Berawal dari Sepasang Puter Lokal

Di tengah maraknya penangkar burung di Indonesia, nama Ghio Bird Farm asal Jambi layak masuk catatan. Penangkaran burung merpati hias milik Om Hoddin Naibaho ini berkembang dari sesuatu yang sangat sederhana: sepasang puter lokal pemberian seorang kawan pada 4 Juli 2015.

Saat itu Om Hoddin yang bekerja sebagai kepala HRD di sebuah perusahaan perkebunan tengah mencari kegiatan pengisi waktu luang. Anehnya, sejak kecil ia mengaku tidak suka dan tidak pernah memelihara burung. "Siang puter datang, eh… sorenya langsung bertelur. Entah kenapa, saya mulai suka memelihara burung," kenangnya.

Ketertarikan itu kemudian membawanya menjelajah internet untuk belajar soal puter, hingga akhirnya mengenal beragam jenis merpati hias. Berbekal sepasang merpati hias kipas persi/lokal yang didapatnya di Kota Jambi, ia mulai serius menekuni penangkaran. Nama Ghio Bird Farm sendiri diambil dari nama putra bungsunya.

Kunci Penjodohan Merpati Hias

Menurut Om Hoddin, modal utama beternak merpati hias adalah rasa suka. Soal teknis, ia menekankan agar calon induk sudah cukup dewasa — istilahnya lar rampas habis, sekitar umur satu tahun atau lebih — dan dipastikan berpasangan jantan-betina. Merpati jantan biasanya bersuara khas sambil berputar, sedangkan betina tampak lebih manja. Setelah saling meloloh, pasangan dimasukkan ke kandang ternak.

Kandang ternak menurutnya tidak perlu rumit, yang penting cara membedakan merpati jantan dan betina dipahami sejak awal agar pasangan tidak salah. Kebersihan menjadi prioritas: kandang dibersihkan setiap pagi dan sore, harus terkena sinar matahari pagi, tidak lembab, serta disemprot desinfektan minimal seminggu sekali.

Merawat Anakan Hingga Siap Jual

Piyik merpati hias dibiarkan diasuh induknya, atau bisa juga dititipkan ke induk babu. Setelah mampu makan sendiri, anakan dipindah ke kandang khusus sambil terus dipantau. Bila makannya belum lancar, Om Hoddin membantu dengan spet ukuran 60 mm. Vitamin diberikan lewat air minum atau dilolohkan langsung, dan obat cacing diberikan rutin setiap tiga bulan sekali.

Merpati dimandikan tiga hari sekali memakai campuran air tembakau atau obat antikutu. Mandi rutin membuat bulu bersih dan bebas kutu, sehingga burung tetap sehat dan nyaman. Untuk piyik yang baru menetas, perawatan ekstra memang diperlukan — pembaca bisa menyimak ulasan tentang susu merpati untuk piyik yang baru menetas.

Pakan dan Multivitamin Andalan

Pakan disesuaikan dengan kondisi burung. Induk yang sedang meloloh diberi pur ayam, sementara anakan yang agak besar mendapat pur ayam dicampur jagung pecah. Untuk remaja dan dewasa, Om Hoddin memakai campuran jagung bulat, jagung pecah, beras merah, dan gabah dengan perbandingan 3:3:2:1. Induk yang hendak bertelur ditambah sedikit pakan ayam petelur dan grit.

Obat-obatan yang rutin dipakai antara lain obat cacing kapsul tiap tiga bulan, vitamin serbuk yang dicampur air minum plus minyak ikan, serta suntikan vitamin B kompleks khusus hewan saat cuaca ekstrem.

Pemasaran dan Omzet

Pemasaran Ghio Bird Farm mengandalkan media online seperti Facebook dan YouTube, dengan prinsip jujur menyampaikan kondisi burung agar pembeli tidak kecewa. Pembeli yang puas biasanya mereferensikan ke teman-temannya. Sebagian besar produk dipasarkan di Jambi dan sekitarnya, meski sering pula dikirim ke luar kota seperti Padang. Harga anakan bervariasi dari Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah tergantung jenis, umur, dan speknya.

Bagi Om Hoddin, beternak merpati adalah penyaluran hobi, bukan beban target penjualan. Ia juga aktif di komunitas IFPC (Indonesia Fancypigeon Community) untuk terus belajar dari sesama penghobi. Kisah penangkar lain yang tak kalah inspiratif bisa dibaca pada profil Om Ervan (Pawiro BF Jogja) yang bangkit dari kebangkrutan hingga sukses mengekspor merpati hias.

Sumber: omkicau.com (diadaptasi dan ditulis ulang untuk merpati.id)