Di kalangan pemain merpati balap, nama Leonard bukanlah nama asing. Sebagian besar penghobi pasti pernah mendengarnya. Kepopulerannya wajar, karena prestasi dan banderol harganya cukup menggetarkan jagat lomba merpati tanah air.
Leonard adalah salah satu merpati balap legendaris Indonesia. Awalnya ia berasal dari ternakan Koh Apin (V&R Bandung), lalu berpindah tangan ke Koh Tekun di Medan. Ada kisah unik di balik kelahirannya: konon Leonard menetas dari telur induknya yang mati. Saat itu Koh Apin membeli burung dari kandang DR-8 dan indukan Leonard sedang giring, meninggalkan telurnya, dan tak lama kemudian induknya mati.
Juara Nasional Bertahun-tahun
Leonard dikenal sebagai merpati balap sprint yang menjadi juara nasional berturut-turut dari tahun 2002 sampai 2005. Kemampuannya yang stabil dari tahun ke tahun membuat banyak orang kagum. Prestasi sebesar ini tentu tak lepas dari perawatan yang cermat dari sang pawang.
Mengenal Silsilah dan Trah
Leonard lahir dari indukan betina kakak Putaw dan pejantan adik Beatle. Keduanya adalah burung jawara pada masanya. Silsilah atau trah memang jadi salah satu indikator yang memudahkan mencari merpati berkualitas. Trah bukan satu-satunya penentu, tetapi dengan mengetahui garis keturunan, penghobi lebih mudah menemukan burung bagus dan memanfaatkannya untuk kepentingan ternak. Panduan lengkap menentukan garis keturunan merpati balap bisa kamu baca di artikel tentang cara menentukan garis keturunan merpati balap berkualitas.
Harga Transfer yang Fantastis
Selain prestasinya, Leonard juga dikenal karena harga transfernya yang luar biasa mahal, sekitar 1 miliar rupiah. Bagi sebagian orang nominal itu terasa sangat besar, tetapi sebanding dengan torehan prestasinya. Merpati dengan harga fantastis memang bukan hal baru di Indonesia, seperti merpati jaguar dan merpati rampok yang juga pernah dijual dengan banderol miliaran rupiah.
Warisan Anak-Anak Leonard
Leonard meninggalkan banyak anakan berkualitas seperti Junior L, Singalaga, dan Leonard Junior. Sang legenda akhirnya mati pada umur sekitar 10 sampai 11 tahun di kandang Koh Tekun di Medan. Umur itu tergolong normal, karena rata-rata umur merpati memang berkisar antara 8 hingga 15 tahun.
Kisah Leonard membuktikan bahwa seekor merpati dengan perawatan dan manajemen yang benar bisa meraih prestasi luar biasa sekaligus mewariskan nama harum bagi generasi penerusnya.
Sumber: hewanpeliharaan.org
Komentar