Membuka usaha ternak merpati potong bisa jadi peluang yang menjanjikan bagi siapa pun yang sudah punya pengalaman merawat burung merpati. Permintaan dagingnya datang dari banyak arah: warung pecel lele, lapak penyetan di pinggir jalan, sampai rumah makan yang mengolah dara goreng. Warung-warung semacam itu butuh pasokan setiap hari, sehingga peternak kecil sekalipun punya pasar yang jelas.
Bandingkan sedikit dengan ayam potong. Daging merpati rasanya lebih gurih dan satu ekor bisa habis untuk satu porsi, sehingga cocok dijadikan lauk tunggal. Karena itulah sebagian penghobi kini memisahkan kandangnya: satu bagian untuk merpati balap atau kolongan, satu bagian lagi khusus penghasil daging.
Artikel ini merangkum 17 langkah ternak merpati potong, lengkap dengan kisaran modal dan analisa usahanya. Angka-angka di bagian analisa merupakan gambaran umum dari laporan Agrowindo, jadi perlakukan sebagai perkiraan awal, bukan jaminan. Harga bibit, pakan, dan tenaga kerja bisa berbeda tergantung wilayah dan waktu.
Memilih Bibit dan Indukan Merpati Potong
1. Utamakan indukan yang produktif
Indukan yang layak pilih adalah yang rajin bertelur, bukan sekadar besar badannya. Peternak pemula biasanya mulai dari merpati lokal karena harganya terjangkau dan mudah didapat. Namun perlu diketahui, bobot merpati lokal hanya berkisar 250–300 gram sehingga kurang efisien bila dituju sebagai penghasil daging. Burung lokal justru lebih cocok untuk jenis hobi lain, misalnya merpati gaburan atau balap terbang.
2. Kenali ras berbobot besar
Untuk hasil daging yang menjanjikan, arahkan pilihan ke ras bertubuh besar. Berikut kisaran bobot ras yang umum dipakai sebagai merpati pedaging:
- Giant Runt – 1.814 gram
- Carneau – 967 gram
- King – 850–1.000 gram
- Swiss Mondaine – 840–900 gram
- Jewel Mondaine – 794–907 gram
- French Mondaine – 780–900 gram
- Florentine – 500–800 gram
- Carneu – 660–740 gram
- Pomerian Crooper – 624–734 gram
- English Terrier – 570–660 gram
- Polish Lynx – 600 gram
- Lahore – 480–510 gram
- Modena – 350 gram
3. Ras King paling realistis untuk Indonesia
Dari daftar tersebut, ras King paling masuk akal untuk dibudidayakan di tanah air. Burungnya cukup mudah ditemukan, dan dada berdagingnya tebal sehingga karkasnya menguntungkan. King sendiri merupakan hasil persilangan Homer, Duchess, Maltese, dan Runt.
4. Beli pasangan yang sudah berjodoh
Saat membeli indukan, usahakan burungnya sudah sepasang dan akur. Dengan begitu Anda tidak perlu membuang waktu menjodohkan ulang, dan siklus produksi bisa berjalan lebih cepat. Langkah kecil ini berdampak langsung pada seberapa cepat modal kembali.
5. Tentukan skala awal
Untuk perhitungan modal di bawah, jumlah yang dipakai adalah 30 ekor atau setara 15 pasang. Jumlah ini dianggap pas agar sekaligus bisa dipakai belajar mengenal kebutuhan dan pengeluaran harian sebelum diperbesar.
Siklus Produksi dan Waktu Panen
6. Umur produktif indukan
Dengan pemeliharaan yang baik, sepasang merpati potong tetap produktif selama 3–4 tahun. Indukan unggul mampu menghasilkan 10–14 anak per tahun, dan bahkan ada yang mencapai 24 ekor dalam setahun.
7. Periode bertelur sampai panen
Satu periode, indukan hanya bertelur 2–3 butir. Telur diinkubasi selama 18–19 hari, lalu indukan betina merawat anaknya sekitar 2–3 minggu. Setelah itu ia mulai bertelur kembali dan perawatan anak diberikan pada indukan jantan. Anakan bisa dipanen pada usia 4 minggu.
