Hidung merpati, atau yang dalam istilah teknis disebut cere, adalah bagian kecil di atas paruh yang sering terlupakan saat memilih burung. Padahal, bagi penghobi berpengalaman, cere bisa jadi salah satu penanda kualitas — kalau tahu cara membacanya.

Apa Itu Cere?

Cere adalah lapisan lunak berwarna putih atau keabuan yang menutupi pangkal atas paruh merpati. Bentuknya bervariasi antar individu: ada yang besar dan menggembung, ada yang kecil dan rapat. Di sinilah katuranggan mulai bermain — orang Jawa percaya bahwa bentuk dan warna cere bisa mengungkap kualitas terpendam si burung.

Cere Besar vs Kecil: Mana yang Lebih Bagus?

Tidak ada jawaban mutlak. Cere besar dan menggembung pada strain tertentu justru menjadi ciri khas merpati unggul. Menurut pengalaman penghobi di daerah Brebes, merpati dengan hidung besar, panjang, dan warna kapur pekat menunjukkan kualitas yang baik. Sementara itu, cere kecil dan menggembung adalah ciri khas strain Jawa — seperti Jawa Sungut atau Jawa Deles — yang juga terbukti berkualitas tinggi di lapangan.

Kuncinya bukan ukuran semata, tapi kombinasi: bentuk, warna, dan posisi cere terhadap paruh.

Warna Kapur Pekat dan Garis Samar

Penghobi senior sering mencari cere dengan warna kapur pekat — tidak pudar atau belang. Pada merpati berkualitas tinggi, warna kapur pekat ini kadang menampakkan garis-garis samar berwarna merah sejajar di seluruh permukaan hidung. Ciri ini, dipadukan dengan pangkal hidung bagian bawah yang menjorok ke belakang, dianggap sebagai tanda merpati unggul dalam tradisi katuranggan.

Namun, perlu diingat bahwa warna cere juga berubah seiring usia. Merpati muda umumnya memiliki cere yang lebih halus dan cerah, sementara merpati yang sudah tua akan memperlihatkan cere yang lebih besar, keriput, dan berkerak — sebuah indikator kesehatan, bukan kualitas terbang.

Mitos yang Perlu Diluruskan

Beberapa penghobi percaya bahwa cere berwarna tertentu menandakan merpati galak atau penurut. Faktanya, warna cere lebih berkaitan dengan faktor genetik dan hormonal daripada karakter mental. Merpati jantan dewasa memang cenderung memiliki cere yang lebih gelap dan tebal dibandingkan betina, tapi ini bukan jaminan performa di lapangan.

Yang lebih bisa diandalkan adalah konsistensi bentuk cere dengan garis keturunan. Merpati dari trah juara umumnya memiliki pola cere yang serupa antar generasi — sebuah petunjuk genetik yang layak diperhatikan, meski bukan satu-satunya faktor penentu.

Tips Pemula: Jangan Cuma Lihat Hidung

Jika baru mulai mengenal katuranggan, jangan menjadikan cere sebagai satu-satunya patokan. Perhatikan juga mata kecubung, bentuk kepala, dan paruh. Kombinasi ciri fisik inilah yang membentuk gambaran utuh tentang kualitas merpati.

Cere yang sehat seharusnya bersih, tidak berkerak berlebihan, dan tidak luka. Jika ada kotoran menempel atau bengkak, bisa jadi itu tanda masalah kesehatan — bukan katuranggan. Merawat cere dengan menjaga kebersihan kandang dan nutrisi yang cukup adalah langkah awal yang lebih berguna daripada sekadar menebak makna warnanya.

Sumber referensi: pengalaman penghobi merpati di daerah Brebes; tradisi katuranggan Jawa. Baca juga seri lengkap tentang Apa Itu Katuranggan dan teknik Raba Wangkongan.