Merpati termasung unggas pemakan bijian utuh. Setiap butir yang masuk masih berkulit keras, sementara enzim pencernaan di lambung dan ampelanya bekerja lambat mengelupas cangkang bijian tersebut. Di sinilah grit (asinan) berperan: butiran mineral keras yang membantu menggerus dan mengelupas kulit bijian, sekaligus menjadi sumber mineral esensial yang tidak tercukupi dari pakan utama.

Secara umum grit memberi dua manfaat utama bagi merpati. Pertama, membantu mengelupas cangkang bijian yang keras sehingga isi bijian (inti bijian) bisa dicerna optimal. Kedua, menyuplai mineral seperti kalsium karbonat, kalsium fosfat, garam magnesium, dan sodium fluoride yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan tulang, bulu, dan cangkang telur.

Karena sifatnya tidak mudah larut, grit yang tertelan akan bertahan di saluran pencernaan untuk sementara waktu sebelum akhirnya keluar bersama kotoran. Selama berada di sana, butiran itu terus menggerus pakan yang kasar. Karena itu grit diberikan terus-menerus, bukan sekali waktu, dan sebaiknya disediakan dalam wadah terspisah agar burung bebas memakannya sesuai kebutuhan.

Dua Jenis Grit yang Perlu Dikenali

Istilah grit dibagi menjadi dua tipe. Grit tidak larut dalam air (insoluble grit) berupa pasir halus dan batuan kecil yang murni berfungsi sebagai penggerus mekanis di saluran pencernaan. Sedangkan grit larut dalam air (soluble grit) berupa pecahan batu bata, cangkang telur yang dihaluskan, atau serpihan kerang laut; butiran jenis ini sebagian larut dalam asam lambung sehingga ikut menyuplai mineral bagi tubuh.

Keduanya saling melengkapi. Burung yang hanya makan bijian utuh tanpa penggerus akan kesulitan memanfaatkan nutrisi inti bijian, sedangkan burung yang hanya punya penggerus tanpa sumber mineral tetap kekurangan kalsium. Karena itu campuran keduanya dalam pakan lebih disarankan daripada memberi salah satu saja.

Tulang Sotong: Sumber Kalsium Favorit

Berbeda dengan grit, tulang sotong (cuttlebone) memang kaya kalsium karbonat, sodium klorida, kalsium fosfat, dan garam magnesium. Di banyak negara Eropa, tulang sotong tidak diberikan dalam bentuk utuh melainkan diserut atau dikikis lebih dulu dengan sendok, lalu dimasukkan ke wadah terpisah atau ditebar tipis di lantai kandang.

Saat dikonsumsi, tulang sotong larut oleh asam lambung, lalu kalsium dan magnesiumnya diserap aliran darah. Kalsium itulah yang keluar dari darah ke saluran telur untuk membentuk pelindung telur yang masih lunak ketika indukan mulai bertelur. Karena itu pemberian tulang sotong sangat dianjurkan pada masa pengembangbiakan, sejalan dengan panduan ternak merpati di kandang yang benar.

Kapan Grit dan Tulang Sotong Paling Dibutuhkan?

  • Masa pengembangbiakan (breeding): kebutuhan kalsium indukan melonjak untuk membentuk cangkang telur yang kuat, tidak rapuh atau terlalu tipis.
  • Pertumbuhan anakan dan remaja: kalsium dibutuhkan untuk pembentukan tulangan yang kokoh sejak dini.
  • Masa latihan dan pemulihan: pencernaan yang efisien membuat burung menyerap nutrisi bijian lebih baik, sejalan dengan pola pemberian bahan pendamping pakan yang bertahap.
  • Setelah sakit atau masa mabung: tubuh butuh mineral tambahan untuk memulihkan kondisi dan menumbuhkan bulu baru, yang pada akhirnya memengaruhi penampilan dan kualitas burung.

Praktiknya cukup sederhana: sediakan wadah grit dan wadah tulang sotong yang selalu ada di kandang, cek secara berkala apakah masih tersisa, dan ganti bila terkontaminasi kotoran atau lembap. Pemberian rutin dengan porsi yang wajar lebih baik daripada memberi banyak sekaligus hanya menjelang lomba.

Sumber: https://www.merpati.org/manfaat-gritasinan-merpati/