Jika selama ini merpati termahal yang ramai dibicarakan adalah Jayabaya yang laku Rp 1 miliar, kini ada tandingannya: Merpati Garong milik Agus Irianto yang ditawar hingga Rp 1,7 miliar. Burung ini sudah sering juara, bahkan mengoleksi hadiah 6 unit mobil ditambah motor yang tak terhitung jumlahnya.
Pemilik dan Asal Usul Team AG Jarang Tidur
Merpati Garong dimiliki oleh Agus Irianto dari team AG Jarang Tidur, Trondol, Kota Serang, Banten. Nama "AG" diambil dari inisial pemiliknya, Agus, yang juga menggeluti usaha ternak sapi dengan nama PD AG. Adapun "Jarang Tidur" muncul karena keseharian Agus: malam hari ia harus ke rumah potong untuk memotong sapi, kemudian ke pasar, dan baru sampai rumah sekitar jam 8 pagi. Dari situlah penangkaran merpatinya dijuluki team AG Jarang Tidur.
Awal Mula Merpati Garong
Team AG Jarang Tidur mulai dikenal berkat prestasi Merpati Ababil — burung yang sayangnya sudah tidak ada. Kini maskot timnya adalah Merpati Garong.
Dulu burung ini berasal dari team kecil, namun kualitasnya sangat bagus. Agus sempat menawar dua kali dan tidak dilepas, bahkan meminta bantuan teman untuk menawarnya — tetap ditolak. Hingga akhirnya sang pemilik yang sedang membutuhkan dana melepas burung tersebut kepada Agus. Menariknya, di team lamanya burung ini bernama BMW, lalu berganti nama menjadi Garong setelah pindah tangan.
Prestasi: 6 Mobil dan Segudang Hadiah
Menurut penuturan Agus, Garong jarang menjadi juara 1 di event pemanasan, tetapi selalu tampil sebagai juara 1 di event-event akbar. Total hadiah mobilnya mencapai 6 unit — 4 mobil baru dan 2 mobil second — ditambah hadiah motor dan tabanas yang sudah tidak terhitung jumlahnya.
Tawaran Rp 1,7 Miliar yang Ditolak
Burung ini sempat ditawar langsung kepada jokinya dengan harga Rp 1,5 miliar, yang kemudian naik hingga Rp 1,7 miliar. Tawaran fantastis itu tetap ditolak. Alasannya sederhana: Garong selalu membanggakan pemiliknya, sehingga sayang rasanya melepasnya berapa pun harganya.
Manajemen Kandang dan Joki
Kini burung di team AG Jarang Tidur mencapai ratusan ekor, terbagi dalam beberapa kategori: burung player, burung ternak, burung piyikan, burung jantan-betina, hingga burung babuan khusus lolohan. Setiap burung dirawat sama, tanpa dibeda-bedakan — Agus hanya sebagai pemilik, sementara perawatan harian dipegang oleh para joki seperti Beti, Misdal, Mas Kecap/Yudi, Ayumi Cumi, Gobet/Ovi, dan Muad/Al.
Perawatan harian dimulai jam 07.00: burung dikeluarkan dari dupon dan dijemur sekitar 4 jam hingga jam 12.00, lalu diberi kacang dan diistirahatkan di kandang. Pemberian makan utama berupa jagung mulai jam 16.00–17.30, dan vitamin hanya diberikan untuk burung yang kurang sehat. Kebersihan kandang dijaga ketat — setiap kandang memiliki satu kran air yang mengalirkan kotoran langsung ke jalur pembuangan.
Trah Garong Sudah Beranak Pinak
Saat ini trah Merpati Garong sudah memiliki adik, anak, hingga cucu yang semuanya berhasil diternak. Agus membolehkan siapa saja membeli keturunan Merpati Garong yang diminati.
Kesimpulan
Banyak yang menyayangkan Garong tidak dilepas di harga Rp 1,7 miliar. Namun bagi Agus, kasih sayang terhadap burung tertentu melebihi jumlah uang berapa pun. Dibanding kehilangan maskot andalan, ia memilih tetap merawat dan membanggakan burung kesayangannya. Kisah serupa juga mewarnai Merpati Jaguar yang laku Rp 1,5 miliar dan New Kim, merpati pos termahal Rp 26 miliar.
Komentar