Seri Green Jacket AFRIKAPRO 2026 baru saja menutup lima balapan sprint pertamanya dengan final yang sungguh menegangkan. Anton Schonken, pemilik balap asal Afrika Selatan, berhasil merebut gelar juara ace pigeon terbaik dengan merpatinya African Sting Birdy — hanya unggul 23 detik dari Jelle Jellema asal Belanda yang menempati posisi kedua.
Ketegangan seri ini terasa sejak balapan kedua, ketika tiga merpati mulai mendominasi podium: Schmelzer milik Nils Gerdemann (Jerman), Jip milik Jelle Jellema (Belanda), dan African Sting Birdy milik Anton Schonken (Afrika Selatan). Ketiganya terus bergantian memperebutkan posisi teratas sepanjang lima balapan, dari jarak 202 km hingga 330 km.
Tantangan Konsistensi dalam Jarak Sprint
Yang membuat seri ini menarik adalah tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk kategori sprint. Kecepatan rata-rata pemenang Green Jacket tahun ini hanya 1.263 meter per menit — tergolong rendah untuk balapan merpati pos. Data menunjukkan bahwa merpati ace tahun ini sudah menghabiskan waktu lebih dari 1,5 jam di udara dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi cuaca yang menantang di Afrika Selatan membuat balapan menjadi ujian ketahanan sejati bagi para peserta.
Lima balapan yang digelar mulai dari jarak 202 km hingga 330 km menghasilkan pemenang yang beragam dari berbagai negara. Kupka dan Smilowski dari Polandia menjuarai balapan pertama, sementara Jellema sendiri memenangkan balapan kedua dengan Jip. Pada balapan keliga yang terpanjang (330 km), Wouters dan Debecker dari Belgia yang keluar sebagai juara.
Selisih 23 Detik yang Menentukan
Menuju balapan kelima, Jip memiliki keunggulan waktu lebih dari 10 menit dari African Sting Birdy. Namun Schonken tahu bahwa konsistensi adalah kunci. Setelah total 16 jam, 32 menit, dan 35 detik terbang di udara selama lima balapan, African Sting Birdy mampu mempertahankan keunggulan tipis dan menyelesaikan balapan dengan selisih hanya 23 detik dari Jip.
Silsilah African Sting Birdy sendiri sudah tidak diragukan lagi. Merpati ini membawa darah dari beberapa bintang nasional dan internasional seperti Vardy (kombinasi Mantel), Starling (Gebr. Leideman), Lloyd dan New Laureaat (Batenburg-Van De Merwe), serta Birdy (Kitchenbrandt). Schonken, yang berbasis di Cradock, Afrika Selatan, memang fokus pada kompetisi One Loft Race dan telah membangun reputasi kuat di berbagai turnamen bergengsi seperti Hoosier Classic, Dinokeng OLR, dan Cape Town OLR.
Prestasi ini menegaskan bahwa balapan merpati pos bukan sekadar soal kecepatan, melainkan juga ketahanan dan konsistensi dari awal hingga akhir kompetisi. Bagi para penggemar merpati pos di Indonesia, seri AFRIKAPRO 2026 menjadi pengingat bahwa di dunia balap internasional, selisih puluhan detik setelah puluhan jam terbang bisa menjadi penentu juara dan bukan juara.
Sumber: PIPA.be — Thrilling Finale to the Green Jacket Series AFRIKAPRO
Sumber foto: PIPA.be
Komentar