Hobi merpati tinggian kolong di Indonesia tumbuh dari gabungan dua tradisi lama: tinggian lapak dan balap sarlung. Keduanya sama-sama menonjolkan sisi seni dari terbang merpati, dan dari perpaduan itulah lahir format yang sekarang dikenal sebagai tinggian kolong. Perkembangannya tidak lepas dari kerja keras para mania agar hobi ini jadi aktivitas yang nyaman dan aman, termasuk perubahan kecil yang ternyata berdampak besar: penggunaan bantalan di area finish.

Tinggian Lapak dan Balap Sarlung sebagai Akar

Sebelum ada kolongan, para penghobi sudah menikmati merpati tinggian lapak. Lomba dianggap sah dan layak dinilai ketika kedua merpati terbang tinggi dan bertahan saling tempel. "Kalau kondisi seperti ini, maka lomba dikatakan sah. Ada kalah dan menang," tutur mania senior tinggian kolong dari Tasikmalaya.

Sementara itu, dari balap sarlung diadopsi peran joki dan ngeber. Bedanya, pada sarlung betina sengaja dibuat tak bisa terbang dengan menggodi sayapnya memakai tali. Betina kemudian dilempar ke kotak berbatas begitu jantan mendekati finish. Siapa yang lebih dulu masuk kotak itulah pemenangnya — sebaliknya, kalau pejantan lawan keluar dari batasan, joki harus menunggu jantan sendiri masuk kotak dulu.

Lahirnya Format Merpati Tinggi Kolong

Dari kedua format itulah muncul ide menambah variasi baru. Di daerah finish dipasang empat bambu yang di atasnya diberi pembatas tali. Pembalap harus turun dari ketinggian dan masuk ke dalam kolong itu, bukan sekadar mendarat di sekitarnya. Dinamakan tinggi kolong karena burungnya terbang tinggi dan berakhir masuk kolong; masuk di samping kolong berarti diskualifikasi.

Masuk kolong bukan hal mudah. Dibutuhkan merpati bertrah terbang tinggi, sanggup turun menukik dengan deras menuju betina, ditambah kecepatan terbang dan gaya gandeng lawan. Bila keempatnya sudah menyatu, barulah jadilah merpati tinggian kolong.

Kenapa Patek Diganti Bantalan

Dulu di area finish tidak ada bantalan — burung langsung jatuh ke tanah. Risikonya tinggi, apalagi mengingat merpati turun di atas joki dan kerap terpental. Kejadian memang jarang karena merpati terbiasa mengerem lewat bulu ekornya, tetapi tetap saja celah bahayanya ada.

Seiring waktu, kesadaran itu berubah seiring naiknya nilai burung. Harga merpati kini bukan lagi jutaan, melainkan puluhan juta dan bahkan lebih dari Rp 100 juta. Karena itu panitia dan komunitas tinggian kolong memutuskan memakai patek berbantalan dengan ketinggian sekitar 75 cm sampai 1 meter, di atasnya diberi alas empuk agar tidak membahayakan burung.

"Dengan cara ini, risiko kematian merpati cukup kecil dan mania merasa puas, serta tidak dihanturi oleh kematian merpati pada saat turun ke betinanya," ujarnya. Prinsipnya sederhana: setiap risiko memang selalu ada, tapi kalau bisa diperkecil semaksimal mungkin, mengapa tidak? Dengan begitu mania lebih nyaman saat latihan maupun lomba.

Tiga Hal yang Menentukan Sukses Masuk Kolong

  • Trah terbang tinggi — garis keturunan harus punya kemampuan naik ke ketinggian yang dibutuhkan format kolongan.
  • Kecepatan dan menukik — burung harus bisa turun deras tepat ke arah betina, bukan melayang-layang di samping kolong.
  • Gaya gandeng — kemampuan menempel lawan saat giring menentukan siapa yang lebih dulu menembus finish.

Kalau kamu tertarik mendalami format ini, mulailah dari mengenali perbedaannya dengan merpati balap, lalu latih burung dari jarak dekat sebelum naik ke ketinggian penuh.

Baca juga: Perbedaan Merpati Balap dan Merpati Tinggi Kolong yang Perlu Diketahui, Cara Melatih Merpati Agar Terbang Tinggi dan Tahan Lama, serta Poin Katuranggan yang Wajib Diketahui Pemula.

Sumber: omkicau.com