Belum ada drone, belum ada kamera saku, tapi pada tahun 1907 seorang dokter di Jerman sudah memasang kamera mini di dada burung merpati. Temuannya dipatenkan, dan hasil jepretannya justru terlihat seperti foto udara yang sekarang akrab dari kamera drone.
Sebelum jadi kamera terbang, burung merpati dipakai Dr Julius Neubronner untuk pekerjaan yang jauh lebih tradisional: mengantar obat ke para pasien. Untuk tugas itu dia memilih merpati pos, burung yang memang terbiasa menempuh jarak jauh dan kembali tepat ke kandangnya sendiri.
Ide Memotret dari Ketinggian
Dari kebiasaan membawa paket kecil itulah muncul ide lain: kalau obat bisa dibawa, kamera juga bisa. Neubronner merancang rompi ringan yang dipakai di badan burung, lengkap dengan kamera mini berdua lensa yang menempel di bagian dada. Kamera itu sendiri punya berat sekitar 1 sampai 26 ons, sengaja diatur supaya tidak jauh berbeda dari beban obat yang biasa dibawa merpati ketika terbang.
Pelatihan pun dilakukan bertahap. Merpati dibiasakan dulu membawa beban di dada, baru kemudian dilatih untuk memotret selama penerbangan. Hasilnya adalah semacam fotografi udara versi awal, jauh sebelum kamera dipasang di pesawat tanpa awak.
Cara Kerja Kamera di Dada Merpati
Cara kerjanya cukup sederhana. Ruang udara di dalam rompi dikembangkan sebelum burung dilepas. Begitu merpati terbang, udara di ruang itu keluar dan rompi mengempis. Perubahan tersebut memicu pelatuk rana, lalu kamera memotret pemandangan di bawahnya tanpa perlu dikendalikan dari darat.
Dengan sistem otomatis seperti itu, merpati bisa memotret pada ketinggian sekitar 45 sampai 90 meter. Jangkauannya juga lumayan: sampai sekitar 96 km dari kandang asal. Bidikan yang dihasilkan memang hitam putih dan kadang bergoyang, tapi untuk ukuran zaman itu sudah tergolong menakjubkan. Kalau ingin tahu seberapa jauh merpati bisa pulang sendiri, baca juga soal fakta navigasi merpati.
Rumor Burung Pembawa Kamera
Tidak semua cerita berakhir manis. Beredar rumor bahwa sebagian merpati pengangkut kamera mati dalam penerbangan. Penyebabnya tidak pernah dipastikan, namun dugaan paling banyak menyebut gangguan keseimbangan ketika membawa beban di dada, sehingga burung menabrak bangunan atau menukik jatuh ke tanah.
Kisah itulah yang akhirnya menutup percobaan semacam ini. Merpati tidak lagi ditugaskan membawa benda berat; tugas mengirim barang diserahkan pada jasa pengiriman modern. Burung merpati kembali hidup sebagaimana mestinya, sementara ide kamera di dada mereka baru dikenal ulang puluhan tahun kemudian.
Sejarah penggunaan merpati untuk keperluan jarak jauh sebenarnya sudah berlangsung lama — dari merpati pos ribuan tahun silam sampai kemampuan luar biasa yang melekat pada burung ini. Percobaan Neubronner tahun 1907 tinggal salah satu bukti betapa dahulu merpati sempat mendahului teknologi yang baru kita nikmati sekarang.
Sumber: burungnya.com
Komentar