Merpati termasuk burung yang cukup tangguh, tetapi bukan berarti bebas dari penyakit. Sakit pada merpati bisa muncul dari virus, bakteri, protozoa, cacing, sampai ektoparasit seperti kutu. Karena penyebabnya berbeda-beda, cara menanganinya pun tidak bisa diseragamkan. Memberi obat secara asal-asalan justru sering memperburuk keadaan, terutama kalau ternyata penyebabnya virus yang tidak mempan antibiotik.

Karena itu, langkah pertama saat merpati terlihat tidak fit bukanlah langsung menebak obat, melainkan mengenali gejala dan memperkirakan kelompok penyebabnya. Uraian berikut merangkum pengelompokan penyakit merpati berdasarkan penyebab, lalu membahas penyakit yang paling sering dijumpai di kandang penggemar.

Lima Kelompok Penyakit Merpati Berdasarkan Penyebab

Secara praktis, penyakit merpati bisa dikelompokkan menjadi lima kelompok besar:

  • Virus — Newcastle Disease (ND/tetelo), Pigeon Pox (patek), herpesvirus, adenovirus, circovirus, dan arbovirus.
  • Bakteri — paratyphoid (Salmonella), mycoplasmosis, chlamydiosis/ornithosis, E-Coli, streptococcus, serta infeksi jamur seperti aspergillosis dan candidiasis.
  • Protozoa — coccidiosis, trichomoniasis atau goham/canker, malaria, hexamitiasis, dan toxoplasmosis.
  • Cacing — cacing pita (tapeworm), cacing gelang (roundworm), dan cacing rambut (hairworm).
  • Ektoparasit — kutu (lice), mites, dan lalat merpati (pigeon fly).

Penyakit karena virus tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Antibiotik spektrum luas seperti Baytril atau amoxicillin hanya dipakai untuk menahan infeksi sekunder saat daya tahan tubuh burung sedang lemah. Kunci penanganannya adalah isolasi burung sakit, kandang tetap bersih, pakan berprotein cukup, dan vaksinasi sebagai pencegahan. Dua virus yang paling sering muncul di kandang adalah ND/paramyxovirus dan patek.

Untuk pembahasan yang lebih rinci per jenis penyakit, lihat juga artikel cara mengobati 10 jenis penyakit merpati.

Goham (Canker): Penyakit Paling Sering Dijumpai

Goham atau canker adalah penyakit yang paling akrab dengan penggemar merpati. Penyebabnya protozoa trichomonas, dan bentuknya mirip sariawan. Karena begitu umum, hampir setiap burung yang tampak kurang fit wajar dicurigai goham lebih dulu. Burung yang sedang stres — terutama setelah perjalanan jauh atau kelelahan — paling mudah terserang.

Goham bisa muncul di bagian tubuh mana pun, dari rongga mulut sampai dubur. Beberapa tanda yang paling sering terlihat:

  • Bercak kekuningan di dalam mulut. Kalau serangan sudah masuk organ dalam, bercak tidak terlihat, tetapi mulut burung berbau busuk — karena itu memeriksa dan mencium mulut burung yang kurang sehat tetap perlu.
  • Postur seperti penguin atau bebek, badan terangkat.
  • Kotoran mencret berwarna hijau, burung banyak minum.
  • Tembolok tidak turun, badan terasa berat, bulu kering dan kusam.

Penularan terjadi lewat kontak langsung, air liur, dan air minum bersama. Induk yang terinfeksi akan menularkan ke piyiknya saat meloloh, dan piyik bisa terkena goham di sekitar dubur karena lolohan yang berceceran di sarang. Karena itu burung sakit sebaiknya dipisahkan tempat makan dan minumnya, atau langsung diisolasi. Saat latihan bersama burung milik orang lain, jangan mencampur tempat minum.

Pengobatan goham memakai golongan nitroimidazole seperti metronidazole, carnidazole, ronidazole, atau dimetridazole. Metronidazole paling banyak dipakai karena efektif dan mudah didapat. Dosis acuan yang beredar adalah 50 mg per hari, dan sebagian penggemar memakai 75–100 mg karena ragu terhadap kekuatan obat di pasaran. Tablet 500 mg berarti satu tablet dibagi empat sampai enam bagian. Pemberian sebaiknya dilanjutkan 5–7 hari meski gejala sudah hilang, supaya tuntas dan tidak memicu resistensi. Burung yang baru didatangkan dari luar kota sebaiknya diberi dosis separuh selama tiga hari sebagai langkah pencegahan. Panduan pengobatan lebih lengkap ada di artikel cara pengobatan penyakit goham pada merpati.

