; burung tipe ini justru rawan pulang lama atau hilang kalau dilepas terlalu jauh.
Leher berfungsi sebagai poros gerakan turun atau istilah setempat metil, nunjem, dan thel. Pilih leher kuat tapi tidak terlalu panjang — sedikit lebih pendek dari tulang dadanya. Tulang leher yang tegak dan mendongak saat burung memperhatikan sesuatu lalu kembali kendur adalah kombinasi terbaik; leher yang selalu tegak justru terkesan kaku dan gerakan turunnya kurang fleksibel.
Sayap, Dada, dan Tulang Dada
Sayap menentukan kualitas terbang. Bahu sayap harus kuat tapi lentur, tidak kaku — boleh tebal bulat atau pipih lebar asal sama-sama berotot. Bulu sayap sebaiknya tebal, rapat, tidak bergelombang, dengan jarak antarbulu rapat dan ujung meruncing. Tulang bulu sayap harus besar, kuat, dan sedikit lentur di ujungnya. Saat dipegang, sayap yang sedikit mekongkong atau renggang dari badan justru lebih disukai daripada yang merapat ketat, karena kualitas turunnya lebih kencang.
Bentuk dada dilihat dari depan sebaiknya menyerupai huruf V, bukan O apalagi gepeng mendatar. Dada huruf V memungkinkan turun kencang dari arah mana pun, sementara dada huruf O umumnya hanya optimal turun dari arah atas kepala. Untuk tulang dadanya, pilih yang panjangnya setara atau sedikit lebih panjang dari telunjuk orang dewasa. Tulang dada berbentuk centang dengan ujung belakang menjorok cenderung menghasilkan turunan anteng tanpa goyang, sedangkan yang berbentuk perahu akan turun sambil nggenjot-nggenjot bila perangkat lain mendukung.
Sapit Udang, Pinggang, dan Ekor: Menentukan Gaya Turun
Sapit udang tidak banyak memengaruhi gaya terbang, tapi besar pengaruhnya pada cara turun — istilah lengkapnya banyak dibahas di artikel Supit Udang dan Istilah Katuranggan Lain. Burung dengan sapit udang rapat atau ganthet biasanya turun pelan. Jarak sempit 0,5-1 cm membuat turunan goyang atau megal-ol, sedangkan jarak di atas 1 cm menghasilkan turunan anteng selama didukung ukuran brutu dan bentuk ekor yang pas. Sapit udang yang bengkok bekas patah juga perlu diwaspadai: burung masih bisa turun, tapi kecepatan dan shoot-nya jelas berkurang.
Pinggang atau brutu ikut menyeimbangkan tubuh saat turun. Pinggang yang terlalu renggang membuat burung kehilangan keseimbangan — pada burung dengan turunan cepat, risikonya turunan patah di tengah jalan atau membentur tanah keras tanpa pengereman. Sebaliknya, brutu kecil yang rapat cenderung menghasilkan turunan anteng, sementara brutu besar yang rapat menghasilkan turunan bergoyang yang justru menjadi seni lemparan tubuh saat turun.
Ekor melengkapi penilaian. Bulu ekor rapat, tebal, dan panjang menandakan potensi turunan bagus, dengan ketebalan disesuaikan pada pegangan burung. Saat dipegang, ekor yang tampak menyatu menandakan brutu kecil dan gaya turun anteng; ekor yang melebar di ujung menandakan brutu besar dan gaya turun nggenjot. Daya tekan ekor juga bermacam: ndlosor, ngawet 45 derajat, dan ngawet 90 derajat. Pegangan ekor 45 derajat membuat start memutar agak melebar, 90 derajat atau bengkuk membuat start cekak seperti obat nyamuk, sementara tipe ndlosor punya dua kemungkinan: langsung menuju tujuan atau mengikuti partnernya.
Kaki penutup penilaian fisik: pilih kaki merit, garing berkilau mbesisik, dan panjang baik jarinya. Saat dipegang, posisi kaki sebaiknya menjorok sejajar dengan arah ekor.
Menilai Tingkah Laku dan Mental Burung
Fisik saja belum cukup; perilaku burung saat diamati memberi petunjuk soal mental dan kemampuannya. Beberapa hal yang layak dicermati:
Suara kepakan sayap. Burung yang sudah terbang tinggi menghasilkan kepakan lebih ringan dengan desisan wis.. wis.. di sela-sela kepakannya, sementara burung yang jarang terbang berbunyi lebih berat seperti tjeplak-tjeplak. Perbedaan ini baru terasa setelah diamati berulang kali.
Cara turun dari kurungan. Saat pedagang menaik-turunkan betina untuk menunjukkan giringan, amati dari jarak jauh. Burung yang menjatuhkan tubuhnya langsung punya mental turun; yang melompat sambil mengepakkan sayap belum tentu. Cara ini hanya menilai mental, bukan kemampuan turun penuh — itu tetap butuh perangkat fisik yang memadai.
Cara jalan. Burung yang hanya menapakkan empat jarinya tanpa menyentuhkan telapak saat berjalan umumnya punya daya terbang lebih panjang. Buktikan sendiri pada burung dengan umur, latihan, pakan, dan pegangan yang sama, lalu terbangkan berulang kali dan lihat mana yang lebih awet sebelum ngenduk di sembarang tempat.
Penampilan berdiri. Burung yang berdiri dengan punggung dan pinggang menyembul atau tampak berpunuk berpotensi punya speed kencang dan turunan yang diperhitungkan. Sebaliknya, tubuh yang menggantung menandakan kemampuan biasa saja.
Tingkat kewaspadaan.
Burung yang diam saja cuek dengan sekitar berbeda dengan yang gesit mengikuti gerakan di dekat maupun kejauhan. Tingkat kewaspadaan tinggi menandakan penglihatan yang tajam — aset berharga untuk burung yang harus menemukan jalannya sendiri.
Gerak bulu ekor saat bekur. Ekor yang megar-mingkup cepat saat bekur umumnya dimiliki burung dengan pinggang rapat dan kemampuan turun yang baik. Ekor yang terus megar dengan jarak antarbulu terbuka cenderung kalah baik dalam turunan.
Checklist Singkat Sebelum Membeli
- Kepala nonong dengan sudut hidung 45-60 derajat, paruh merit, mata dua nada dengan pupil responsif.
- Hidung berwarna kapur pekat dengan pangkal bawah menjorok ke belakang.
- Leher kuat tidak terlalu panjang, bahu sayap lentur, bulu rapat dan meruncing.
- Dada berbentuk V, tulang dada panjang, sapit udang dan pinggang dalam kondisi rapat dan lurus.
- Ekor rapat dan tebal, kaki garing, perilaku waspada dan cara turun menjatuhkan tubuh.
Panduan ini bukan jaminan mutlak — kombinasi seluruh perangkat yang selaras jauh lebih menentukan daripada satu atau dua ciri istimewa. Latihan, perawatan, dan pengalaman burung di lapangan tetap menjadi penentu akhir; soal perawatannya bisa dilanjutkan membaca Rawatan Plus-Plus untuk Merpati Tinggi dan Balap, sementara untuk yang mulai dari piyik ada panduan Melatih Merpati Piyik untuk Tinggian.
Sumber: merpati.org — disadur dari tulisan mas Bengkuk (Dona).
Komentar