Banyak pemula yang bingung harus mulai dari mana saat memelihara merpati. Padahal perawatan dan pelatihan merpati sebenarnya bisa diurutkan secara sistematis, mulai dari piyik sampai dewasa. Berikut panduan lengkapnya.
1. Tahap Piyik
Telur merpati biasanya menetas setelah dierami selama 18–20 hari. Jika sampai hari ke-22 belum menetas, induk biasanya meninggalkan telurnya dan mulai giring kembali. Piyik mulai belajar terbang saat usianya sekitar satu bulan. Pada usia 4–7 hari, piyik biasanya dipasangi ring dengan ukuran kaki yang disesuaikan.
Piyik tidak perlu diberi makan karena akan diloloh induknya. Namun sebagian pemain memilih meloloh dengan tangan sejak usia 7–10 hari, baik agar burung jinak maupun untuk meningkatkan produksi. Saat lar 7 sampai lar 5, bulu ekor piyik dicabut agar ketika dilatih ekornya sudah rapi. Untuk membedakan jenis kelamin piyik, belum ada patokan pasti; umumnya jantan berukuran lebih besar dan hasil paling optimal terlihat saat umur sekitar 3 minggu.
2. Tahap Remaja
Memasuki usia sekitar dua bulan, merpati remaja bisa diumbar, baik lepas, di kandang umbaran, maupun dengan jadwal tertentu seperti seminggu sekali. Merpati remaja biasanya diumbar bersama betina agar tidak diganggu pejantan dan cepat brancah. Porsi makannya perlu ditambah agar pertumbuhan maksimal.
Setelah jantan mulai belajar bekur, burung biasanya dipisahkan dan ditempatkan di gupon tersendiri agar cepat dewasa dan siap dijodohkan. Sebagian pemain membiarkan burung mencari jodohnya sendiri. Baca juga panduan lengkap cara menjodohkan merpati agar prosesnya lancar.
3. Tahap Muda: Masa Melatih
Tahap muda adalah masa melatih merpati menjadi player yang diinginkan, baik tinggian, kolong, tomprang, maupun balap. Latihan dilakukan bertahap dari jarak pendek, dan jangan menaikkan jarak jika fisik burung belum siap. Kesabaran adalah kuncinya.
Pada masa ini merpati biasanya diberi perawatan ekstra berupa jamu merpati. Jamu untuk player umumnya terbagi dua golongan: jamu giring atau lomba untuk meningkatkan stamina dan birahi, serta jamu istirahat untuk memulihkan stamina dan daya tahan tubuh.
Kesalahan fatal pemula adalah membiarkan merpati giring terus-menerus tanpa istirahat. Akibatnya burung rusak, giringnya jelek, dan kemampuan terbang menurun. Atur siklus giring dan bertelur dengan baik, serta pahami kapan merpati perlu istirahat.
4. Tahap Dewasa
Merpati yang sudah rampas dianggap dewasa. Setelah melewati masa tersebut, lar kembali berganti dan ada kalanya burung mabung. Pada kondisi mabung, burung harus diistirahatkan karena kondisi tubuhnya lebih lemah. Kenali proses mabung merpati agar perawatannya tepat.
Dengan memahami tahapan perawatan merpati dari piyik hingga dewasa ini, pemula pun bisa memelihara dan melatih burung dengan lebih percaya diri.
Komentar