Dua gejala ini sering muncul berbarengan dan langsung bikin panik: merpati muntah-muntah, kotorannya berwarna hijau pekat atau putih seperti kapur, dan temboloknya terlihat kembung. Karena datangnya cepat dan bisa menular ke satu kandang, banyak lofter yang buru-buru memberi obat campuran tanpa tahu akar masalahnya. Padahal muntah dan berak hijau bukan penyakit tersendiri, melainkan tanda gangguan pencernaan yang perlu ditangani berurutan.
Artikel ini merangkum cara membaca gejala, memahami apa yang terjadi di dalam tembolok, sampai langkah penanganan yang umum dipakai penghobi merpati di Indonesia.
Mengapa Kotoran Bisa Berwarna Hijau
Pada kondisi normal, pigmen empedu bernama bilirubin diubah tubuh menjadi zat berwarna cokelit kekuningan yang menentukan warna kotoran. Saat pencernaan terganggu dan makanan tidak sempat dicerna, yang tersisa hanyalah cairan empedu bercampur sisa pembuangan. Karena itu kotoran berubah jadi kental, encer, dan hijau pekat.
Warna putih seperti kapur yang menyertai biasanya menandakan adanya endapan garam atau sisa kalsium yang tidak terserap. Kombinasi hijau dan putih dalam satu kotoran menandakan gangguan sudah berjalan beberapa hari, bukan gangguan ringan sesaat.
Sour Crop: Tembolok yang Mengunci Diri
Saat makanan di dalam tembolok sudah terinfeksi bakteri, merpati secara otomatis memblokir keluar masuknya isi tembolok agar infeksi tidak berlanjut ke organ pencernaan berikutnya. Akibatnya makanan menumpuk, fermentasi, lalu memunculkan gas berbau hangat yang keluar dari paruh ketika tembolok ditekan. Kondisi inilah yang dikenal penghobi sebagai sour crop atau gassy crop.
Penting dipahami bahwa sour crop bukan penyakit utama, melainkan mekanisme pertahanan tubuh. Konsekuensinya, selama sour crop belum diatasi, obat yang diberikan ikut tertahan dan tidak bekerja. Karena itu pengurasan tembolok selalu menjadi langkah pertama, baru sesudahnya pengobatan diberikan.
Pola khas yang mudah dikenali: burung jadi mudah muntah hanya karena terkena cahaya atau gerakan, terlihat sangat haus lalu minum terus-menerus, kehilangan nafsu makan, dan temboloknya terasa penuh padahal burung tidak mau makan. Ada penghobi yang justru menyambut baik muntahnya, karena muntah membantu menguras isi tembolok yang terinfeksi.
Penyebab Utama
Gangguan ini ditandai sebagai infeksi bakteri, dan tiga hal berikut yang paling sering menjadi pemicunya:
- Kebersihan kandang yang buruk — sisa pakan basi, air minum keruh, dan lantai kandang lembap mempercepat pertumbuhan bakteri.
- Daya tahan tubuh merpati menurun — burung yang baru selesai lomba, baru pindah kandang, atau sedang mabung lebih rentan.
- Musim hujan — kelembapan tinggi membuat bakteri berkembang biak jauh lebih pesat, sehingga kasus berak hijau selalu melonjak pada awal musim hujan.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Tembolok terasa kembung berisi dan makanan tidak turun.
- Muntah-muntah, terutama setelah diberi pakan.
- Kotoran berwarna hijau pekat, encer, atau putih seperti kapur.
- Burung tampak lesu, tidak fit, dan sayap melorot.
- Banyak minum tapi nafsu makan hilang.
Bagaimana Menularnya
Penularan terjadi lewat jalur yang sangat sederhana, sehingga satu burung sakit bisa menjalar ke seluruh kandang dalam hitungan hari:
- Air liur dan muntahan burung sakit.
- Air minum yang terkontaminasi.
- Tempat pakan bersama.
- Kontak langsung antarburung.
Karena itu begitu ada satu burung menunjukkan gejala, segera pisahkan ke kandang karantina dan cuci bersih tempat pakan seluruh kandang. Untuk penanganan penyakit menular lain yang mirip gejalanya, bisa dilihat di artikel pengobatan uci-uci pada merpati.
Langkah Pengobatan
1. Kuras isi tembolok
Ini langkah wajib yang tidak boleh dilewati. Pengurasan bisa dilakukan dengan melolohkan air secara perlahan sampai tembolok kosong, atau dengan bantuan obat yang memicu muntah. Tujuannya satu: kosongkan tembolok agar infeksi berhenti menumpuk dan obat berikutnya bisa bekerja. Ulangi pengurasan jika setelah beberapa jam tembolok masih terasa penuh.
2. Puasakan, lalu beri multivitamin
Setelah tembolok dikuras, puasakan burung selama setengah hingga satu hari sesuai kondisi. Selama puasa, sediakan air minum yang sudah dicampur multivitamin agar burung tidak dehidrasi dan daya tahan tubuhnya terjaga. Burung yang masih segar biasanya cukup dengan vitamin saja, sedangkan burung yang sudah lemas perlu penanganan lebih intensif.
3. Pulihkan flora pencernaan
Setelah burung mau makan kembali, bantu pulihkan pencernaan dengan larutan probiotik atau suplemen pencernaan yang banyak dijual di toko pakan burung. Banyak penghobi memakai cairan probiotik hewani yang diberikan beberapa mililiter setiap hari untuk mempercepat pemulihan. Pantau apakah temboloknya sudah turun setelah makan; bila belum, ulangi langkah pengurasan.
Satu catatan penting: dosis dan jenis obat sebaiknya dikonsultasikan ke dokter hewan, terutama untuk burung yang dipakai lomba atau sedang dalam masa pemulihan. Pemberian obat sembarangan justru bisa memperberat kerja hati.
Pencegahan Lebih Mudah Daripada Mengobat
Karena pemicunya bertumpu pada kelembapan dan kebersihan, pencegahan jauh lebih murah daripada pengobatan. Keringkan kandang secara rutin, ganti air minum dua kali sehari, buang sisa pakan yang tidak habis dalam sehari, dan pastikan sirkulasi udara berjalan baik. Burung yang baru datang dari lomba atau dari kandang lain sebaiknya dikarantina dulu beberapa hari sebelum digabungkan.
Pemilik merpati balap juga perlu memperhatikan pakan dan kondisi fisik menjelang lomba, karena burung yang kelelahan lebih rentan terserang. Bahasan lengkapnya ada di panduan perawatan untuk mencegah penyakit.
Gejala muntah dan berak hijau memang menakutkan, tapi dengan penanganan berurutan — kuras tembolok, pulihkan pencernaan, jaga kebersihan — mayoritas burung bisa terselamatkan. Untuk membandingkan dengan penyakit pencernaan lain yang sering dianggap mirip, baca juga penyebab dan pengobatan muntah pada merpati serta cara mengatasi goham.
Komentar