Ada satu penyakit yang sering tertukar di kandang: cacing. Serangan parasit di saluran pencernaan memang tidak menunjukkan tanda yang mencolok pada awalnya, tapi begitu sudah kronis, burung bisa terlihat persis seperti terkena CRD atau tetelo. Akibatnya, banyak lofter yang memberi obat yang salah karena salah baca gejala.
Pengalaman seorang penghobi di Semarang jadi contoh nyata. Merpatinya terlihat tengleng, kepala menunduk terus saat berjalan, lalu dia langsung menduga tetelo dan mengungsikan burung itu. Gejala yang muncul berikutnya — tubuh makin kurus kering — justru tidak cocok dengan tetelo. Setelah diberi obat CRD, burung tidak kunjung pulih dan akhirnya mati. Pemeriksaan usai bedah pencernaan baru menunjukkan fakta sebenarnya: saluran cerna penuh cacing dengan berbagai jenis dan ukuran.
Kenapa cacing terlihat seperti CRD
Cacing menempel di dinding usus dan memanfaatkan sari makanan yang seharusnya masuk ke tubuh burung. Daya serap menurun, nutrisi tidak sampai, dan kondisi tubuh perlahan habis. Burung jadi kurus, stamina drop, dan daya tahan tubuhnya anjlok. Di titik itulah penyakit lain gampang masuk — termasuk CRD — sehingga sulit membedakan mana penyebab utama dan mana yang datang belakangan.
Artinya, dua kemungkinan bisa terjadi: burung memang sedang CRD dan kebetulan ususnya juga berisi cacing, atau burung sebenarnya menderita cacingan berat yang gejalanya menyerupai penyakit pernapasan. Yang pasti, cacingan yang dibiarkan sampai kronis bisa berujung kematian, sekalipun obat CRD sudah diberikan.
Gejala serangan cacing yang perlu diwaspadai
Yang sulit, gejala awalnya sering dianggap sepele. Beberapa tanda yang layak membuat Anda curiga:
- Tubuh makin kurus kering padahal nafsu makan masih ada, atau bahkan terlihat rakus tapi badan tetap tidak naik.
- Stamina drop: burung cepat lelah, latihan terasa dangkal, dan pemulihan setelah terbang lambat.
- Bulu mekar dan tampak tidak rapi, badan pucat, serta burung sering nyekukruk tanpa alasan jelas.
- Mata terus berair dan burung gelisah, khususnya kalau ada cacing yang bersarang di area mata.
- Tinja tidak wajar — bentuk, warna, atau konsistensinya berubah dari biasanya.
- Masalah muncul setelah masa meloloh piyikan. Induk yang sedang meloloh dan anakannya tergolong rentan, karena kebutuhan nutrisi besar sementara kondisi fisik tertekan.
Kebiasaan mengecek tinja secara rutin jadi cara paling sederhana untuk menangkap masalah ini sejak dini. Begitu ada kelainan, segera tangani sebelum burung sampai terlihat seperti sakit CRD.
Cara mengobati dan mencegahnya
Pilih obat cacing yang memang ditujukan untuk burung. Di pasaran banyak beredar obat cacing untuk ayam, untuk unggas lain, bahkan untuk manusia — dosisnya tidak bisa disamakan, karena berat badan merpati jauh berbeda dari ayam. Obat yang beredar untuk burung peliharaan umumnya mengandung piperazin citrate, zat yang bekerja melumpuhkan cacing sehingga cacing dikeluarkan dalam keadaan hidup lewat peristaltik usus. Bahan lain seperti higromisin B dan kumafos lebih lazim dipakai untuk kasus akut, dan sebaiknya hanya diberikan dengan anjuran dokter hewan karena sifatnya yang antibiotik.
Untuk pemberiannya, larutkan takaran obat ke dalam sekitar 50 ml air minum. Berikan saat burung tidak sedang dijemur — jemur dulu sebentar tanpa air minum, lalu letakkan larutan obat di tempat teduh. Karena telur cacing bisa masuk kapan saja bersama pakan atau air, pencegahan rutin sebulan sekali jauh lebih aman daripada menunggu gejala muncul.
Baca juga
Gejala burung yang tampak lesu punya banyak kemungkinan penyebab. Bedakan dulu sebelum mengobati, misalnya dengan membaca penyebab dan penanganan pilek (CRD) pada merpati, lalu cocokkan dengan penyakit uci-uci pada sayap merpati yang menyerang bagian luar tubuh. Untuk penanganan cacing itu sendiri, langkah lengkapnya ada di cara mengobati cacingan pada merpati.
Sumber: https://omkicau.com/2012/04/01/gejala-serangan-cacing-pada-burung-merpati-dan-kicauan-mirip-crd/
Komentar