Pertanyaan ini sering muncul di komunitas merpati pos: kalau merpati membawa memori sebesar 4 GB menempuh puluhan kilometer, mana yang lebih cepat sampai — merpati atau koneksi internet? Jawaban singkatnya: merpati pernah menang, dan bukan cuma sekali.
Eksperimen 4 GB di Afrika Selatan
Pada 9 September 2009, perusahaan The Unlimited di Afrika Selatan menggelar uji coba yang terdengar seperti lelucon: merpati pos bernama Winston dilombakan melawan koneksi ADSL milik Telkom. Data sebesar 4 GB dikirim dari Howick ke Hillcrest, jarak sekitar 60 kilometer. Winston membawa kartu microSD di kaki, terbang menempuh rute yang sama sekali tak butuh kabel, dan tiba dalam waktu 2 jam 6 menit 57 detik. Pada saat Winston mendarat, transfer lewat ADSL baru selesai kurang dari 4 persen.
Angka 4 GB sendiri sebenarnya sudah diuji lebih dulu. Pada 12 Maret 2004, Yossi Vardi bersama Ami Ben-Bassat dan Guy Vardi melepas tiga merpati pos menempuh 100 kilometer. Masing-masing burung membawa 20–22 kartu memori berisi 1,3 GB, sehingga totalnya tepat 4 GB. Throughput efektif yang tercatat 2,27 Mbit/s — angka yang pada zamannya bisa disandingkan dengan koneksi rumahan.
Australia dan Inggris ikut menguji
Uji coba berlanjut di benua lain. November 2009, program televisi Hungry Beast di Australia memindahkan file 700 MB lewat tiga jalur: merpati dengan microSD, mobil dengan USB stick, dan jalur ADSL Telstra. Rute Tarana di pedalaman New South Wales menuju Prospect di Sydney barat sepanjang 132 kilometer. Hasilnya, merpati tiba dalam sekitar 1 jam 5 menit, mobil menyusul di 2 jam 10 menit, sementara transfer internet sempat putus dua kali dan tidak pernah selesai — estimasi waktunya pernah menyentuh 9 jam.
Sepuluh bulan kemudian, September 2010, tech blogger Trefor Davies yang juga CTO ISP Timico mengulang eksperimen serupa di Yorkshire, Inggris bersama petani Michelle Brumfield. Video berdurasi lima menit sebesar 300 MB dikirim ke koresponden BBC di Skegness, jarak sekitar 120 kilometer. Merpati dilepas pukul 11.05 dan sampai satu jam lima belas menit kemudian, sementara upload ke YouTube lewat broadband BT masih belum tuntas.
Kenapa merpati bisa menang
Kuncinya bukan pada kecepatan terbang semata, melainkan pada tiga hal berikut:
- Bebas dari kemacetan jaringan. Merpati tidak berbagi bandwidth dengan pengguna lain. Satu paket data benar-benar dibawa satu burung, tanpa antrean server.
- Jarak tempuh fisik. Kecepatan merpati pos dalam penerbangan lurus dan pulang ke kotanya sendiri membuatnya andal menembus area tanpa infrastruktur internet. Simak fakta navigasinya di artikel Mengapa Merpati Tidak Terbang Lurus Pulang?
- Kapasitas media fisik. Satu kartu microSD menyimpan puluhan gigabyte. Bandingkan dengan bandwidth upload rumahan yang sering cuma sebagian kecil dari kecepatan unduh.
Tentu saja metode ini punya batas: burung bisa sakit, tersesat, atau diburu predator. Dalam dunia jaringan komputer, percobaan membawa paket data dengan merpati sempat diresmikan lewat RFC 1149 (1990) dan RFC 2549 (1999), lalu benar-benar diuji oleh Bergen Linux User Group pada 28 April 2001. Sembilan paket dikirim lewat jarak 5 kilometer dan hanya empat yang kembali, dengan waktu tunggu 50 sampai 100 menit. Protokol ini memang dibuat bercanda, tapi angka-angkanya jujur soal satu hal: latensi jaringan bisa jauh lebih buruk daripada burung.
Bagi penghobi merpati pos, eksperimen ini justru mengingatkan kemampuan dasar yang selama ini diandalkan lomba jarak jauh — merpati yang sehat dan terlatih pulang sendiri dari jarak jauh. Lihat juga video merpati pos terbang Bali–Jakarta dan panduan 15 tips melatih merpati balap untuk membaca lebih lanjut. Kandang yang rapi dan pakan yang tepat juga menentukan performa, seperti dibahas di peran kacang tanah sebagai bahan bakar merpati balap.
Jadi, untuk kiriman 4 GB di rute puluhan kilometer: merpati menang telak. Untuk percakapan harian, internet tetap lebih praktis — sampai jaringannya bermasalah.
Sumber: Wikipedia — IP over Avian Carriers, BBC News (2009), BBC News (2010)
Komentar