Infeksi Saluran Pernapasan

Gangguan pernapasan biasanya muncul saat burung sedang aktif dimainkan atau setelah latihan berat. Gejala yang perlu dicurigai antara lain mata berair lalu belekan, keluar cairan dari hidung, cere (bagian putih di atas paruh) tampak lembab dan kotor, burung sering bersin dan menggaruk mata dengan kaki, napas berat, serta tonsil membengkak dan saluran napas menyempit bila mulut dibuka.

Penyebabnya bisa berasal dari tiga arah: lingkungan (kandang lembab dan terlalu padat), manajemen (kualitas pakan, latihan berlebihan), dan agen penyakit (bakteri chlamydiosis, mycoplasma, haemophilus, E-Coli, spora jamur aspergillus, atau kutu yang masuk lubang hidung). Penularan berlangsung lewat kontak langsung, air minum, dan lendir yang terpercik saat bersin. Bakteri penyebab umumnya hanya bertahan satu sampai dua hari di luar tubuh burung, sehingga kandang yang rutin didisinfeksi cukup efektif memutus penularan.

Kalau penyebabnya bakteri, obat yang biasa dipakai adalah kombinasi doxycycline dan tylosin atau enrofloxacin (Baytril). Baytril diberikan tiga tetes dua kali sehari selama 5–7 hari dan bisa diperpanjang sampai 10 hari. Perlu dicatat, pemakaian intensif Baytril berpotensi menimbulkan resistensi dan mengganggu fertilitas, terutama pada betina. Untuk kasus yang lebih berat, sebagian praktisi memberi suntikan streptomycin atau terramycin setengah mililiter. Pembahasan khusus snot dan ngorok ada di artikel mengobati merpati hidung berair, ngorok, atau snot.

Paratyphoid: Salmonella yang Perlu Diwaspadai

Paratyphoid disebabkan Salmonella Typhimurium dan dianggap lebih berbahaya daripada goham maupun infeksi pernapasan. Piyik yang terserang bisa mati mendadak. Bakterinya mampu bertahan lama di luar tubuh burung, sehingga sterilisasi kandang menjadi pekerjaan yang tidak boleh diabaikan. Burung baru dari luar juga berisiko membawa bakteri ini masuk.

Serangan paratyphoid bisa menyerang beberapa bagian tubuh sekaligus:

  • Saluran pencernaan — burung tidak mau makan, badan terasa ringan, kotoran mencret hijau dan kadang berbusa, bulu leher berdiri.
  • Saraf otak — burung tidak bisa berdiri tegak karena leher seperti lumpuh. Bedanya dengan ND, kepala tidak berputar dan burung tidak berjalan berputar-putar.
  • Persendian — bengkak pada sendi sayap, pergelangan kaki, atau lutut.
  • Organ dalam dan reproduksi — kematian mendadak tanpa gejala, burung menjadi mandul, atau telur menetas menjadi piyik cacat.

Pencegahan paling menentukan adalah kebersihan kandang. Salmonella tumbuh subur di lingkungan lembab dan bersifat basa, jadi disinfektan berbahan alkaline justru kurang tepat. Kandang sebaiknya dicuci dengan disinfektan mengandung chlorine, dan sesekali dibilas air asam — misalnya satu liter air dicampur satu sendok makan cuka makan. Burung baru sebaiknya dikarantina dan diberi Baytril dosis separuh selama tiga hari sebelum dicampur. Memandikan burung dengan air campuran cuka dan garam juga membantu menjaga bulu sekaligus menekan kutu.

Kalau dalam satu kandang sudah ada sekitar tiga persen burung terinfeksi, pencegahan massal bisa dilakukan lewat air minum berisi Baytril satu mililiter per liter selama lima hari, lalu dilanjutkan probiotik tiga sampai lima hari. Untuk pengobatan, Baytril masih dianggap paling efektif dengan dosis tiga tetes dua kali sehari selama 7–10 hari, maksimal 14 hari. Amoxicillin menjadi alternatif yang lebih aman menjelang masa breeding karena tidak mengganggu fertilitas. Selama pengobatan, tambahkan vitamin B-Complex. Burung yang sudah parah — sendi bengkak atau leher tengleng — tidak disarankan dipakai sebagai racer maupun breeder karena berisiko menulari piyiknya.

