Di dunia merpati pos balap Eropa (homing racing pigeon), seekor betina bernama Nadine pernah memecahkan rekor harga jual. Nadine berpindah tangan ke kolektor asal Tiongkok dengan nilai 400.000 Euro, atau sekitar Rp 6,7 miliar angka kurs kala itu. Angka tersebut menempatkan Nadine sebagai salah satu merpati balap termahal yang pernah tercatat dalam sejarah homing race.
Rekam jejak Nadine memang luar biasa. Burung betina ini menjuarai kompetisi merpati pos bergengsi di Eropa tiga kali berturut-turut. Puncaknya, Nadine dinobatkan sebagai 1e Nationale Asduif Grote Halve Fond Jaarlingen 2017, gelar nasional Belgia untuk merpati muda jarak menengah. Prestasi sekelas ini hanya diraih oleh burung-burung dengan insting navigasi dan daya tahan luar biasa.
Garisan Darah Keluarga Juara
Kemampuan Nadine tidak datang dari kebetulan. Kakak kandungnya, Sara, meraih gelar yang persis sama satu tahun lebih awal, yaitu 1e Nationale Asduif Grote Halve Fond Jaarlingen 2016. Keduanya lahir dari induk yang sama, sehingga kualitas galurannya tidak diragukan lagi. Dalam homing race, garis keturunan seperti ini menjadi salah satu faktor penentu harga karena pembeli mempertimbangkan potensi keturunan burung di masa depan, bukan hanya prestasinya sendiri.
Penangkar di Balik Nadine
Nadine diternakkan oleh Willy Daniels, peternak merpati pos asal Belgia yang dikenal spesialis menghasilkan burung balap berkualitas tinggi. Daniels memang fokus pada breeding homing pigeon, dan burung-burung hasil ternaknya selalu diburu penikmat balap dari berbagai negara. Xing Wei, kolektor merpati pos yang dikenal eksklusif, kemudian membeli Nadine seharga 400.000 Euro seperti dikutip dari Pigeon Paradise (PIPA) pada September 2017.
Nilai itu sebenarnya bukan yang tertinggi tunggal tanpa pembanding. Awal 2017, seekor merpati balap asal Belgia juga terjual dengan harga 360.000 Euro atau sekitar Rp 6 miliar. Burung itu dibeli seorang kolektor dari Afrika Selatan. Bursa lelang merpati pos memang menjadi tempat harga-harga fantastis seperti ini terbentuk, terutama lewat rumah lelang PIPA yang memfasilitasi transaksi antar kolektor dunia.
Alasan Nadine Dijual dan Pesan Terakhir Sang Penangkar
Seusai menjuarai kompetisi, Nadine justru dijual. Willy Daniels menyebut alasannya soal keamanan. Karena harganya sudah terlanjur diketahui publik, burung tersebut dinilai berisiko menjadi sasaran kejahatan jika tetap dipelihara di tempat yang sama.
Daniels juga berpesan kepada pembeli agar Nadine selalu dikurung di kandang dan tidak dilepas bebas. Peringatan ini bukan tanpa alasan. Sebagai merpati pos, Nadine memiliki insting homing yang kuat: jika dilepas, burung ini akan berusaha terbang kembali ke tempat kelahirannya. Insting pulang ke loft inilah yang menjadi inti olahraga homing racing, sekaligus yang membuat burung juara begitu bernilai.
Kisah Nadine menunjukkan bahwa merpati pos balap bukan sekadar hobi, melainkan investasi bernilai tinggi. Burung dengan prestasi dan garis keturunan teruji mampu berharga fantastis, seperti terlihat pula pada berita balap internasional lain di hasil balap Barcelona Jelle Jellema dan konsistensi Francis Vangeenberghe dengan galur Galouye. Bursa lelang seperti yang digelar Benny Steveninck di PIPA menjadi bukti betapa tingginya permintaan terhadap burung-burung kelas atas ini.
Sumber: burungnya.com
Komentar