Di tengah merebaknya wabah flu burung H5N1 di wilayah pesisir Australia bagian selatan, sebuah klub merpati pos di negara bagian Victoria justru tetap menggelar lomba jarak jauh. Keputusan ini memicu perdebatan sengit antara para penghobi merpati pos dan kelompok pencinta satwa liar.
Klub Merpati Warrnambool Rayakan Ulang Tahun ke-100
Klub Warrnambool Racing Pigeon Club berencana melepaskan 150 ekor merpati pos untuk terbang sejauh 320 kilometer dari kota Lascelles di region Wimmera menuju kandang mereka di Warrnambool. Lomba ini sekaligus menjadi perayaan hari jadi klub yang ke-100 dan menggalang dana untuk rumah sakit setempat.
Ketua vice-presiden klub Kevin Ashworth menyatakan keyakinannya bahwa lomba ini aman dilakukan. "Kami tidak memikirkan hal itu, kami hanya menjalankan apa yang diizinkan untuk dilakukan," ujarnya kepada ABC Australia.
Yang menarik, rute lomba ini dimulai dari Lascelles, sebuah kota di region Wimmera di mana flu burung H5 belum terdeteksi. Hal ini berbeda dengan wilayah pesisir barat Victoria di mana ratusan bangkai burung ditemukan bulan ini, diduga akibat H5N1. Mayoritas burung yang mati adalah Cinder Tern (Sterna sumatrana) yang ditemukan di pantai Portland.
Pemerintah Izinkan Lomba, Kelompok Satwa Protes
Departemen Energi, Lingkungan dan Aksi Iklim (DEECA) Victoria telah memberikan pengecualian kepada lomba merpati pos dari pembatasan pemeliharaan unggas yang diberlakukan akibat wabah flu burung. Dalam email yang dilihat oleh ABC, pejabat kepala dokter hewan DEECA menyatakan lomba merpati boleh dilanjutkan bahkan di area pesisir yang menerapkan pembatasan ketat.
Namun, David Mould dari organisasi advokasi Victorian Wildlife Alliance menentang keputusan tersebut. Ia menyebutnya sebagai "tindakan tidak bertanggung jawab" dari klub maupun pemerintah.
"Kita berbicara tentang risiko yang lebih rendah, dan memang benar merpati dikategorikan sebagai spesies dengan risiko lebih rendah," kata Mould. "Tapi saya tidak memahami mengapa kita harus mengambil risiko kecil sekalipun untuk aktivitas yang dianggap sia-sia bahkan kejam seperti lomba merpati."
Merpati Lebih Tahan, tapi Bukan Kebal
Merpati memang diyakini memiliki resistensi yang lebih tinggi terhadap flu burung dibandingkan sebagian besar spesies burung lainnya. Namun, bukan berarti mereka kebal sepenuhnya. DEECA dalam panduannya menyatakan merpati tetap bisa tertular penyakit ini. Bahkan merpati yang dikenal sebagai salah satu burung tercepat di dunia pun tetap rentan terhadap serangan virus mematikan ini.
Mould juga menyoroti masalah merpati yang tidak kembali setelah dilepaskan dalam lomba. "Setiap lomba yang dijalankan, beberapa dari burung-burung itu tidak akan pernah pulang ke rumah," ujarnya. "Ini adalah resep untuk menyebarkan penyakit sejauh dan seluas mungkin."
Sementara itu, Ashworth membantah adanya risiko penularan selama lomba. Ia menjelaskan merpati pelari terbang langsung dari titik pelepasan ke kandang tanpa berhenti, sehingga kemungkinan bersinggungan dengan burung liar sangat kecil. "Burung-burung itu punya kehendak bebas sendiri," katanya. "Anda berharap mereka pulang, tapi itu tergantung pada burungnya."
Lomba Merpati Pos: Tradisi yang Tetap Hidup
Lomba merpati pos telah menjadi tradisi yang dijalankan selama berabad-abad di berbagai belahan dunia. Dari Australia hingga Afrika Selatan, komunitas merpati pos tetap berkompetisi meskipun menghadapi tantangan cuaca dan kini juga ancaman penyakit. Di Afrika Selatan misalnya, lomba terbaru dari Xamdeboo menunjukkan bagaimana angin timur yang kuat memperlambat kecepatan terbang merpati secara signifikan, dengan selisih antara juara satu dan dua hanya dua detik.
Kontroversi di Warrnambool ini menggambarkan ketegangan yang terus berlangsung antara tradisi olahraga merpati pos dan kepedulian terhadap kesehatan satwa liar. Para penghobi merpati pos perlu memperhatikan tidak hanya aspek kompetisi, tetapi juga kesejahteraan burung mereka. Di satu sisi, merpati pos memiliki sejarah panjang sebagai komunikator dan atlet udara. Di sisi lain, penyebaran penyakit melalui burung yang dilepaskan secara massal tetap menjadi kekhawatiran yang perlu diperhatikan.
Sumber: ABC Australia - Pigeon racing still going ahead in Victoria's west despite bird flu outbreak
Sumber: ABC Australia (abc.net.au)
Komentar