Pada usia tersebut, anakan ras King berbobot 460–690 gram per ekor. Pedagang biasanya menjualnya dalam bentuk karkas beku dengan bobot 400–580 gram.
8. Kelas kualitas karkas
Berbentuk kualitas dibagi menurut bobot: kelas Super sekitar 580 gram per ekor, kelas I sekitar 470 gram, dan kelas II sekitar 400 gram.
Kandang dan Lokasinya
9. Ukuran kandang per pasang
Kandang bisa dibuat dari kawat, bambu, atau kayu dengan ukuran 60 × 40 × 50 cm untuk sepasang. Untuk 15 pasang, siapkan sekitar 15 kandang. Setiap unit wajib dilengkapi sarang bertelur serta tempat makan dan minum.
Panduan lebih rinci soal bentuk dan bahan kandang bisa dilihat di artikel Jenis Kandang Burung Merpati dan Kegunaannya.
10. Letakkan di tempat yang tenang
Hindari lokasi yang kena polusi, panas matahari langsung, dan guyuran hujan. Kandang sebaiknya diletakkan di tempat teduh, misalnya samping atau belakang rumah, atau di bawah pepohonan rimbun asal tetap berada di dalam area rumah agar aman dari predator. Pastikan juga area kering dan tidak lembap.
Pakan dan Nutrisi
11. Takaran pakan harian
Merpati potong dewasa rata-rata membutuhkan 75 gram pakan per hari, sedangkan yang masih muda sekitar 50 gram. Dalam skala 100 pasang indukan, persiapan pakannya sekitar 15 kg setiap hari. Air minum harus selalu tersedia tanpa batasan.
12. Jenis pakan
Pilihan pakannya bervariasi: pelet, biji-bijian, jagung, padi, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, jewawut, sorgum, dan cantel. Pelet mempercepat pertumbuhan dan membuat indukan kembali bertelur tiap 45 hari, sementara biji-bijian memperpanjang jadi menjadi 50 hari.
Untuk pakan biji-bijian, komposisi yang lazim dipakai adalah 50 persen jagung, 35 persen beras, 10 persen jewawut, dan 5 persen kacang-kacangan butiran pecah, ditambah grit terutama menjelang masa bertelur. Resep racikan pakan lebih lengkap ada di 6 Racikan Pakan Merpati Untuk Menambah Nafsu Makan.
13. Kebutuhan nutrisi
Merpati dewasa perlu sekitar 80 gram nutrisi per hari, sedangkan yang muda cukup 50 gram. Nutrisi bisa dipenuhi dengan menggabungkan pelet dan biji-bijian dalam proporsi 48 persen pelet, 50 persen butiran jagung, dan 2 persen tepung. Komposisi ini setara dengan 70 persen karbohidrat, 20 persen protein, 5 persen lemak, dan 5 persen serat.
Perawatan dan Pencegahan Penyakit
14. Jaga tiga hal pokok
Merawat merpati potong sebenarnya tidak rumit asalkan gizi terpenuhi, kesehatan terjaga, dan kandang selalu bersih. Waktu panen anakan muda juga harus tepat; terlalu cepat atau terlalu lambat bisa mengganggu kelancaran siklus produksi.
15. Antisipasi penyakit
Penyakit yang paling sering menyerang adalah pilek, cacar, dan cacingan. Pencegahannya sederhana: berikan vitamin, bersihkan kandang secara rutin, serta ganti pakan dan air minum secara berkala. Untuk daftar penyakit dan cara menanganinya, baca Macam-Macam Penyakit Merpati Berdasarkan Penyebab dan Cara Menanganinya.
16. Siapkan anggaran risiko
Selama proses ternak, masalah yang muncul biasanya datang dari penyakit, cuaca yang tidak bersahabat, gangguan hewan lain, stres, pencuri, serta harga yang naik turun. Sebagai calon peternak, Anda perlu mengantisipasi semuanya sejak awal dan tidak hanya menghitung untungnya saja.
