Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dunia merpati pos, dan komunitas tertua yang merekam jejak itu adalah Lang-Lang Buana (LLB). Organisasi ini bukan sekadar klub hobi, melainkan saksi hidup perkembangan burung merpati pos dari era kolonial hingga kemerdekaan.

Akar Kolonial yang Berbuah Komunitas Lokal

Semua bermula dari kebiasaan para perwira militer dan pedagang Belanda yang membawa koleksi merpati pos saat tiba di Nusantara. Mereka mendirikan organisasi bernama Akbar Khan di bawah pimpinan Meneer Kransier, dengan anggota yang mayoritas berdarah Belanda dan Indo-Belanda. Organisasi ini aktif hingga dekade 1950-an.

Ketika satu per satu orang Belanda kembali ke negara asalnya, koleksi merpati mereka dijual kepada warga Indonesia. Bersamaan dengan transisi itu, Akbar Khan berganti nama menjadi Lang-Lang Buana pada 1960-an. Nama baru ini mencerminkan semangat kebangsaan yang mulai tumbuh di kalangan penggemar merpati lokal.

Pasang Surut di Tengah Pergolakan Politik

Di bawah kepemimpinan Mayor Jenderal Rubiyono Kertopati, LLB memiliki sekitar 60 anggota yang aktif. Namun, organisasi ini menghadapi masa sulit saat peristiwa G30S pada 1965. Militer menaruh curiga bahwa burung merpati bisa digunakan sebagai alat komunikasi oleh pihak komunis. Akibatnya, setiap kali anggota LLB ingin membawa burung untuk latihan terbang, mereka harus mengurus izin terlebih dahulu ke jawatan perhubungan.

Meski demikian, LLB tidak berhenti beraktivitas. Justru pada masa-masa itu, mereka turut serta dalam berbagai kegiatan kenegaraan dan olahraga nasional, termasuk pelepasan burung di pembukaan Ganefo 1962 di Jakarta, Asian Games, serta Pekan Olahraga Nasional (PON).

Penerbangan Bersejarah dari Ruteng ke Jakarta

Pencapaian paling memukau dari LLB tercatat pada 1988, ketika mereka berhasil menerbangkan merpati pos dari Kabupaten Ruteng, Nusa Tenggara Timur, ke Jakarta. Rute itu menempuh jarak sekitar 1.600 kilometer dengan melewati empat selat: Flores, Sumbawa, Lombok, dan Bali.

Burung yang menjadi pemenang adalah merpati pos milik Letnan Kolonel (Marinir) Yett Resdianto dengan nomor cincin P-87-870560. Dalam waktu empat hari, merpati ini berhasil melintasi badai selat dan cuaca gunung yang ganas. Keberhasilan ini jauh mengungguli capaian merpati pos jawara dari Amerika Serikat, yang membutuhkan waktu seminggu untuk menempuh jarak serupa.

Kisah Lang-Lang Buana membuktikan bahwa tradisi merpati pos di Indonesia bukan sekadar hobi, melainkan warisan budaya yang telah bertahan puluhan tahun. Bagi penggemar merpati hias maupun mereka yang tertarik dengan perawatan merpati tinggi balap, sejarah LLB menjadi pengingat betapa dalamnya akar komunitas merpati di negeri ini.

Sumber: Tempo.co