Bicara merpati tinggian di Jakarta, namanya tidak bisa dipisahkan dari Posmeti Pulomas — Perkumpulan Olahraga Seni Merpati Terbang Tinggi. Di sinilah para penggemar merpati tinggian berkualitas berkumpul. Karena ketenarannya, burung-burung dari lapangan ini selalu disegani dan kerap menjuarai kejuaraan nasional.
Lapangan di Jantung Jakarta Timur
Para anggota Posmeti Pulomas berlatih di lapangan yang berada di samping gedung lama Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Jalan Pulomas Barat. Perkumpulan yang diketuai Om Sugih ini memiliki 7 lapak atau kandang dengan kode warna berbeda sebagai penanda tim — misalnya lapak pink, kuning, hijau, dan sebagainya.
"Kami berlatih setiap Sabtu dan Minggu, mulai jam dua siang hingga jam lima sore," tutur Om Sugih.
Tiga Agenda Penting
Ada tiga agenda penting yang belum lama ini digelar: kejuaraan antarkandang, Best of The Best (BOB), dan Teguh Cup. Teguh Cup digelar sebagai bentuk penghormatan para merpati mania di lapangan ini terhadap dedikasi Om Teguh, pendiri Posmeti Pulomas 20 tahun silam.
"Karena jasa-jasa beliau, akhirnya kami bisa mendapat tempat latihan di lokasi ini," jelas Om Kawi Salim, tokoh sekaligus salah satu pemilik kandang di lokasi tersebut. Menurutnya, Om Teguh mendirikan Posmeti Pulomas dan menyediakan berbagai fasilitas tanpa pamrih. "Even Teguh Cup baru pertama kali kita gelar, sebagai ucapan terima kasih para penggemar merpati di Pulomas," tambahnya.
Kandang Pink dan Merpati Raden
Dari tujuh kandang atau lapak yang ada, yang paling populer adalah Kandang Pink milik Om Kawi Salim. Kandang berkekuatan 11 orang kru ini kerap menjuarai turnamen di Pulomas, termasuk memenangi Teguh Cup.
Salah satu andalannya adalah merpati Raden. Meski usianya baru 1,5 tahun, Raden mampu menjuarai Teguh Cup. Raden merupakan hasil breeding Om Kawi — induk jantannya bernama Halmahera, sedangkan induk betinanya trah Batigol. Semua merpati hasil ternaknya memakai ring Raja.
Kandang Ternak Terpisah, Fokus Total
Kandang ternak sengaja ditempatkan terpisah dari lapak agar lebih fokus. Kandang yang berada di seberang lapangan itu tertata rapi dan ideal. Sudah banyak merpati tinggian ring Raja yang berprestasi — bahkan sejak umur 4 hingga 8 bulan, banyak gaco orbitannya yang teruji di lapangan.
Sayangnya, Om Kawi belum berniat mengkomersilkan merpati hasil penangkarannya. "Soalnya hanya punya belasan pasangan induk saja, belum banyak. Untuk sementara kita gunakan sendiri untuk mainan di lapangan, sekadar hobi," ujarnya.
Posmeti Pulomas membuktikan bahwa komunitas merpati kolongan yang solid, dirawat dengan dedikasi, mampu melahirkan jawara-jawara dari generasi ke generasi.
Komentar