Dunia merpati pos balap Belgia kehilangan salah satu nama besarnya. Sven Fierens, peternak asal Sint-Katelijne-Waver yang kini berusia 54 tahun, memutuskan gantung sepatu dari olahraga yang digelutinya sejak usia delapan tahun. Alasannya sederhana: ia ingin memulai hidup baru di Thailand.
"Ini hobi yang menyita hampir sepanjang hari saya. Tapi sekarang, di usia 54, saya sadar saya ingin sesuatu yang lain dalam hidup. Saya pindah ke Thailand dan meninggalkan olahraga merpati yang saya cintai," ujarnya seperti dikutip PIPA.
Spesialis jarak pendek dari Antwerp
Fierens bukan nama sembarangan di kancah merpati pos balap Eropa. Ia membangun reputasinya di kelas sprint alias speed race, yaitu kelas jarak pendek dalam olahraga merpati pos balap. Titik lepasnya relatif dekat, misalnya Quiévrain (sekitar 93 km) dan Noyon (sekitar 197 km). Kelas ini berbeda dengan nomor marathon atau fond yang menempuh ratusan kilometer, dan juga berbeda dengan disiplin balap sprint model keplekan atau geberan betina yang dikenal di Indonesia.
Fondasi koloninya adalah trah Pitbull milik Rudy Van Reeth. Dari situ ia menurunkan sederet merpati kecepatan yang konsisten berprestasi di wilayah Antwerp, salah satu kawasan paling kompetitif untuk nomor speed race.
Den Diamant dan Jonge Diamant
Puncak karier Fierens terjadi pada 2024. Seekor merpati blue chequer bernama Den Diamant dinobatkan sebagai Ace Pigeon Noyon di Diamantverbond, salah satu gabungan lomba terkuat di kawasan Berlaar. Catatan 2024-nya antara lain juara 1 dari 313 merpati, peringkat 2 dari 195, peringkat 3 dari 838, dan peringkat 4 dari 1.444.
Bukan hanya itu. De Jonge Diamant, merpati lain dari garis keturunan yang sama, menyabet gelar Ace Pigeon Yearlings di Diamantverbond. Keduanya merupakan anak dari Valtteri (BE18-6138081), pejantan unggulan yang menjadi tulang punggung peternakan Fierens. Selain dua nama itu, ada Yeti yang menang lima kali juara 1, Blondie yang menjadi nenek dari tiga pejantan juara, hingga Jarne yang menjadi Ace Pigeon Yearling di gabungan De Witte Duivin.
Seluruh koloni dilelang
Keputusan pindah ke Thailand membuat karier Fierens berakhir, dan PIPA menawarkan seluruh tim breeding dan racing miliknya dalam sebuah lelang. Deretan merpati juara 1 dan Ace Pigeon dari Diamantverbond maupun Provinsi Antwerp yang kemudian menjadi pejantan-pejantan produktif masuk daftar, dengan Den Diamant dan pejantannya Valtteri sebagai daya tarik utama.
Ini bukan kali pertama lelang merpati Belgia menyita perhatian dunia. Sebelumnya seekor merpati bernama New Kim dari Berlaar dekat Antwerp terjual sekitar Rp26 miliar dalam lelang online. Di Indonesia sendiri, merpati juara juga pernah dibanderol miliaran rupiah, seperti yang terjadi pada Merpati Rampok dari Pekalongan.
Di sepanjang musim 2026, koloni Fierens masih menunjukkan taringnya. Pada 22 April, ia menempatkan 18 dari 19 merpati di daftar hadiah Quiévrain 198 km, termasuk juara 1 dan 2. Sebulan berikutnya, pada 26 April di nomor Noyon yang diikuti 1.219 merpati, ia mencatat juara 1 dan peringkat 3 sekaligus meloloskan 18 dari 19 burung yang dikirim. Prestasi itu menjadi penutup manis sebelum ia benar-benar meninggalkan lofter-nya.
Baca juga: New Kim, Merpati Pos Rp 26 Miliar dan Penghargaan Nasional RPRA 2026. Untuk konteks harga di dalam negeri, lihat juga Merpati Rampok Harga Rp 2 Miliar.
Sumber: PIPA - Sven Fierens (Sint-Katelijne-Waver, BE): Sprint Champion Bids Farewell to His Speed Pigeons
Komentar