17. Mulai dari skala kecil
Bila baru memulai, pakai modal sekecil mungkin agar risikonya juga terkendali. Kami menyarankan mulai dari 5–10 pasang terlebih dahulu. Dari skala kecil ini Anda bisa belajar mengenal kebutuhan dan pengeluaran nyata sebelum menambah populasi. Selama menjalankan usaha, terus lakukan penyesuaian sampai menemukan pola yang paling menguntungkan.
Untuk referensi pemilihan calon indukan, lihat Cara Seleksi Indukan Burung Merpati yang Bagus.
Analisa Usaha Ternak Merpati Potong
Perhitungan berikut disusun dari laporan Agrowindo dengan asumsi skala 30 ekor (15 pasang). Anggapannya masa pakai lahan dan peralatan dibagi selama beberapa tahun, misalnya sewa lahan dan pompa air dipakai 4 tahun, mesin pencabut bulu 7 tahun, hand sprayer 6 tahun, kandang 8 tahun, sedangkan selang, tempat makan, dan tempat minum 3 tahun.
Investasi awal
- Sewa lahan: Rp 6.000.000
- Pompa air: Rp 1.600.000
- Mesin pencabut bulu: Rp 500.000
- Mesin hand sprayer: Rp 560.000
- Kandang: Rp 2.500.000
- Terpal: Rp 280.000
- Sabit: Rp 90.000
- Selang: Rp 120.000
- Tempat makan: Rp 150.000
- Tempat minum: Rp 150.000
- Timba: Rp 50.000
- Peralatan tambahan: Rp 100.000
- Total investasi: Rp 12.100.000
Biaya tetap per bulan (penyusutan)
Dihitung dengan membagi nilai investasi ke masa pakainya, biaya tetap bulanan mencapai Rp 403.333. Rinciannya antara lain penyusutan sewa lahan Rp 200.000, pompa air Rp 53.333, mesin pencabut bulu Rp 16.667, hand sprayer Rp 18.667, kandang Rp 83.333, terpal Rp 9.333, serta pos-pos kecil seperti sabit, selang, tempat makan, tempat minum, timba, dan alat tambahan yang masing-masing di bawah Rp 10.000.
Biaya variabel per bulan
- Bibit: Rp 145.000 × 30 = Rp 4.350.000
- Pakan: Rp 125.000 × 30 = Rp 3.750.000
- Air: Rp 53.000 × 30 = Rp 1.590.000
- Vitamin: Rp 82.000 × 30 = Rp 2.460.000
- Suntikan: Rp 115.000 × 30 = Rp 3.450.000
- Listrik: Rp 60.000 × 30 = Rp 1.800.000
- Pekerja: Rp 150.000 × 30 = Rp 4.500.000
- Total biaya variabel: Rp 17.550.000
Menambahkan biaya tetap dan biaya variabel, total biaya operasional per bulan adalah Rp 17.953.333.
Pendapatan dan balik modal
Dengan penjualan rata-rata 40 ekor per hari seharga Rp 25.000, pendapatan harian mencapai Rp 1.000.000 atau sekitar Rp 30.000.000 per bulan. Setelah dikurangi seluruh biaya operasional, laba bulanannya sekitar Rp 12.046.667.
Membandingkan total investasi dengan laba tersebut, balik modal terjadi dalam kisaran 1 bulan. Angka ini terlihat sangat menarik, tapi tetap harus dibaca sebagai skenario ideal.
Penutup
Angka di atas hanyalah gambaran kasar karena seluruh harganya masih asumsi dan bisa berbeda jauh dengan kondisi hari ini. Yang jelas, ternak merpati potong punya prospek baik, apalagi bila Anda menambahkan sisi kuliner sehingga nilai tambahnya naik berkali lipat.
Mulailah dari skala kecil, catat setiap pengeluaran, lalu perbesar populasi setelah polanya jelas. Dengan begitu risiko bisa ditekan tanpa mengurangi peluang untungnya.
Sumber: burungnya.com (disadur dari Jitunews.com, 30 April 2015) dan analisa usaha Agrowindo.com
Komentar