Pensiunnya Rony Peleman menandai berakhirnya salah satu kemitraan paling konsisten di balap merpati pos Belgia. Meski demikian, kandang Van den Abbeel-Peleman menutup musim 2026 dengan cara terbaik: membawa pulang mahkota provinsi dan zonal dari Argenton, sekaligus menegaskan bahwa garis darah juaranya masih hidup.

Argentina, Merpati yang Menutup Musim dengan Mahkota

Betina berkode BE26-4013284 bernama Argentina jadi bintang utama. Dari Argenton sejauh 526 kilometer, ia menjuarai kelas provinsi melawan 4.132 merpati muda, sekaligus menang zonal menghadapi 2.013 peserta. Di tingkat nasional ia finis ke-13 dari 15.769 burung.

Balapan itu digelar dengan cuaca cerah dan angin utara-condong timur berkecepatan sedang. Yang membuat hasil ini menarik: merpati-merpati dilepas setelah tiga malam di dalam sangkar, sehingga naluri pulang benar-benar diuji. Rata-rata kecepatan Argentina tercatat 1.169,24 meter per menit. Sebelumnya ia sudah menang 1 Noyon melawan 794 merpati muda dan finis ke-51 di Orléans dari 5.774 peserta. Saudara sezandarnya juga tampil gemilang: 8 Gidy (Orléans) dari 4.132 burung, lalu 34 dan 35 di Noyon.

Empat Kali Menang dari Ribuan Lawan

Sepanjang 2026 kandang ini menang empat kali dari ribuan peserta: 1 Gidy (Orléans) 4.123 burung pada jarak 376 km, 1 Valpuiseaux dari 3.677 burung (321 km), 1 Valpuiseaux dari 2.537 burung, plus kemenangan provinsi Argenton di atas. Angka-angka itu tidak lepas dari fondasi lama. Patrick Van den Abbeel sebelumnya dikenal lewat kemitraan Van den Abbeel-Van Paesschen di Lebbeke, yang menang di level nasional berkali-kali. Salah satu andalannya, Juliana, menang nasional La Souterraine melawan 3.084 merpati dewasa dan tercatat sebagai yang tercepat dari seluruh 17.399 burung — lebih cepat bahkan dari kelas merpati muda, hal yang jarang terjadi pada akhir Agustus.

Dari garis itu lahir nama-nama baru: Miss Argenton (juara 1 provinsi Argenton 516 burung dewasa), Warrior Princes (juara 1 Orléans 4.123 burung dan juara 1 Valpuiseaux 3.677 burung pada 2026), sampai Brother Juliana yang menjadi indukan utama dengan keturunan seperti finis ke-3 nasional Bourges dari 13.213 burung pada 2025. Ironisnya, justru saat performa sedang menanjak itulah Rony Peleman memilih pamit dari dunia lomba.

Beda Konteks dengan Lomba Merpati di Indonesia

Sebagai pembanding, balapan semacam ini adalah homing race: merpati dilepas ratusan kilometer dari kandang dan harus pulang sendiri ke kotaknya di rumah, sehingga yang diuji adalah kecepatan terbang sekaligus ketepatan membaca arah. Di Indonesia dikenal dengan nama merpati pos. Jauh berbeda dari merpati tinggi yang dilombakan pada ketinggian terbang, maupun merpati balap sprint jarak dekat yang memakai merpati betina sebagai pancingan. Tiga disiplin ini punya aturan, jarak, dan kriteria juara yang berbeda.

Tutupnya lembaran Van den Abbeel-Peleman tidak menghapus catatannya. Setidaknya penggemar sempat menyaksikan tim itu menutup musim dengan kepala tegak, dan darah juaranya masih beredar di kandang anak-anaknya.

Baca juga: Peleman-Van den Abbeel Kembali Tercepat di Noyon dan Juara dari 33.000 Merpati di Noyon. Simak kumpulan artikel merpati pos dan liputan balap dari PIPA.