Berbicara soal merpati, kaitannya paling erat dengan sejarah merpati pos. Burung ini dulu dikenal paling andal untuk mengirim surat — jauh sebelum ada kabel telepon maupun sinyal, merpati pos lah yang menghubungkan orang di dua tempat yang jauh. Banyak yang bertanya: apakah merpati memang terlahir untuk mengantar surat? Jawabannya ada pada dua keistimewaan burung ini. Pertama, kemampuan terbang jauh tanpa kelelahan berarti. Kedua, ingatan yang kuat terhadap jalur pulang. Kombinasi itulah yang membuat merpati bisa diandalkan mengantar pesan ke tujuan, lalu kembali lagi membawa balasan.

Merpati Pos Dipakai Sejak 776 Sebelum Masehi

Buku The Book of Origins (2007) karya Trevor Homer mencatat bahwa merpati pos pertama kali dimanfaatkan bangsa Sumeria pada tahun 776 sebelum Masehi. Waktu itu burung-burung itu dilatih khusus untuk meneruskan pesan bagi keperluan militer. Caranya sederhana: pesan diselipkan di kaki atau punggung burung, lalu merpati dilepas menuju lokasi yang sudah biasa menjadi tempat latihannya. Karena ingatannya bagus, burung itu mampu sampai ke tujuan dan terbang kembali ke alamat asal. Kehebatan serupa juga dimanfaatkan pada masa Dinasti Mamluk di Mesir. Saat perang melawan bangsa Mongol berkecamuk, jalur darat utama bisa diblokir pasukan lawan — sementara jalur udara tidak bisa dibendung. Merpati pos pun diutus menyampaikan pesan, dan selama Abad Pertengahan tidak ada komunikasi yang lebih cepat daripada jasa burung ini.

Berjasa di Perang Dunia Pertama

Perang Dunia I tahun 1914-1918 membawa merpati pos ke babak baru. Pasukan Amerika memakainya sebagai alat komunikasi di medan tempur. Dua burung berjasa dari masa itu tercatat dalam sejarah. Yang pertama bernama Winkie, merpati yang menyelamatkan awak pasukan udara dan sampai menerima penghargaan. Yang kedua adalah merpati bernomor 139 DD 43 T: dalam 23 misi ia mengirim pesan-pesan penting, termasuk terbang sejauh 64 km hanya dalam 50 menit. Pesan yang dibawanya berhasil menyelamatkan sekelompok tentara yang terjebak di lautan.

Belanda Mengirim Merpati dari Baghdad

Kepopuleran merpati pos menyebar ke seluruh dunia dari tahun ke tahun. Perusahaan-perusahaan Belanda bahkan memakainya untuk komunikasi antarbenua sejak awal abad ke-19, seperti dikutip dari buku The Pigeon (1977) karya Levi Wendell. Menariknya, merpati yang dipakai Belanda dikirim langsung dari Baghdad. Burung-burung asal sana memang terkenal sebagai merpati pos murni, sehingga lebih ahli dalam mengantar surat.

Tiga Tahap Melatih Merpati Pos

Agar pesan sampai tepat sasaran dan tidak salah alamat, merpati harus dilatih lebih dulu. Latihan baru bisa dimulai pada burung berusia sekitar 7 bulan, dan ada tiga latihan utama:
  • Static — merpati belajar mengenali perintah orang di dalam satu wilayah kecil.
  • Mobile — merpati diajari berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
  • Boomerang — merpati dilatih mengirim pesan lalu kembali sesuai petunjuk.

Kenapa Logo Pos Indonesia Berbentuk Merpati

Filosofinya berakar dari kebiasaan masyarakat zaman dulu yang selalu saling surat-menyurat jarak jauh memakai jasa merpati pos. Logo merpati dibuat dalam posisi terbang dengan pandangan menatap tajam ke depan. Lima garis pada sayapnya melambangkan kecepatan, ketepatan, dan kepercayaan. Perjalanan panjang merpati pos dari era Sumeria sampai Perang Dunia membuktikan satu hal: burung ini pernah menjadi teknologi komunikasi paling andal di masanya. Simak juga kisah merpati Indonesia yang bergelar Letnan Anumerta dan keunikan merpati pos yang jarang diketahui. Untuk sisi ilmiahnya, baca fakta navigasi merpati saat pulang serta sejarah balap merpati di China. Sekarang komunikasi sudah serba canggih, dan penggunaan merpati untuk mengirim pesan justru dianggap tidak menghormati hak hidup burung. Jasa merpati pengirim surat pun resmi ditiadakan — tinggal sejarahnya yang terus dikenang.