Dunia merpati pos balap Belgia kembali menyajikan cerita menarik akhir pekan ini. Kristof Verstraete, pemilik Loft Verstraete Pigeons asal Wielsbeke, Barat Flanders, mencatat hasil ganda yang jarang terjadi: merpati mudanya menempati posisi 1 dan 2 dalam klasemen Provinsi Chateauroux. Dua burung dari kandang yang sama itu mendarat di loft dengan selisih waktu yang sangat tipis, sekitar dua detik saja, dari total lebih dari 14.000 merpati yang dilepas di balapan ini.

Debut Musim yang Ditutup dengan Prestasi

Chateauroux merupakan salah satu balapan klasik untuk kategori merpati muda di Belgia. Dalam balapan sejauh 470 kilometer ini, Loft Verstraete mengirim 75 ekor. Mereka dilepas bersama belasan ribu merpati dewasa dan muda dari berbagai loft, dan hanya dua burung dari Barat Flanders yang berhasil menembus kecepatan mendekati 1.194 meter per menit — keduanya mendarat di loft yang sama di Wielsbeke.

Merpati pertama yang tiba adalah betina bernama Jessica, unggul tipis dua detik atas jantan bernama Special Blue. Selisih kecil itu sudah cukup untuk mengunci gelar juara 1 dan 2 Provinsi West Flanders dari 2.675 peserta, sekaligus menggenapi catatan 15 hadiah dari 10 ekor yang dikirim tim itu. Bagi sebuah loft yang baru memulai ulang (restart) di awal 2026, capaian ini tergolong luar biasa.

Sebelum kembali ke loft sendiri, Kristof sempat bekerja sebagai pengelola koloni Hooymans di Desselgem dan meraih beberapa sorotan nasional. Namun dorongan untuk kembali berlomba atas namanya sendiri akhirnya membawanya pulang ke Wielsbeke dengan tim yang mayoritas berisi merpati tahun lalu (yearlings) dan kelompok merpati muda yang sangat kuat. Sebelum hasil Chateauroux ini diumumkan, dirinya juga sudah dikenal sebagai peraih gelar ke-5 KBDB Nasional Ace Pigeon Yearlings.

Silsilah Kelas Atas di Balik Kemenangan

Kualitas Jessica tidak datang dari kebetulan. Burung itu merupakan hasil silangan garis Finn dari Tom dan Marnik Van Gaver dengan darah unggulan Anthony Maes, ditambah sedikit sumbangan kandang Verschoot (Contador) dan PEC dalam silsilahnya. Special Blue, yang hanya kalah dari rekannya sendiri dalam sprint milimeter, juga membawa nama-nama besar yang sama: Van Gaver, Verschoot (Armando), dan PEC. Kombinasi ini menjelaskan mengapa kedua burung mampu tampil konsisten di jarak menengah seperti Chateauroux.

Pencapaian Chateauroux ini sebenarnya bukan satu-satunya di musim ini. Sebelumnya, tim Loft Verstraete juga mencatat kemenangan zonal di Argenton lewat merpati muda bernomor ring '631', sekaligus menempati posisi 22 nasional dari 15.769 peserta. Bagi penghobi merpati di Indonesia, seri ini menegaskan bahwa merpati muda sekalipun bisa bersaing di ribuan pesaing selama pemilihan indukan, perawatan, dan penjadwalan latihan tertata rapi — prinsip yang sama berlaku di lomba merpati pos mana pun. Di sisi lain, negara asal balapan ini sendiri sedang gencar menggaungkan status budaya: Belgia mengajukan petisi agar merpati balap diakui sebagai warisan budaya tak benda.

Kini fokus Loft Verstraete beralih ke musim 2027, di mana tim yearlings mereka diprediksi semakin matang. Sementara itu, sejumlah anak hasil breeding loft ini dijadwalkan dilelang lewat situs PIPA pada pertengahan Oktober mendatang.

Sumber: PIPA.be