Coccidiosis dan Colibacillosis

Coccidiosis adalah infeksi saluran pencernaan oleh protozoa Eimeria columbanum dan Eimeria labbeana. Protozoa ini merusak sel dinding usus. Kalau jumlahnya sedikit, burung tampak sehat; tetapi begitu stres atau daya tahan turun, populasinya meledak. Gejalanya kotoran encer hijau kecokelatan berbau menyengat, kadang disertai bercak darah, dan rongga mulut tampak pucat karena anemia. Penularan lewat kotoran yang mencemari pakan atau air minum, dengan lingkungan lembab dan hangat sekitar 28 derajat Celsius sebagai pemicu utama. Pengobatan memakai turunan sulfonamide seperti sulfaquinoxaline, sulfadimethoxine, atau sulfachlorpyrazine selama tiga hari, dengan dosis yang disesuaikan untuk merpati.

Colibacillosis disebabkan bakteri Escherichia Coli. Tidak semua strain berbahaya; masalah muncul saat strain patogen berkembang berlebihan. Gejalanya diare hijau-putih dengan warna putih menyebar (pada burung sehat warna putih mengelompok), pantat basah, kotoran berbau menyengat, burung kurus dan banyak minum. Kalau menyerang organ reproduksi, burung menjadi infertil, telur hitam atau bening, dan cangkang kadang lembek. E-Coli sering menyerang piyik umur 7–15 hari dan bisa menyebabkan kematian mendadak. Pencegahannya lebih diutamakan: kandang kering dan bersih, alat makan-minum dicuci dengan air bercampur cuka, probiotik dua kali seminggu, dan menghilangkan sumber stres seperti kandang terlalu padat atau latihan berlebihan.

Tumor dan Kutu

Tumor cukup sering ditemukan pada merpati, baik yang tumbuh di organ dalam maupun yang tampak dari luar. Tumor dibedakan menjadi jinak dan ganas. Penanganannya hanya lewat operasi, dan untuk tumor jinak operasi baru diperlukan bila keberadaannya mengganggu.

Kutu hampir selalu ada pada merpati, hanya jumlahnya berbeda-beda. Banyak penggemar mengabaikannya karena dianggap tidak mematikan, padahal dampaknya besar: bulu rusak, anemia, dan stres karena burung terganggu saat istirahat malam. Burung yang tidurnya tidak nyaman tentu sulit tampil optimal. Obat kutu berbahan permethrin termasuk yang dinilai efektif dan relatif aman. Hati-hati memakai insektisida rumah tangga karena bisa merusak bulu bahkan meracuni burung — sebaiknya uji dulu pada satu burung dan tunggu sekitar tiga jam sebelum dipakai ke burung utama. Pencegahan bisa dengan menyemprot kandang memakai insektisida aman, memandikan burung dengan air campuran cuka dan garam dua kali seminggu, atau memakai rebusan daun sirih. Cara memandikan yang benar diuraikan di artikel cara memandikan merpati agar bebas kutu.

Pola Pencegahan yang Berlaku Umum

Dari semua uraian di atas, benang merahnya sama: sebagian besar penyakit merpati muncul karena kandang lembab, kepadatan berlebih, pakan dan air minum yang tercemar, serta stres akibat latihan atau perjalanan. Menjaga kandang kering, rutin mendisinfeksi, memisahkan burung baru, dan memberi istirahat cukup jauh lebih murah daripada mengobati. Ketika musim hujan tiba, risiko infeksi saluran napas dan pencernaan meningkat, seperti dibahas di artikel penyakit langganan merpati di musim hujan.

Kalau gejala tidak membaik setelah pengobatan awal, atau muncul kematian beruntun dalam kandang, sebaiknya hentikan pemberian obat sendiri dan konsultasikan ke dokter hewan. Pemeriksaan laboratorium dapat memastikan penyebab sebenarnya sehingga pengobatan tidak lagi menebak-nebak.

Sumber: merpati.org