Bagi penggemar merpati di Jawa, burung yang satu ini punya banyak sebutan: merpati kentongan, merpati dhuwuran, atau merpati tomprangan. Semuanya merujuk pada satu kelompok yang sama, yaitu merpati tinggian, burung yang dilepas dan dinilai dari seberapa lama ia bertahan di angkasa serta bagaimana caranya turun kembali ke lapak.
Menilai merpati tinggian tidak bisa hanya dengan melihat warnanya atau besar tubuhnya. Ada sejumlah tanda fisik dan perilaku yang saling menguatkan, mulai dari bentuk kepala, susunan bulu sayap, sampai bunyi kepakan saat burung menukik. Bagi pemula, mengenali tanda-tanda ini adalah cara paling murah untuk menghindari membeli burung yang sebenarnya tidak punya prospek di lapangan.
Sekilas Tentang Merpati Tinggian
Merpati tinggian termasuk merpati lokal yang sudah lama dipelihara di kampung-kampung, terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Timur. Berbeda dengan merpati pos yang diukur dari kecepatan pulang, merpati tinggian diukur dari ketinggian dan lamanya bertahan terbang melingkar di atas kolongan. Jarak terbangnya relatif pendek, tetapi ketinggian jelajahnya bisa mencapai ratusan meter.
Karena seleksi dilakukan turun-temurun berdasarkan performa terbang, bukan berdasarkan catatan silsilah tertulis, penilaian terhadap burung dilakukan hampir sepenuhnya lewat pengamatan bentuk tubuh dan gaya main. Di sinilah katuranggan berperan. Pembahasan lebih dalam soal katuranggan bisa dibaca di artikel all about katuranggan merpati tinggian.
Ciri-Ciri Fisik yang Menjadi Patokan
1. Bentuk kepala
Kepala merpati tinggian yang dinilai bagus umumnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu bulat. Bentuk yang dicari adalah kepala agak memanjang dengan bagian belakang terasa penuh, bukan cekung. Kepala yang terlalu besar sering dianggap membawa bobot berlebih sehingga burung cepat lelah di udara.
2. Bentuk paruh
Paruh sebaiknya pendek sampai sedang, lurus, dan menutup rapat tanpa celah. Pangkal paruh yang terlalu lebar dengan ujung melengkung tajam lebih dekat ke ciri merpati balap jarak dekat, bukan tinggian. Paruh yang rapat juga menandakan saluran napas bagian atas dalam kondisi sehat.
3. Bagian mata
Mata menjadi salah satu penentu paling sering dibicarakan. Yang dicari adalah mata bersinar, bersih, dengan lingkaran kelopak tipis dan kering. Warna mata sendiri tidak selalu menentukan, tetapi mata yang sayu, berair, atau berkerak hampir selalu menandakan burung sedang tidak fit. Untuk membandingkan standar mata pada jenis lain, lihat pembahasan ciri merpati berkualitas tinggi.
4. Bentuk leher
Leher yang ideal terlihat sedang, tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, dengan otot terasa padat saat dipegang. Leher panjang dan kurus biasanya membuat gerakan kepala kurang stabil ketika burung melingkar di ketinggian.
5. Bentuk sayap
Sayap harus lebar, panjang, dan menutup rapi di atas punggung. Saat dibentangkan, ujung sayap sebaiknya bertemu atau sedikit melewati pangkal ekor. Bulu sayap yang tersusun tidak rapi, berlubang, atau kusam mengindikasikan burung baru saja mabung atau kurang perawatan.
6. Bentuk dada
Dada yang dinilai baik terasa lebar dan berisi, tetapi tidak menggembung berlebihan. Dada terlalu tebal membuat burung berat saat menanjak, sementara dada terlalu sempit membuat tenaga terbang cepat habis.
7. Tulang dada
Raba bagian tengah dada. Tulang dada yang baik lurus dan cukup dalam, dengan daging di kiri-kanan menempel rata. Tulang yang menonjol tajam dengan daging tipis adalah tanda burung kurus atau sedang kurang makan.
8. Bentuk pinggang
Pinggang yang kokoh dan menyatu dengan punggung menandakan struktur tubuh yang kuat. Pinggang yang terasa lembek atau terlalu sempit biasanya berkaitan dengan stamina yang pendek.
