Mampu kembali ke kandang setelah dilepas di tempat yang asing bikin merpati terlihat seperti punya "GPS alami". Padahal yang terjadi jauh lebih rumit dari sekadar mengikuti arah kompas. Untuk menentukan posisi relatifnya dan memilih arah yang benar, merpati memakai beberapa sistem navigasi sekaligus, lalu menggabungkannya sesuai situasi yang sedang dihadapi.
Isyarat yang dipakai antara lain matahari, landmark visual di sekitar lokasi lepas, dan medan magnet bumi. Pemakaian tiap sistem bergantung pada kondisi lapangan — terutama cuaca. Berikut penjelasan masing-masing sistem beserta hasil penelitian yang pernah mengujinya.
Landmark Visual
Percobaan William Keeton pada 1974 sempat menurunkan pamor landmark visual di kalangan peneliti perilaku burung. Kala itu merpati yang matanya ditutup lensa buram tetap mampu menemukan jalan pulang, sehingga banyak yang menganggap penglihatan bukan faktor utama.
Namun penelitian Chappell dan Guilford (1997) bersama Burt dan rekannya (1997) menunjukkan temuan berbeda: merpati ternyata sangat bergantung pada pemandangan di sekitar lokasi saat menentukan jalan pulang. Dalam percobaan lain, merpati yang ditempatkan di ruangan besar tertutup berhasil menemukan makanan yang disembunyikan tanpa bantuan matahari sama sekali.
Variasi percobaan itu membandingkan merpati yang sempat diberi waktu terbang mengitari lokasi dengan merpati yang tidak pernah melihatnya. Hasilnya, kelompok pertama pulang 16% lebih cepat. Dari situlah disimpulkan bahwa pemandangan sekitar adalah salah satu alat navigasi pertama yang dipakai merpati untuk mengenali jalur pulang. Tak heran bila merpati tidak selalu terbang lurus menuju kandang — ia menyusun rute berdasarkan objek yang dikenalnya.
Petunjuk Medan Magnet
Keeton mencatat pada 1969 bahwa merpati yang terbang dalam keadaan mendung pulang dengan deviasi tinggi setelah beberapa kali dilepas. Ia lalu menyimpulkan bahwa matahari tetap menjadi kompas utama, sedangkan saat matahari tertutup merpati beralih ke sistem lain.
Tahun 1971 ia menguji hipotesis itu dengan menempelkan sejumlah magnet pada tubuh burung. Pada hari mendung, sebagian besar merpati kebingungan bahkan tidak kembali. Percobaan diulang saat cuaca cerah, dan burung pulang dengan baik. Selain membuktikan adanya kompas sekunder yang bekerja di bawah awan, percobaan ini juga memperlihatkan bahwa merpati muda sering tersesat walau matahari terang — mereka belum cukup pengalaman memakai petunjuk medan magnet.
Walcott dan Green (1974) memperkuat temuan itu dengan kumparan Helmholtz yang memanipulasi medan magnet bumi di sekitar merpati. Saat uji dilakukan pada hari mendung dengan kutub utara diarahkan ke langit, burung yang dilepas justru menyimpang 180 derajat dari arah pulang yang benar. Penelitian Gould (1982), Wiltschko (1991), dan Walcott (1996) lalu menunjukkan bahwa merpati menyimpan peta geomagnetik dari tempat yang pernah dikunjunginya. Karena medan itu bisa berubah akibat petir, awan bermuatan listrik statis, dan badai matahari, kecepatan dan ketepatan pulang ikut terganggu.
Kompas Matahari
Pada 1950, Gustav Kramer menguji peran matahari dengan meletakkan makanan di ruangan yang disinari penuh cahaya. Merpati menemukannya tanpa kesulitan. Ketika arah cahaya dibelokkan dengan cermin, orientasi burung ikut bergeser searah perubahan itu. Dengan memanipulasi posisi matahari pada jam tertentu, Kramer menemukan orientasi burung bergesar sekitar 15 derajat untuk setiap jam yang digeser. Angka inilah yang membuktikan merpati memiliki jam internal yang bekerja bersama posisi matahari untuk menghitung arah.
Rangkuman untuk Latihan Sehari-hari
Merpati memilih sistem navigasi berdasarkan kondisi: landmark saat pemandangan jelas, matahari saat langit terbuka, dan medan magnet saat mendung. Karena itu beberapa langkah pencegahan layak diterapkan saat melatih burung.
Hindari melepas latihan saat mendung tebal. Bila ada perubahan di sekitar kandang — pemasangan umbul baru, rumah yang dibangun, atau pohon yang ditebang — lakukan adaptasi secara bertahap supaya pemandangan baru tersimpan pelan-pelan di ingatan burung. Jauhkan kandang dari sumber magnet besar seperti bekas tabung televisi atau peralatan elektronik berikut magnet kuatnya. Hal ini penting karena sensor magnet merpati dipercaya berada di sebagian paruh yang kaya kandungan besi.
Untuk memahami lebih lanjut cara burung menyusun ingatan arah, baca juga Bagaimana Burung Merpati Tahu Jalan Pulang. Panduan praktisnya ada di Cara Meningkatkan Homing Burung Merpati Pos Racing.
Penulis: Nyonyo_81. Disadur dari forum lama merpati.org.
Komentar