Setiap penghobi pasti ingin tahu apakah burung yang dimilikinya berkualitas atau tidak. Ada banyak cara yang biasa dipakai, salah satunya dengan meraba dan mengamati anatomi tubuh merpati — praktik yang sering disebut juru grepe. Metode ini menjadi populer setelah dipopulerkan oleh Steven van Breemen, pemain, peternak, sekaligus penulis buku merpati asal Belanda dengan pengalaman lebih dari 50 tahun.

Kualitas Tidak Bisa Dinilai dari Satu Ciri Saja

Menurut Breemen, menilai seekor merpati tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat satu bagian tubuh tertentu. Burung yang bagus atau jelek ditentukan oleh gabungan seluruh properties — yaitu keseluruhan yang dimiliki seekor merpati, baik yang terlihat seperti anatomi, maupun yang tidak terlihat seperti mental, bakat, dan kondisi organ dalam.

Bisa saja seekor merpati memiliki mata yang indah, otot yang kuat, dan bulu yang bagus. Tetapi semua itu tidak ada artinya kalau burung tersebut punya gangguan pada hati (liver). Gangguan liver tidak bisa dilihat atau dirasakan dari luar, padahal organ ini berfungsi seperti tangki bensin pada kendaraan. Kalau tangki bensinnya bocor, burung akan cepat lelah, mudah tersesat, atau pulang terlambat dalam lomba jarak jauh.

Pengalaman Breemen Menilai Anatomi

Breemen mulai serius mempelajari penilaian anatomi sekitar tahun 1943. Ia mencari tanda-tanda fisik yang bisa menunjukkan burung yang baik dan buruk. Namun hasilnya mengecewakan: banyak burung beranatomi sempurna justru kerjanya biasa-biasa saja di lomba, sebaliknya burung yang sering menjuarai lomba besar seringkali punya bentuk luar yang dianggap "aneh".

Karena itu Breemen berhenti menilai merpati hanya dari penampilan fisik. Baru pada tahun 1957 ia mulai lagi mempelajari anatomi burung-burung juara, dan sejak saat itu ia tidak pernah berhenti — sampai ribuan ekor merpati sudah lewat dari tangannya. Ia juga rajin memegang burung-burung terbaik milik peternak lain, bahkan saat berkunjung ke Hungaria atau negara lain. Kalau hanya menilai burung sendiri, kata Breemen, kita akan menjadi buta dan menganggap semua burung kita hebat.

Juru Grepe Sejati Harus Tahu Banyak

Breemen mengingatkan bahwa seorang juru kir atau juru grepe profesional harus menguasai banyak hal: masalah teknis, ilmu genetika dan hereditas, metode breeding seperti line breeding, inbreeding, peremajaan darah, hingga pengetahuan tentang trah dan keluarga burung yang umum dimainkan para penghobi.

Ia juga menyoroti banyaknya juru kir yang pengetahuannya lebih banyak subjektif dan fantasi daripada praktik. Seorang evaluator yang baik justru menyadari keterbatasannya. Theodore Backs, pakar eye sign Jerman terkenal di abad ke-20, bisa membaca kualitas burung di kandangnya sendiri hanya dari mata — tetapi keliru kalau observasi itu diterapkan ke semua burung. Bahkan Vermeyen, tokoh lain di dunia merpati, pernah berkata: "We know nothing about a pigeon" — kita tidak tahu apa-apa tentang seekor merpati.

Kesimpulan

Menilai kemampuan merpati tanpa tes langsung memang mungkin, tetapi butuh pengetahuan yang sangat banyak dan latihan yang tekun. Breemen sendiri mengakui tingkat akurasi tertingginya hanya sekitar 80 persen untuk burung tua, dan jauh lebih rendah untuk burung muda. Jadi sebelum mengaku jago menggrep, ada baiknya kita mengukur dulu: apakah kita sudah memenuhi syarat untuk menjadi juru grepe yang baik?

Buat kamu yang masih belajar, baca juga artikel tentang cara memilih burung dara tinggian kolong yang bagus, tradisi katuranggan dalam menilai fisik merpati, serta kumpulan istilah-istilah dalam permainan burung merpati.

Sumber: merpati.org