Di kalangan penghobi, merpati lebih akrab dikenal sebagai burung peliharaan untuk lomba pos, balap, tinggian, maupun kolong. Namun ada satu babak sejarah yang jarang dibahas: dokumen rahasia CIA yang kini sudah dideklasifikasi menyebut bahwa merpati pernah dijadikan bagian dari operasi spionase Amerika Serikat pada era Perang Dingin.

Yang menarik, merpati bukan satu-satunya hewan yang "direkrut". Badan intelijen tersebut juga memakai burung gagak hingga lumba-lumba untuk tugas-tugas yang tidak mungkin dikerjakan manusia tanpa menarik perhatian. Berikut rangkuman ceritanya.

Lahir dari Keterbatasan Teknologi Perang Dingin

Perang Dingin berlangsung sejak 1947 hingga 1991. Pada masa-masa awal itu, perangkat mata-mata modern seperti drone belum ada. Militer dan badan intelijen pun mencari cara lain untuk mengintip kekuatan lawan, termasuk memanfaatkan hewan yang dinilai cerdas dan mudah dilatih.

Pilihan jatuh pada merpati dan gagak. Keduanya dianggap punya kecerdasan di atas rata-rata, mampu mengingat rute, dan yang paling penting: tidak menimbulkan kecurigaan saat berada di ruang publik.

Operasi Sandi Tacana dan Kamera Mini

Salah satu operasi yang terungkap dalam dokumen tersebut berlangsung pada dekade 1970-an. Operasi itu diberi nama Sandi Tacana, dengan tujuan mengeksplorasi penggunaan merpati yang dibekali kamera kecil untuk memotret lokasi-lokasi sensitif secara otomatis.

Cara kerjanya sederhana tetapi efektif. Merpati diterbangkan melintasi wilayah yang diduga menjadi tempat rahasia lawan, kamera di tubuhnya memotret secara berkala, lalu burung itu kembali pulang. Karena kemampuan homing-nya, merpati bisa dilepas di kawasan asing dan tetap menemukan jalan pulang ke kandangnya sendiri.

Kemampuan inilah yang membuat merpati istimewa. Ulasan soal itu bisa dibaca di artikel mengapa merpati tidak terbang lurus pulang, sementara contoh nyata ketangguhan merpati pos antar pulau pernah kami bahas dalam kisah 1.300 merpati pos dilepas dari Buleleng, Bali.

Gagak dengan Sinar Laser, Lumba-lumba di Bawah Air

Burung gagak mendapat tugas berbeda. Alih-alih memotret, gagak dilatih memasang alat penyadap di jendela atau kusen pintu. Agen mengarahkan burung ke titik sasaran menggunakan sorotan laser, sehingga pemasangan berlangsung dari jarak dekat tanpa suara dan tanpa memancing keributan.

Selain kedua burung itu, CIA juga melatih lumba-lumba untuk misi bawah air. Dokumen tersebut menyebut ketiga hewan dianggap mampu menjalankan tugas spionase pada operasi yang bersifat klandestin.

Koloni Burung sebagai Alarm Senjata Kimia

Metode lain yang tercatat lebih pasif, tetapi tetap kreatif. Badan intelijen memantau pergerakan koloni burung di langit untuk mendeteksi apakah Uni Soviet sedang melakukan uji senjata kimia. Perubahan perilaku satwa dianggap bisa menjadi indikator awal pencemaran di suatu kawasan.

Sayangnya, tidak semua isi dokumen dibuka ke publik. CIA hanya merilis penjelasan soal metode spionase memakai merpati, gagak, dan lumba-lumba. Hasil pengamatan rahasia mereka tidak pernah dipublikasikan.

Bukan Hanya CIA: Merpati Perang dari Inggris hingga Indonesia

CIA bukan satu-satunya badan intelijen yang memakai merpati. Intelijen Inggris sudah lebih dulu memanfaatkan merpati pos pada masa Perang Dunia untuk mengirim pesan melintasi garis musuh. Jejak panjang merpati pos sebagai kurir perang bisa ditelusuri dalam artikel sejarah burung merpati pos.

Indonesia pun punya kisahnya sendiri. Seorang prajurit merpati pos Tanah Air pernah menerima penghargaan luar biasa karena jasanya menyelamatkan banyak nyawa. Kisahnya kami rangkum di artikel burung merpati pos yang diberi penghargaan letnan anumerta.

Dari Mata-mata Menjadi Atlet

Hari ini peran merpati sudah berubah total. Tidak ada lagi kamera mini atau misi penyadapan, karena drone dan satelit mengambil alih hampir semua pekerjaan pengintaian. Merpati kini hidup sebagai atlet: berlomba menempuh jarak ratusan kilometer dan dinilai dari kecepatan pulang ke loft.

Bagi penghobi, sejarah ini setidaknya memberi satu pelajaran: yang membuat merpati bernilai bukan hanya postur atau warna bulunya, melainkan kemampuan navigasi dan insting pulang yang sudah teruji sejak ratusan tahun lalu. Fakta-fakta lain soal kecerdasan merpati bisa dibaca di 22 fakta burung merpati yang menakjubkan.

Jika sekarang hewan-hewan dilindungi dan tidak lagi dilibatkan dalam perang, cerita merpati mata-mata tetap layak dikenang sebagai bukti bahwa burung yang kita pelihara di halaman rumah pernah memainkan peran besar dalam sejarah dunia.

Sumber: burungnya.com (arsip draf MerpatiID).