Setiap penghobi merpati pos pasti pernah menghitung: dari seratus ekor anak yang dicetak dalam setahun, berapa yang benar-benar layak dilombakan? Jawaban jujurnya memang sedikit. Karena itu, memilih merpati juara bukan soal keberuntungan saat mengikuti lomba, melainkan soal kemampuan membaca burung sejak masih di kandang.

Empat Kelompok Merpati dalam Satu Kandang

Dalam satu kandang yang berisi puluhan burung, sejatinya hanya ada empat kelompok. Pemahaman ini datang dari catatan penghobi senior Henry Gunawan yang mengutip data dokter hewan asal Afrika Selatan, Dr. Wim Peters, penulis buku Feed to Win, Fit to Win, dan Born to Win.

Merpati Juara

Juara sejati jarang terlihat di kandang biasa. Burung seperti ini biasanya hanya dibicarakan, bukan dilihat langsung. Kandang yang rutin menelurkan juara bukan kandang kebetulan — burungnya menang di tingkat klub, lalu naik ke level nasional dan internasional. Kemenangan beruntun seperti itu datang dari pemilihan induk yang disiplin, bukan dari satu ekor burung yang beruntung sekali.

Merpati Unggulan atau Pemimpin

Di bawah juara, ada kelompok yang disebut merpati unggulan. Inilah fondasi sebuah kandang dan tiang penyangga olahraga merpati pos. Merpati unggulan bukan yang hanya menang satu kali, melainkan yang setiap kali dilatih dan dilombakan selalu pulang lebih dulu. Kadang ia tidak sempat menjadi juara di lomba besar, tapi konsistensinya membuatnya selalu menang di taruhan kecil antar penghobi. Dari seratus anakan per tahun, lima ekor berkualitas seperti ini sudah dianggap hasil yang lumayan.

Merpati Pengikut

Kelompok inilah yang paling banyak, diperkirakan mencapai 85 sampai 95 persen dari isi kandang. Burung-burung ini dirawat dengan sangat istimewa, dan pemiliknya hampir selalu yakin bahwa merpatinya adalah yang terbaik. Kenyataannya, mereka hanya pernah masuk sepuluh besar dan tidak pernah menjadi ancaman bagi lawan. Ciri utamanya: selalu terlambat menemukan arah pulang, selalu terlambat tiba, dan suka menempel di belakang rombongan. Baru setelah dekat rumah, ia melesat sendiri. Ironisnya, kalau yang diikuti adalah merpati pemimpin, burung pengikut ini bisa ikut meraih papan atas — tapi keberuntungan seperti itu tidak akan datang dua kali.

Merpati Sampah

Sisanya, sekitar 5 persen, adalah merpati sampah. Burung ini sudah melewati seleksi mata, sayap, ekor, tulang dada, dan tulang capit, bahkan lahir dari sepasang indukan yang disebut golden pair. Ia sehat dan tampak normal, tapi selalu pulang terlambat dan akhirnya hilang di tengah jalan saat lomba berlangsung. Yang menyebalkan, kita baru menyadarinya setelah beberapa kali kirim lomba. Merpati sampah tidak bisa dikenali dari penampilan, hanya dari performa berulang.

Kesalahan Seleksi yang Paling Merugikan

Bahaya terbesar justru terjadi saat merpati pengikut dijadikan bibit atau indukan. Secara genetik, burung ini hanya mengulang garis biasa, dan usaha meningkatkan kualitas kandang jadi sia-sia. Karena itu, baca hasil latihan dengan jujur: catat mana yang jadi pemimpin, mana yang hanya ikut, dan mana yang gagal total. Persentasenya tidak akan banyak berubah dari tahun ke tahun kalau seleksinya tidak diubah.

Tiga Titik Periksa Sebelum Memasukkan Burung ke Kandang Indukan

Singkatnya, merpati juara tidak ditemukan dengan mata, tapi dibuktikan dengan performa berulang dan silsilah yang tercatat. Seleksi yang jujur sejak latihan pertama jauh lebih murah daripada memelihara puluhan pengikut yang harapannya selalu tertunda.

Sumber: ditulis ulang dari artikel Henry Gunawan "Cara memilih merpati juara" (Lang Lang Buana, 6 Maret 2009) di merpati.org, dengan data Dr. Wim Peters.