Kegemaran masyarakat terhadap merpati balap terus meningkat, bahkan banyak kolektor rela mengeluarkan uang besar demi mendapatkan burung incaran. Kondisi ini membuat usaha pengembangbiakan dan jual beli merpati balap menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Dengan modal sekitar Rp 65 juta, seorang peternak bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp 35 juta, atau sekitar 53 persen, dari penjualan anakan berumur maksimal empat bulan. Keuntungan bisa berlipat jika burung dipelihara hingga usia 10 bulan, dilatih terbang, bahkan mencatat prestasi di arena lomba.
Kendala yang Perlu Diketahui
Meski terlihat menggiurkan di atas kertas, bisnis ini tidak semudah yang dibayangkan. Pasar merpati balap sangat spesifik dan umumnya mengenal musim. Kendala utama lainnya adalah belum adanya standardisasi mutu seperti pada peternakan kuda atau perkutut. Karena itu, siapa pun yang terjun ke bisnis ini wajib memahami seluk-beluk merpati balap, terutama dalam hal pemilihan bibit dan pemeliharaan.
Kriteria Bibit Unggul
Memilih bibit merpati bukan pekerjaan mudah karena belum ada kriteria baku yang diakui masyarakat awam. Namun secara umum, bibit yang bagus memiliki ciri:
- Keturunan merpati balap juara.
- Badan seimbang, sayap kiri dan kanan simetris.
- Saat sayap dikepakkan, kedua ujungnya bertemu membentuk lingkaran.
- Memiliki mental juara.
Perbedaan merpati biasa dengan merpati balap sering terlihat dari bentuk bulu sayap: bulu sayap merpati balap cenderung membulat sehingga kecepatan terbangnya tinggi. Meski begitu, menilai bibit berdasarkan kriteria tersebut tetap butuh jam terbang dan pengalaman.
Resep untuk Pendatang Baru
Bagi pemula, ada dua resep yang disarankan. Pertama, belajar sungguh-sungguh dan melibatkan orang yang sudah paham seluk-beluk merpati balap. Jangan membeli bibit tanpa ditemani ahli. Kedua, terjun langsung ke lingkungan pecinta merpati balap, rajin mengikuti perlombaan, dan membangun jaringan. Jaringan penggemar inilah yang banyak mengendalikan harga, karena mereka tahu persis siapa konsumen potensial dan indukan mana yang paling layak.
Indukan mantan juara dianggap semacam jaminan bahwa anakannya kelak juga akan jadi jagoan. Namun perlu diingat, jika belum punya nama di kalangan penggemar, harga jual burung bisa jatuh di bawah peternak lain yang lebih terkenal. Untuk menelusuri silsilah, pembeli bisa mengandalkan cincin atau ring di kaki burung, meski ring palsu juga kerap beredar. Karena itu, lacak asal-usul burung lewat jaringan penggemar yang terpercaya.
Peran Joki dan Perawatan
Faktor keturunan saja tidak menjamin kemenangan. Burung perlu dibimbing joki yang melatih sesuai karakter masing-masing. Selain itu, dukungan jamu dan suplemen secara teratur, dari racikan tradisional seperti telur ayam kampung, madu, dan kunyit hingga vitamin, juga berperan besar menjaga kondisi burung tetap prima.
Bisnis beternak merpati memang penuh tantangan, tetapi dengan ketekunan dan jaringan yang kuat, setiap kendala pasti ada solusinya. Baca juga kisah sukses lainnya di artikel Mike Tyson membeli kandang merpati seharga Rp 1,4 miliar sebagai gambaran besarnya pasar burung ini.
Komentar