Di kebanyakan budaya, merpati dikenal sebagai lambang kesetiaan. Gambar burung ini dipakai mengantar pesan penting, jadi ikon layanan pos, sampai muncul di undangan pernikahan. Tapi di sebagian wilayah Gorontalo, pandangan itu justru kebalikannya: merpati dianggap pembawa sial. Laporan Liputan6.com (10/9/2020) mencatat bahwa sebagian masyarakat Gorontalo memang mempercayai bahwa memelihara merpati bisa mendatangkan kesialan. Kepercayaan ini bukan cerita yang beredar di media sosial belakangan ini, melainkan sudah turun-temurun dan masih dipegang sebagian warga sampai sekarang.

Anggapan yang Bertahan dari Zaman ke Zaman

Di Gorontalo ada kepercayaan bahwa orang yang memelihara merpati akan menanggung petaka. Yang kaya dianggap bisa jatuh miskin, yang sehat berubah sakit-sakitan, sampai usaha yang lancar mendadak bangkrut. Selain itu, wabah penyakit juga diyakini ikut datang menghampiri rumah yang memelihara burung ini.

Catatan serupa sebenarnya mudah ditemui di berbagai daerah. Kalau membicarakan soal mitos seputar burung, ada anggapan bahwa mata kecubung menandai merpati galak, yang juga bertahan lama meski tak pernah dibuktikan. Dan bicara soal burung yang membawa pesan, sejarah merpati pos sejak tahun 776 SM justru menunjukkan betapa bergunanya burung ini bagi manusia selama ribuan tahun.

Kesaksian Seorang Tetua

Iwan Harnani Pakaya, warga yang dikenal sebagai tetua di desanya, menegaskan bahwa kepercayaan ini bukan sekadar mitos belaka. Bagi dia, ini sudah menjadi keyakinan sejak lama dan ia sendiri menceritakannya berasal dari eyang tua.

"Rumah kalau sudah memelihara Merpati pasti akan kena sial, dan ini bukan mitos, karena orang tua dulu sudah pernah mengalami," katanya.

Iwan juga menyebut bahwa orang yang punya usaha bisa bangkrut ketika memelihara merpati, dan harta akan melayang sambil pemiliknya jatuh sakit. Bahkan ternak peliharaan lain seperti ayam dan bebek diyakini ikut merasakan imbasnya.

Suara yang Menganggapnya Sekadar Mitos

Tidak semua warga Gorontalo memegang keyakinan yang sama. Andra Harun, pecinta satwa asal Gorontalo, memandang merpati sebagai burung jinak yang justru membantu melestarikan satwa. Menurutnya, kepercayaan sebagian orang di sana tidak lebih dari mitos belaka.

"Saya kira tidak masalah, Merpati mencari makan sendiri, hanya kandangnya berada di rumah kita. Selama ini biasa saja, kalau saya pribadi itu cuma mitos," kata Andra.

Ia menambahkan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan merpati bisa membawa sial, sehingga tidak ada alasan untuk takut memelihara burung ini.

Merpati Makin Banyak Dipelihara di Kota

Walau mitosnya terdengar menakutkan, kepercayaan itu mulai dilupakan seiring waktu. Banyak warga di kota yang kini memelihara merpati dan bahkan memperjualbelikannya. Bagi generasi sekarang, cerita merpati pembawa sial hanya dianggap kepercayaan orang zaman dulu.

Padahal kalau dilihat dari sisi manfaatnya, merpati justru termasuk burung yang banyak dimanfaatkan manusia. Rangkaian fakta tentang merpati menunjukkan kemampuan yang tidak main-main, mulai dari navigasi sampai daya tahan terbang. Di dunia hias pun pilihannya sangat banyak, misalnya aneka jenis merpati hias yang jadi favorit penghobi.

Menutup dengan Saling Menghormati

Sampai sekarang belum ada bukti ilmiah yang menjelaskan mengapa sebagian orang Gorontalo takut memelihara merpati. Kepercayaan semacam ini memang sulit dipatahkan dengan logika, karena melekat pada pengalaman dan tradisi keluarga.

Yang wajar dilakukan adalah saling menghormati. Bisa jadi ada kerabat atau tetangga yang merasa pernah mengalami kesialan setelah memelihara merpati, sehingga ia tetap memegang keyakinan itu. Sebaliknya, selama merpati dirawat dengan baik dan tidak menimbulkan masalah, tidak ada alasan untuk merasa takut.

Sumber: burungnya.com