9. Bentuk ekor
Ekor sebaiknya rapi, tidak terlalu panjang, dan saat terbang membuka seperti kipas yang simetris. Ekor yang terus melebar berlebihan atau justru menggulung ke dalam membuat laju terbang tidak stabil. Artikel merpati tinggian kolong dan bantalan membahas pengaruh ekor terhadap cara turun.
10. Kaki
Kaki yang baik terlihat kuat, bersih, dan bersisik rapi tanpa luka. Warna kaki bukan patokan utama, tetapi kaki yang bengkak, berkerak, atau bernanah harus dihindari karena berisiko menular ke burung lain di kandang.
11. Bulu secara keseluruhan
Bulu yang sehat menempel rapat, mengkilap, dan tidak mudah rontok saat dipegang. Bulu kusam dan berdiri kasar sering muncul pada burung yang sedang mabung atau kekurangan asupan protein. Perawatan bulu yang tepat akan sangat memengaruhi penampilan burung di lapangan.
Ciri Perilaku dan Gaya Main
12. Gaya terbang
Inilah pembeda utama. Merpati tinggian terbang dengan gerakan meliuk dan berputar di ketinggian, bukan lurus mendatar seperti merpati pos atau menyusur tanah seperti merpati balap sprint. Burung yang langsung naik dan bertahan lama di titik yang sama menandakan orientasi dan tenaga yang baik.
13. Suara kepakan sayap
Saat menukik atau menghentak, kepakan sayap merpati tinggian menghasilkan bunyi khas yang oleh penggemar disebut geberan atau keprak. Semakin padat dan ritmis bunyinya, semakin dianggap baik. Bunyi yang terlalu tipis biasanya berhubungan dengan bulu sayap yang kurang tebal.
14. Cara berjalan di lapak
Burung yang percaya diri berjalan tegap dengan kepala terangkat. Burung yang terus menunduk atau menyeret kaki biasanya kurang bugar, meskipun bisa juga hanya karena belum terbiasa dengan lapak baru.
15. Tingkat kewaspadaan
Merpati tinggian yang baik responsif terhadap gerakan di sekitarnya tanpa panik. Burung yang terlalu liar sulit dilatih, sedangkan burung yang terlalu pasif biasanya kurang punya dorongan terbang.
16. Gerakan bulu ekor saat melayang
Perhatikan cara ekor membuka dan menutup ketika burung mengatur posisi di udara. Gerakan yang halus dan terkontrol menandakan keseimbangan bagus. Ekor yang terus bergetar tanpa kendali membuat burung cepat kehilangan ketinggian.
17. Sapit urang
Sapit urang adalah bagian di bawah ekor yang berbentuk seperti capit udang. Pada merpati tinggian, sapit urang yang rapat dipercaya membuat burung turun lebih pelan dan terkendali, sedangkan yang berjarak lebar membuat turunnya lebih cepat. Penggemar lapak sering menjadikan bagian ini sebagai pertimbangan terakhir sebelum memutuskan membeli.
Menilai Calon Burung Sebelum Membeli
Tidak semua tanda di atas harus sempurna pada satu ekor burung. Yang perlu dilakukan adalah menimbang mana ciri yang paling berpengaruh pada gaya main yang diinginkan, lalu memeriksa sisa tanda lainnya sebagai pendukung. Burung dengan struktur tubuh bagus tetapi gaya terbang berantakan tetap sulit dibentuk menjadi juara, sementara burung dengan struktur biasa tetapi punya dorongan terbang besar masih punya peluang besar jika dilatih dengan benar.
Setelah calon burung dipilih, tahap berikutnya adalah latihan bertahap. Burung piyik biasanya mulai dilatih ringan dulu sebelum dilepas ke jarak dan ketinggian penuh, seperti diuraikan pada artikel melatih merpati piyik untuk tinggian. Untuk melihat ragam burung yang masuk kategori ini di portal, kunjungi halaman kategori merpati tinggian.
Kesimpulan
Mengenali ciri merpati tinggian pada dasarnya adalah melatih mata dan tangan: melihat bentuk tubuh, meraba struktur, lalu mengamati perilakunya di lapak. Semakin sering membandingkan burung satu dengan yang lain, semakin cepat pola penilaian terbentuk. Jangan terburu-buru memutuskan hanya karena satu ciri menonjol, karena kualitas merpati tinggian selalu merupakan hasil gabungan antara bentuk fisik, gaya terbang, dan perawatan yang konsisten.
Sumber: arenahewan.com (disadur ulang dan diperbarui)
Komentar