Dunia merpati Indonesia sempat geger ketika seekor merpati tinggian bernama Jayabaya dikabarkan berpindah tangan dengan harga Rp 1 miliar. Angka itu membuat Jayabaya dinobatkan sebagai merpati termahal di Indonesia, bahkan sempat ramai dibicarakan di televisi dan berbagai media sosial.
Nominal tersebut memang terbilang janggal untuk ukuran pasar burung kicau, yang biasanya didominasi murai batu dan lovebird. Sebelum Jayabaya, merpati dengan harga tertinggi di Indonesia dipegang Merpati Dori yang dilepas sekitar Rp 570 juta. Artinya, rekor harga merpati nasional naik hampir dua kali lipat dalam sekali transaksi.
Daftar Merpati Termahal di Indonesia
Berdasarkan catatan transaksi yang beredar di kalangan penghobi, urutan merpati termahal di Indonesia saat itu adalah sebagai berikut.
- Merpati Jayabaya – Rp 1 miliar
- Merpati Dori – Rp 570 juta
- Merpati Go – Rp 527 juta
- Merpati Qiu-Qiu – Rp 500 juta
- Merpati Jendral – Rp 350 juta
- Merpati Matador – Rp 170 juta
- Merpati MK Junior – Rp 150 juta
Daftar itu memperlihatkan satu pola: harga tertinggi selalu dipegang burung yang punya rekam jejak lomba, bukan sekadar burung dengan penampilan bagus. Pembeli membayar prestasi, bukan bentuk fisik semata.
Profil Merpati Jayabaya
Jayabaya bukan merpati kaleng-kaleng. Burung ini tercatat sebagai juara burung terbaik Penggemar Merpati Tinggi Indonesia (PMTI) 2018 dan menempati peringkat ketiga di Liga Bansel. Ring Kushitani yang melekat di kakinya menjadi penanda asal usul, sekaligus alasan banyak penggemar tinggian menganggapnya burung yang stabil dalam meraih juara.
Dari sisi jenis, Jayabaya adalah merpati tinggian patek. Merpati tinggian sendiri dikenal sebagai kelas yang mengandalkan kemampuan terbang lama di ketinggian, bukan kecepatan seperti kelas balap sprint. Karena itu, penilaian performa burung seperti Jayabaya biasanya bertumpu pada konsistensi gaya terbang, ketahanan, dan hasil di lapak.
Kepemilikan Jayabaya juga berpindah antar dua nama besar. Pemilik sebelumnya adalah Aristyo Setiawan dari Embatama Team, Bandung, sementara pemilik baru adalah Robby Eka Wijaya dari Royal Team, yang dikenal sebagai andhokan atau penggemar berat merpati tinggian.
Buat menambah konteks soal kelas burung ini, lihat juga pembahasan katuranggan merpati tinggian serta catatan tentang komunitas merpati tinggian di Yogyakarta.
Alasan Jayabaya Dilepas Rp 1 Miliar
Yang menarik, Jayabaya tidak selalu bernilai miliaran. Burung ini dulu diperoleh Aristyo dari rekannya dengan harga Rp 50 juta, atau hanya seperdua puluh dari harga jual terakhirnya. Kenaikan nilai itu sepenuhnya hasil prestasi lomba yang ia torehkan selama beberapa musim.
Menurut Aristyo, keputusan melepas Jayabaya bukan karena burungnya menurun, melainkan karena risiko yang ia tanggung terlalu besar jika burung sekelas itu tetap berada di kandang Embatama. Tawaran dari pihak Royal Team disebutnya sangat menggiurkan.
“Terlalu riskan bagi saya untuk mempertahankan Jayabaya di kandang Embatama. Apalagi tawaran dari Royal Rp 1 miliar. Ya mau tak mau saya kasih ke koh Robby,” ujar Aristyo Setiawan, bos Embatama Team, di kandangnya di Cisaranten Wetan, Kota Bandung.
Aristyo berharap Jayabaya tetap melanjutkan prestasinya bersama Royal Team. Usia burung itu masih muda, sehingga perjalanan lombanya dinilai masih panjang. Pesannya satu: rahasia perawatan Jayabaya harus dijaga betul agar performa burung tidak jatuh di kandang baru.
Belanja Burung Lain sampai Rp 400 Juta
Jayabaya bukan satu-satunya burung yang pindah ke Royal Team. Robby juga memboyong Mac Giver, Jerry, dan Wijaya dari Embatama dengan total nilai Rp 400 juta. Jika ditambah harga Jayabaya, belanja Royal Team di kandang Embatama menembus Rp 1,4 miliar.
Ketiga burung itu punya catatan masing-masing. Mac Giver dikenal sebagai jawara nasional yang sudah beberapa kali menembus podium, sedangkan Jerry termasuk burung terbaik di Liga Bandung Utara dan Timur. Wijaya, adik Jayabaya, disebut memiliki kecepatan terbang yang lebih tinggi dari sang kakak, meski saat itu sedang mabung.
Bagi penghobi, transaksi semacam ini menunjukkan bahwa pasar merpati lomba di Indonesia sudah bergerak ke level yang serius. Harga burung ditentukan oleh kombinasi silsilah, prestasi, dan nama tim yang menaunginya. Sebelumnya, rekor harga merpati di Indonesia juga pernah dipegang burung lain, seperti Merpati Rampok yang disebut laku Rp 2 miliar.
Terlepas dari angka transaksinya, kisah Jayabaya memberi satu pelajaran sederhana: nilai seekor merpati tidak ditentukan saat masih piyik, melainkan dari hasil kerja perawatan dan latihan yang konsisten setiap hari.
Sumber: burungnya.com
Komentar