Suara merpati memang terdengar monoton, tapi kemampuan terbangnya justru bisa dipertandingkan. Dua lomba merpati yang paling populer di Indonesia adalah merpati balap dan merpati tinggian. Keduanya sama-sama menuntut burung yang cepat, hanya saja medan, jarak, dan targetnya berbeda.
Merpati balap dilatih untuk adu kecepatan pada jarak pendek menuju garis finish. Jarak start dan finish umumnya berkisar 500 sampai 1200 meter, dijalur lurus tanpa hambatan seperti lapangan atau sawah. Merpati tinggian kebalikannya: burung harus terbang setinggi mungkin lebih dulu, baru turun cepat menuju titik pendaratan yang sudah ditentukan. Turunnya tidak boleh asal-asalan, karena arah dan titik masuk ke petak pendaratan itulah yang dinilai.
Karena cara mainnya berbeda, burung yang dilombakan pun tidak sama. Panduan memilih burung untuk disiplin ini bisa dibaca di Cara Memilih Merpati Tinggian.
Jenis Lomba Merpati Tinggian
Merpati Kolong. Burung terbang sejauh 1-2 km, lalu turun atau terjun melewati kolong berbentuk kotak. Ada dua varian: merpati kolong meja bila setelah melewati kolong burung hinggap di meja, dan merpati kolong bebas bila tidak ada mejanya. Kecepatan terbang bukan ukuran utama; yang menentukan adalah burung melewati lubang kotak lebih dulu daripada lawan. Aturan resminya bisa dilihat di Peraturan Lomba Merpati Kolongan Meja PMTI.
Merpati Tomprang. Tingkat kesulitannya lebih tinggi karena jarak tempuh mulai 4 sampai 6 km. Aturan pendaratan berbeda-beda tergantung kesepakatan para peserta lomba. Biasanya yang diperhitungkan adalah sudut turun atau dive sesuai arah jam 9, 10, 11, dan 12 sampai menyentuh tanah.
Merpati Kentong. Inilah yang paling sulit di antara ketiganya, sebab burung harus terbang dengan jarak lebih dari 6 km. Aturan lomba juga tergantung peserta, tetapi umumnya burung yang hinggap ke kandang lebih dulu-lah yang dianggap menang.
Ketiganya menuntut burung pilihan dengan dua modal utama: stamina untuk terbang jarak jauh dengan cepat, dan intelegensi untuk mengenali titik pendaratan serta tempat finish yang tepat.
Ciri Fisik Merpati Tinggian Berkualitas
Kualitas burung tinggian bisa dikenali dari katuranggan, yaitu bentuk bagian tubuh yang selama ini dipakai penangkar untuk menyeleksi calon burung main. Sekilas tentang tradisi membaca tubuh merpati ini ada di Apa Itu Katuranggan?. Bagian yang perlu diperhatikan meliputi kepala, mata, paruh, hidung, leher, sayap, dada dan tulang dada, supit udang, brutu, ekor, serta kaki.
Kepala. Bentuknya besar dengan batok kepala bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang atau nonong. Dari pangkal hidung ke atas batok kepala sebaiknya membentuk sudut kemiringan 45 sampai 60 derajat. Sudut 90 derajat justru dihindari, karena burung dengan bentuk kepala seperti itu hanya pandai turun dari arah jam 12 saja.
Paruh. Runcing pada bagian ujung, tidak terlalu besar dan tidak terlalu panjang. Patokan pentingnya: jarak dari ujung hidung ke paruh sebaiknya lebih pendek daripada jarak dari ujung hidung ke batok kepala depan.
Mata. Pupil berwarna hitam pekat dan mampu menyesuaikan cahaya, mengecil saat terang dan membesar saat redup. Kaca mata atau cincin bulat di sekitar biji mata juga penting; burung yang sering juara umumnya punya kaca mata yang menempel dan berwarna hijau. Untuk warnanya, kombinasi yang bagus adalah kuning tua dengan kuning muda, merah tua dengan hijau tua, serta merah muda dengan putih. Perpaduan warna ini baru terlihat jelas di tempat yang teduh.
Hidung. Jangan memilih hidung berbentuk kecil dengan pangkal lurus. Burung berhidung seperti ini sering terbang jauh tetapi lama kembali, bahkan kadang hilang.
Leher. Tidak terlalu panjang, tapi kuat, tegak, dan kencang. Saat burung tidak sedang mendongak, leher harus bisa mengendur atau menekuk kembali seperti semula, dan panjangnya sedikit lebih pendek dari tulang dada.
Sayap. Kuat tapi lentur, tidak kaku. Bulu sayap lebar dengan jarak antarbulu rapat dan ujungnya runcing. Tulang bulu sayap berukuran besar serta kuat, namun tetap lentur pada bagian ujungnya.
Dada dan tulang dada. Dilihat dari depan, dada yang bagus berbentuk V. Burung bercorak dada V dapat turun dengan cepat dari arah mana pun, sedangkan bentuk O atau elip membuat kecepatan turun menurun saat sudutnya agak condong. Tulang dada sebaiknya juga berbentuk tanda centang atau V, agar tubuh burung tidak goyang atau bergetar ketika turun dari ketinggian.
Supit udang. Bagian ini menentukan kualitas turun. Supit yang rapat membuat burung turun pelan-pelan, sedangkan jarak 0,5-1 cm biasanya membuat burung megol atau goyang saat turun. Bentuk terbaik adalah supit udang dengan jarak lebih dari 1 cm, karena burung tidak goyang-goyang saat turun. Istilah lengkap seputar bagian ini dibahas di 'Supit Udang' dan Istilah Katuranggan Lain yang Bikin Bingung Pemula.
Pinggang atau brutu. Sebaiknya dekat atau rapat dengan tubuh. Kalau jaraknya renggang, burung bermasalah saat turun dari langit: kecepatan lambat, tidak seimbang, tiba-tiba berbelok, dan sulit mengerem saat mendarat sehingga risiko kecelakaan meningkat.
Ekor. Bulunya rapat, tebal, dan panjang; saat dipegang terasa menyatu. Ciri ini menandakan pinggang atau brutu berukuran kecil, yang membuat burung tidak goyang saat turun.
Kaki. Idealnya panjang, merit, dan mbesisik. Saat dipegang, posisi kaki mengarah ke belakang menyesuaikan ekor.
Fisik yang bagus saja belum cukup. Kualitas burung tinggian juga ditentukan oleh keturunan atau indukan, serta pakan dan perawatannya. Burung dengan bodoh fisik prima tapi perawatan seadanya tentu tidak akan maksimal di lapangan, jadi pilihlah burung yang utuh: ciri fisik, garis keturunan, pakan, dan perawatan.
Sumber: burungnya.com
Komentar