Bagi sebagian penghobi merpati, umbi teki lebih dikenal sebagai gulma yang mengganggu tanaman di kebun. Padahal di balik kebiasaannya tumbuh liar, rimpang tanaman ini sudah lama dipakai sebagai bahan jamu untuk burung merpati, terutama sebagai penambah tenaga menjelang lomba dan pembantu pencernaan.

Apa Itu Umbi Teki

Tanaman yang dimaksud adalah rumput teki, dengan nama ilmiah Cyperus rotundus. Di berbagai daerah ia punya sebutan berbeda: teki, mota, koreha wai, rukut teki, atau rukut wuta. Disebut rumput palsu karena batangnya bersegi tiga, bukan bulat seperti rumput biasa.

Tingginya berkisar 10 sampai 75 cm dan bisa hidup sepanjang tahun. Tanaman ini mudah ditemukan di kebun, ladang, hingga lahan terbuka pada ketinggian sampai sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Karena itulah di Pulau Jawa hampir setiap daerah punya stok tanaman ini, meski sebagian pemain menganggapnya sulit dicari.

Ciri yang paling gampang dikenali ada pada bunganya: berwarna hijau kecoklatan, tumbuh di ujung tangkai, dengan tiga tunas kepala benang sari berwarna kuning bening, lalu membentuk bulir yang mengumpul seperti payung. Buahnya berbentuk kerucut melebar di pangkal, kadang melekuk, berwarna coklat, panjang 1,5 sampai 4,5 cm dengan diameter 5 sampai 10 mm. Daunnya berbentuk pita mengkilat, terdiri dari 4 sampai 10 helai yang tumbuh memusat di pangkal batang.

Bagian yang dipanen adalah rimpangnya. Rimpang tua menyimpan banyak tunas yang membengkak menjadi umbi berwarna coklat hingga kehitaman, biasanya mengumpul dalam satu rumpun. Rasanya sepat dengan jejak pahit, sementara aromanya khas dan cukup kuat.

Kandungan Kimia pada Umbi Teki

Meski hanya dipakai dalam jumlah kecil, akar teki menyimpan beberapa zat gizi seperti lemak, gula, karbohidrat, serat, amilum, alkaloid, serta mineral kalsium, magnesium, dan mangan. Di samping itu terdapat senyawa fitokimia: flavonoid, tanin, saponin, pektin, polifenol, patchoulenone, rotundene, rotundenol, rotundone, selinatriene, sitosterol, asam stearat, sugeonol, dan sugetriol.

Zat yang dianggap paling berperan adalah seskuiterpen. Dari hasil penelitian, rimpang teki mengandung alkaloid, glikosida jantung, flavonoid, dan minyak menguap sekitar 0,3 sampai 1 persen. Komposisi minyaknya tidak seragam karena dipengaruhi daerah asal tanaman. Umbi dari Jepang misalnya memuat cyperol, cyperene I dan II, alfa-cyperone, cyperotundone, serta cyperolone; sedangkan yang berasal dari China lebih kaya patchoulenone dan cyperene. Secara keseluruhan minyak esensial umbi teki tercatat mengandung sedikitnya 27 senyawa, dari seskuiterpen, hidrokarbon, epokside, keton, monoterpen, sampai alkohol alifatik.

Khasiatnya bukan cerita lokal semata. Akar teki tercatat dalam kitab pengobatan Ayurveda di India, tradisi Cina, dan ramuan Nusantara, bahkan dikenal pula oleh suku Aborigin di Australia. Pada masa Mesir kuno dan Yunani, tanaman ini dipakai sebagai bahan aromatik dan pemurni air, dan disebut oleh Theophrastus, Pliny the Elder, serta Dioscorides baik sebagai obat maupun parfum.

Manfaat Umbi Teki untuk Merpati

Di kalangan pemain merpati, umbi teki paling sering dicampurkan ke dalam jamu penambah tenaga saat burung disiapkan untuk dilombakan. Selain itu, ramuan ini juga dipakai untuk membantu mengatasi gangguan fungsi pencernaan.

Kegunaan lain yang cukup dikenal adalah sebagai pereda nyeri. Efektivitasnya pernah diuji pada mencit yang disuntik ekstrak etanol rimpang teki. Hasilnya, senyawa triterpen IV B pada dosis 5 mg per kg berat badan mencit memberi efek pereda nyeri yang sebanding dengan asam asetilsalisilat pada dosis 30 mg per kg berat badan. Temuan ini menjelaskan secara ilmiah mengapa pemakaian tradisional untuk meredakan rasa sakit dianggap masuk akal.

Untuk urusan pakan dan stamina, umbi teki biasanya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti pakan utama. Pemakaiannya lebih tepat sebagai bagian dari racikan yang sudah biasa dipakai di kandang, misalnya cara membuat jamu untuk burung merpati atau penggunaan herbal untuk meningkatkan stamina merpati.

Cara Mengolah Umbi Teki

Secara umum ada dua jalur pengolahan: dijadikan obat tunggal, atau dicampur ke dalam racikan jamu bersama bahan lain. Bagian yang dipakai adalah umbinya, dicuci bersih lalu diolah sesuai resep yang diikuti. Karena rasanya sepat dan pahit, takaran perlu disesuaikan dengan kebiasaan burung agar tidak menolak pakan.

Bagi yang ingin meracik sendiri, padukan umbi teki dengan bahan yang sudah dikenal burung. Contoh racikan pakan bisa dilihat di 6 racikan pakan merpati untuk menambah nafsu makan, sementara kebutuhan mineral pendukung bisa dipenuhi lewat grit atau asinan untuk merpati. Yang perlu diingat, jamu bersifat mendukung, bukan menggantikan pakan pokok, air bersih, dan istirahat yang cukup.

Sumber: merpati.org